Bersaing di Era Digitalisasi

Portina akan Mendigitalisasi Beberapa Olahraga Tradisional

Hermansyah
Portina akan Mendigitalisasi Beberapa Olahraga Tradisional
Yahya Majid, selaku Kabid Organisasi Portina, saat menjelaskan beberapa olahraga tradisional yang akan didigitalisasi, seperti Hadang

Jakarta, HanTer - Di era digitalisasi yang kian marak, Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) mengaku akan mentransformasikan beberapa cabang olahraga tradisional ke format digital untuk terus dapat dimainkan semua kalangan, di manapun dengan gadget yang menjai medianya.

Hal tersebut diungkapkan Yahya Majid, selaku Kabid Organisasi Portina, di sela-sela rapat pleno virtual terkait evaluasi festival olahraga tradisional asli daerah tahun 2020 di Jakarta, Jumat (13/11/2020). "Di dalam program kerja Portina Nasional terdapat program e-Games. Jika program ini di setujui dan mendapatkan dukungan dari Kemenpora, kami akan bikin permainan tradisional secara e-sport," ungkap Yahya.

Ia juga mengatakan jika niatan Portina untuk mendigitalisasi beberapa olahraga tradisional itu, terlebih dulu akan disayembarakan ke seluruh Indonesia untuk mencari yang terbaik. Namun dirinya menargetkan setidaknya terdapat dua macam olahraga tradisional yang akan didigitalisasi.

"Yang nantinya akan didigitalisasi adalah Hadang dan satu lagi menunggu keputusan dari atas, namun olahraga tradisional Dayung Hantu dari Kelimantan Tengah bisa ditransformasikan ke digitalisasi," ungkapnya.

Portina terus mengkampanyekan agar olahraga tradisional Hadang bisa go internasional. Yahya Majid mengklaim jika pihaknya tengah menyiapkan aturan yang baku, baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris, untuk memperjelas aturan main olahraga tersebut, sehingga tidak kalah dengan olahraga impor seperti Kabadi dan lainnya.

"Kami ingat betul pesan dari pa Deputi III Kemenpora, bahwa olahraga tradisioal harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," tutur Yahya Majid.

Sejauh ini, Portina mengklaim sudah memiliki 27 pengprov dengan target 34 pengprov pada kuartal pertama di tahun 2021, sehingga terdapat tujuh daerah yang belum memiliki kepengurusan di provinsi, seperti di Kep. Riau, Bali, NTB, NTT, Kaltara, Maluku Utara dan Gorontalo.

Yahya juga menyebut, melalui rapat pleno tersebut terdapat dua dari tujuh daerah yang beringinan membentuk kepengurusan Portina di daerah. Dua daerah itu adalah Kep. Riau dan NTB.

Sementara itu, Asdiar Bachtiar, selaku Sekjen Portina mengatakan jika pihaknya terus mengkampanyekan agar masyarakat tetap melestarikan olahraga tradisional.

"Untuk olahraga tradisional itu sendiri sudah terdapat 11 jenis olahraga tradisional yang di bakukan, sehingga itu sudah sangat familiar di masyarakat, namun terdapat empat tambahan lagi untuk dibakukan kedepannya, seperti Ketapel, Panahan Tradisional, Sepak Raga dan Pencak Silat Tradisional" ucap Bachtiar.

"Akan tetapi kami terus berusaha menggali untuk menambah perbendaharaan jenis olahraga tradisional, karena di seluruh pelosok Nusantara banyak sekali jenis olahraga tradisional yang bertujuan untuk membangkitkan masyarakat terutama dikalangan milenial menyenangi olahraga tradisional ini," tambahnya.

Olahraga Tradisional Indonesia itu sendiri sejatinya memiliki festival yang digelar dalam kurun waktu tertentu, namun di masa pandemi ini, festival yang biasanya digelar di tengah lapangan besar, di masa pendemi Covid-19 ini beralih dengan hanya mengirimkan video olahraga tersebut.

Untuk tahun ini, tercatat 17 provinsi yang mengikuti festival secara virtual pada 9-10 November kemarin, di mana Dayung Hantu (Besei Kambe) olahraga tradisional asal Kalimantan Tengah  tampil sebagai yang terbaik.

Disusul Kejar Gunung (Mokone Oro Habley Sabley) dari Papua dan tempat ketiga diisi oleh Portina Jawa Tengah yang memainkan olahraga tradisional Umpak Bambu.