47th Asian Schools Football Championship 2019

Sesmenpora: Sukses Gelar ASFC 2019, Jadi Kebanggaan Kemenpora

Hermansyah
Sesmenpora: Sukses Gelar ASFC 2019, Jadi Kebanggaan Kemenpora
Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto (kanan) dan Bayu Rahadian

Balikpapan, HanTer - Kemenpora, melalui Deputi Pembudayaan Olahraga, sukses menggelar ajang 47th Asian Schools Football Championship (ASFC) 2019. Turnamen yang digelar di Stadion Batakan dari tanggal 17 hingga 23 November itu, secara resmi ditutup oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S. Dewa Broto.

Thailand tampil sebagai juara dalam ajang ini, setelah di final sukses membungkam Malaysia dengan skor 2-1. Sedangkan Indonesia selaku tuan rumah, harus puas berada diposisi ketiga setelah menundukkan Korea Selatan untuk kedua kalinya dalam ajang ini melalui drama adu pinalti dengan skor 5-3 (1-1), Sabtu (23/11/2019).

Pasca upacara penutupan yang dibarengi dengan pemberian trophy juara, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S. Dewa Broto mengatakan bahwa kesuksesan menggelar ajang ini menjadi sebuah kebanggan yang luar biasa dari sebuah garapan Kemenpora, terlebih para pemain U-18 Indonesia, merupakan para pemain masa depan yang akan mewakili Indonesia di pentas Internasional lainnya.

"Ini sebuah kebanggaan bagi kami di Kemenpora untuk mengadakan event tidak semata-mata di Jawa, tapi juga di luar Jawa. Terbukti, ajang ini berlangsung sukses, bahkan di laga semifinal stadion penuh, layaknya ini seakan-akan lebih dari sebuah bigmatch, untuk liga saja belum tentu sebesar ini, dan ini menjadi lebih dari sebuah bigmatch di liga 1," ucapnya.

"Ingat, adik-adik yang berlaga diajang ini adalah masadepan persepakbolaan kita. PSSI itu harusnya berterimakasih kepada Kemenpora, kepada PPLP, karena tanpa adanya PPLP, tidak akan muncul seperti Egy, Witan, Supriadi, Athtallah dan lainnya, bahkan beberapa pemain yang memperkuat tim ini pun sudah memperkuat tim di liga 1. Jadi poinnya adalah kami ingin bersinergis dengan baik terhadap PSSI, karena salahsatu key performance indicator (KPI) sukses tidaknya pa Menpora itu ya diantaranya sepakbola ini," tambahnya.

"Banyak hal yang bisa disinergikan antara kami dengan PSSI. Ada anekdot terhadap persepakbolaan kita, kalau sepakbola yang ada U-nya, kita menang, kita bagus, tapi lepas dari itu, kenapa sih kok ceritanya beda?. Hingga kini menjadi tanda tanya besar bagi Presiden. Apa yang terjadi?, kayaknya ada missing link antara pemain timnas sepakbola yang U dan yang non U," paparnya.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan jika dirinya jatuh cinta dengan Stadion Batakan. "Saya falling in love terhadap Stadion ini, banyak stadion di Indonesia sudah saya datangi, beberapa stadion di Eropa pun sudah saya datangi, seakan-akan saya datang kesini serasa datang ke Stadion yang di Eropa, modelnya indah tidak hanya di dalam, tanpa trek atletik seperti kita nonton di Stadion Emirates milik Arsenal, Camp Nou dan Santiago Bernabeu," ungkapnya.

Meski indah dan megahnya Stadion Batakan, ternyata masih menyimpan kekurangan, seperti akses jalan yang menuju dan meninggalkan stadion itu hanya satu. Gatot pun meyakini jika kedepannya pemerintah daerah dan pusat akan memikirkan kekurangan tersebut untuk penyempurnaan stadion yang indah ini.

"Nilai minus ini sebenarnya bisa dibalik menjadi nilai positif, karena kita tau jika Ibu Kota Republik tidak lama lagi tidak jauh dari sini, sehingga harapannya saat paket pembangunan dari Ibu Kota juga harus memperhatikan keberadaan stadion-stadion yang ada. Ibaratnya daripada membangun yang baru, kenapa tidak memanfaatkan yang ada saja. Saya yakin kekurangan yang ada ini akan diperhatikan oleh pemerintah pusat, karena terus teran Kalimantan Timur sedang banyak di lirik oleh bapak Joko Widodo," pungkasnya.