STOP POLITIK UANG KONGRES PSSI

Pilih Ketua PSSI dengan Hati Nurani

Eka
Pilih Ketua PSSI dengan Hati Nurani
Kongres PSSI 2016 (ilustrasi/ist)

Jakarta, HanTer - Save Our Soccer (SOS) selaku lembaga pemerhati sepakbola tanah air tak bisa memungkiri bahwa agenda kongres PSSI, khususnya dalam pemilihan ketua umum beserta kabinet baru di tubuh induk tertinggi sepakbola Indonesia, kerap tercium lobi-lobi 'kotor'.

Salah satunya dengan banyaknya praktik politik uang dalam pemilihan ketua umum PSSI yang baru. Tak ayal bila Akmal Marhali selaku koordinator SOS mengatakan bahwa kongres pemilihan PSSI menjadi sebuah ajang 'lebaran' bagi beberapa oknum voters atau pemilik suara untuk mengais dana 'siraman'.

"Sejak zaman Nurdin Halid sampai sekarang Kongres PSSI bak lebarannya para pemilik suara. Ada "Sodaqoh" yang datang tiba-tiba dengan jumlah besar. Wajar jika banyak yang berharap jika bisa Kongres digelar setiap bulan. Kenapa Ada uang kaget yang bisa digunakan untuk bersenang-senang," kata Akmal dalam akun Instagramnya, Kamis (31/10/2019).

Meski stigma negatif tentang Kongres PSSI sudah menjadi rahasia umum, setidaknya ia berharap pada edisi pemilihan Ketua Umum, wakil dan anggota Komite Eksekutif (Exco) tak ada lagi praktik kotor yang menodai. Sebab bila itu terulang, bukan tak mungkin, sepakbola Indonesia akan jalan ditempat.

"Para voters harus memilih berdasarkan hati nurani. Tolak praktik politik uang dalam pemilihan. Pilih Ketua Umum PSSI yang benar-benar ingin memajukan sepakbola Indonesia. Karena masa depan sepak bola Indonesia ada di tangan voters," ujar Akmal ketika di konfirmasi Harian Terbit.

"Mau tak mau atau kembali ke zaman batu, voters jadi penentu. Jangan sampai Kongres hanya jadikan pesta lebaran dengan menunggi shodaqoh para calon untuk kesenangan sementara," sambung dia.

Berbicara tentang pemajuan pelaksanaan Kongres Pemilihan PSSI, ia pun tak mempersoalkan hal tersebut. Sebelumnya kontradiktif terjadi ketika kongres yang sebelumnya di jadwalkan pada Januari 2020, di majukan menjadi 2 November 2019.

Sebab, dengan dimajukannya Kongres Pemilihan, berpotensi akan menghambat tatanan yang ada dalam misi dari setiap calon ketua umum. Pasalnya masih banyak program yang belum dirampungkan, seperti kompetisi yang dijadwalkan baru berakhir Desember mendatang.

Menurut Akmal, terpenting ialah adanya transparansi dari PSSI secara menyeluruh, bukan hanya kepada anggota pemilik suara, melainkan ke publik luas. "PSSI harus menegaskan kepada publik apakah kongres 2 November itu legitimate atau tidak agar semuanya clear!" tegasnya.

"Percepatan kongres harus disampaikan secara transparan dan terbuka agar semua bisa memahaminya secara utuh. Ekslusifisme di PSSI sudah tidak boleh lagi terjadi agar sepakbola Indonesia tidak menjadi duri dalam kegelapan tanpa adanya arahan," ia mengakhiri. 

#kongres   #pssi   #ketum   #ketua   #klb   #politikuang   #voters