AKLAMASI JABAT KETUA UMUM KOI 2019-2023

Tugas Berat Menanti Oktohari

Eka
Tugas Berat Menanti Oktohari
Raja Sapta Oktohari

Jakarta, HanTer - Raja Sapta Oktohari menang aklamasi dalam bursa pemilihan Ketua Umum Komite Olimpiade (KOI) periode 2019-2023. Ia akan memimpin KOI dalam empat tahun kedepan menggantikan peranan Erick Thohir yang telah habis masa jabatannya.

Kini tanggung jawab besar berada didalam pundak Oktohari. Sebab banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secepatnya bersama jajaran anggota, khususnya Komite Eksekutif (KE) KOI. Ya, segudang PR telah menanti di depan Okto, sapaan Oktohari. Baik dari aspek prestasi maupun organisasi.

Dari sisi prestasi, Okto dalam waktu dekat mendapat tantangan, yakni SEA Games ke-30 yang berlangsung di Manila, akhir November mendatang. Setahun berikutnya, ia dan anggota KE KOI di uji sukses prestasi dalam gelaran Olimpiade Tokyo pada 2020. Ini menjadi tonggak sebab itu merupakan gelaran akbar multi event empat tahunan sejagat.

Seiring berjalannya waktu, Oktohari, juga tertantang untuk mewujudkan misi dari kepengurusan sebelumnya dan juga pemerintah Republik Indonesia, yakni menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032. Namun guna merampungkan PR tersebut, pihaknya harus bersinergi lebih dulu dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

"Hari ini kami Raja Sapta Oktohari dan Pak Warih Sadono terpilih secara aklamasi dan dipercaya serta di amanahkan sebagai Ketua Umum dan juga wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia. Tentunya ini bukan tanggung jawab yang mudah karena setelah ini PR-PR sudah banyak menunggu," kata dia, di Jakarta, kemarin.

"Utamanya SEA Games 2019. Karena kita tahu waktu berjalan sangat cepat dan kami mengalami proses transisi dari pemerintahan yang sama-sama kita tahu 20 Oktober ada pelantikan presiden dan setelah itu baru diketahui siapa Menpora yang akan bekerjasama dengan kita. Ini sangat terkait dengan anggaran yang kita gunakan di SEA Games Manila akhir November nanti."

"Selanjutnya juga ada PR besar kita, yaitu Olimpiade Tokyo 2020. Dimana kita sudah sama-sama bersepakat dan bersemangat untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Proses ini harus kita kejar, kita raih dan kita perjuangkan di Olimpiade Tokyo 2020. Mengingat keputusannya akan di ambil pada tahun 2024."

"Jadi kita sedang mengejar kualifikasi untuk Olimpiade Tokyo. Nantinya saat Olimpiade Tokyo, kita akan berjuang untuk merebut sebanyak-banyaknya emas sekaligus merebut hati para peserta Olimpiade untuk bisa mempercayakan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032," papar Okto.

Yang tak kalah genting, ada sebuah tantangan besar dari KOI Periode sebelumnya pimpinan Erick Thohir. Dimana Okto diminta bersinergi dan berkomunikasi dengan pemerintah untuk merevisi Undang-Undang No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Khususnya dalam upaya penyatuan dua badan olahraga, yakni KONI dan KOI agar dilebur menjadi satu.

Akan tetapi Okto tidak bisa memutuskan hal tersebut dalam tempo singkat. Menurut dia, perlu ada komunikasi berkesinambungan dengan pengurus KOI periode sebelumnya. Terpenting bagi dia, bagaimana caranya agar kedepan tidak ada lagi perpecahan di cabang olahraga demi mengukir prestasi di level internasional.

"Kami akan berkoordinasi dengan pengurus KOI sebelumnya dan berkoordinasi dengan Komite Eksekutif yang akan terpilih dan kita akan duduk bersama untuk melihat semua permasalahan karena kita tahu ada beberapa permasalahan yang sedang dihadapi, mudah-mudahan kita temukan solusinya," jelas Okto.

"Kami sudah bersepakat ini hari adalah momentum yang sangat luar biasa, para cabor bersatu untuk mengamanahkan kepada kami dengan suara yang bulat. Kita tidak mau dipecah-pecah perjuangannya. Kita tidak mau melawan saudara sendiri, tetapi perjuangannya melawan negara-negara lain untuk mengibarkan Merah Putih di ajang internasional," pungkasnya.