Tidak Mendapat Perhatian dari Pemprov Kepri, SSB Batu Ampar Terancam Terlantar di Banten

Hermansyah
Tidak Mendapat Perhatian dari Pemprov Kepri, SSB Batu Ampar Terancam Terlantar di Banten
Zulkifli Adami kanan) Manajer SSB Bina Prestasi, Batu Ampar Batam dan pelatih Adiman

Jakarta, HanTer - Perjuangan anak-anak Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau menuju Seri Nasional Liga Berjenjang U-16 Piala Menpora 2019, ternyata tidak mendapat perhatian sama sekali dari Pemprov Kepri, di mana sebanyak 18 anak-anak usia muda ini terancam tak bisa kembali ke Batam, pasalnya ketiadaan uang lagi untuk membeli tiket Kapal Laut ataupun tiket pesawat.
 
Ya, Ironis sekali, para pejuang muda asal Provinsi Kepulauan Riau ini hanya bisa merenung di kamar yang disediakan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, hingga batas waktu checkout pada Jumat (6/9/2019) siang.
 
"Kami berterima kasih kepada Kemenpora RI yang masih memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menginap hingga Jumat besok, minimal masih ada akomodasi hingga Jumat," kata Zulkifli Adami, Manajer Tim SSB Bina Prestasi, Batu Ampar, Batam.
 
Meski sudah berusaha menghubungi pihak Pemprov Kepri melalui Kadispora, namun jawaban yang didapat sangat tidak menggembirakan tim yang menjadi juara Kepri di kelompok usia U-16 ini. "Mulai dari Walikota hingga Plt Gubernur sama sekali tak mempedulikan kami, alasannya tak ada surat resmi dari Kemenpora RI mengenai kegiatan yang kami ikuti ini," kata Zulkifli Adami menjelaskan.
 
Bersama dengan pelatih Adiman, pihak manajemen SSB telah berusaha mencari dukungan kepada sejumlah pihak, namun karena pihak Dispora tidak memberikan dukungan, semua upaya tersebut kandas.
 
Karena kehadiran di Seri Nasional wajib untuk diikuti, agar tahun 2020 Kepri bisa menggulir lagi Liga Berjenjang, maka menurut Zulkifli diambillah keputusan bersama orangtua pemain, setiap anak dikenai biaya Rp500 ribu. "Kami akhirnya iuran Rp500 ribu per-anak, sehingga akhirnya kami bisa membeli tiket kapal Pelni dan berangkat ke Tanjung Priok pada tanggal 28 Agustus 2019," jelasnya.
 
Sisa dari pembelian tiket tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan para pemain, mengingat Panitia Pelaksana Nasional baru mengizinkan timnya masuk penginapan pada Minggu (1/9/2019) siang.
 
"Bisa dibayangkan, dengan kondisi keuangan pas-pasan ini, anak-anak akhirnya banyak yang mendapat demam dan flu, serta kelelahan psikis. Sehingga ketika kompetisi bergulir, mereka tak mampu berbuat banyak," kata Zulkifli.
 
Dengan dana yang saat ini minus, Zulkifli mengakui tak punya pilihan lagi kecuali memohon kepedulian Pemprov Kepri untuk membawa kembali anak-anak tersebut pulang ke Batam. "Minimal untuk tiket kapal, kami semua ada 21 orang. Kalau Walikota, Pemprov dan Dispora tak juga peduli, mungkin kami akan mengemis di depan Kantor Menpora RI," katanya.