Tim Medis Penunjang Dibalik Sukses Prestasi Atlet

Eka
Tim Medis Penunjang Dibalik Sukses Prestasi Atlet
dr. Andi Kurniawan Sp.KO

Jakarta, HanTer - Setiap mata mungkin memandang kesuksesan atlet tak lepas berkat kerja keras atlet itu sendiri, baik saat mempersiapkan performa dalam pemusatan latihan maupun ketika bertanding di hari pelaksanaan. Memang, itu menjadi sebuah kunci utama bagi setiap atlet ketika perjuangannya membuahkan prestasi.

Jakarta, HanTer - Banyak faktor penyokong atau penunjang terhadap kesuksesan atlet dalam membuahkan prestasi, khususnya di pentas internasional. Salah satunya ialah tim medis. Peranannya mungkin banyak dilupakan dan tidak terlihat oleh masyarakat yang mengeluk-elukan atlet dambaan mereka ketika meraih prestasi.

Maka, tak bisa dipungkiri, keberadaan tim medis teramat penting bagi setiap kontingen maupun tim ketika seluruh atletnya tengah berjuang di pentas internasional. Salah satu contoh kesuksesan Asian Games XVIII/2018. 

Dalam kejuaraan multi event empat tahunan bergengsi tingkat Asia, Indonesia sebagai tuan rumah mencatatkan prestasi gemilang. Dimana kontingen Merah-Putih menorehkan sejarah baru dengan duduk di peringkat empat usai mendulang 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu. 

Kesuksesan para atlet pun sebenarnya tak lepas berkat jasa tim medis atau dokter, di luar pelatih maupun faktor penunjang lain. Mengapa? Dokter menjadi salah satu faktor penting penunjang berhasil atau tidaknya atlet dalam mendulang prestasi tertinggi. Sebab karena mereka-lah para atlet mampu bertanding dengan kekuatan penuh pada sebuah permainan.

Seperti halnya yang dilakukan Andi Kurniawan. Namanya mungkin masih asing ditelinga masyarakat, baik di olahraga maupun secara luas. Akan tetapi, dokter bergelar Spesialis Kedokteran Olahraga (Sp.KO) itu menjadi salah satu penentu kebijakan apakah seorang atlet bisa bermain atau tidak, terlebih dirinya sudah dilabeli International Fitness Professional Association dan juga merupakan anggota dari Exercise Immunology Association.

Sebab Andi maupun tim medis lain mengetahui karakteristik dari fisik atlet yang berada dalam penanganannya. Bila atlet tidak berada pada kebugaran sempurna atau dalam fase cedera, tentu restu untuk bertanding tidak akan datang, karena akan mempunyai resiko besar bagi atlet itu sendiri di masa depan. 

Andi memaparkan, peranan tim medis dalam sebuah tim terbilang krusial. Itu ia alami ketika dipercaya menjabat sebagai Manajer Cedera Olahraga di Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) pimpinan Achmad Soetjipto yang diberi mandat mendulang sukses Asian Games XVIII lalu.

Krusial dikarenakan harus terus melakukan berbagai cara agar setiap atlet mencapai tingkat kebugaran maksimal. Begitu pula dengan atlet yang cedera. Dimana tim medis Indonesia dituntut untuk dapat segera memulihkan agar bisa kembali tampil dengan kondisi yang sama. 

"Kebetulan saat itu saya sebagai manajer cedera olahraga. Artinya jabatan saya cukup berat. Karena kalau atlet cedera, bagaimana caranya mengembalikan agar dia bisa bermain lagi," kata Andi Kurniawan saat berbincang dengan Harian Terbit di Jakarta, kemarin.

Bukan hanya menangani cedera saja, tim medis tentu berpikir panjang bagaimana meningkatkan performa atlet itu sendiri. Khususnya dari segi fisik, seperti kekuatan otot maupun bagian lain agar atlet yang hendak bertanding bisa mengeluarkan kemampuan maksimal. 

Selepas pembubaran Satlak Prima pada akhir 2017, dirinya mulai konsen bertugas sebagai tim dokter Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI). Selain itu ia juga mengelola sebuah klinik kedokteran olahraga, Indonesia Sport Medicine Centre (ISMC) yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan.

Kendati begitu, niatan besarnya untuk membantu penanganan cedera maupun peningkatan performa atlet-atlet nasional tidak pudar. Bahkan Andi yang dipercaya menjabat sebagai Direktur Operasional pun dengan tangan terbuka menerima atlet-atlet yang ingin melakukan pemulihan cedera maupun meningkatkan performa.

Bahkan di tempat praktiknya, setiap atlet nasional yang berkunjung untuk melakukan pemulihan maupun menjaga kebugaran tidak akan dibebankan biaya alias gratis. Itu tak lepas karena sebuah bentuk komitmen darinya dan juga Erick Thohir selaku pemilik ISMC. 

"Ya kalau dia atlet nasional dan bertanding untuk Indonesia, kita gratiskan. Sebetulnya saat itu saya juga meminta izin kepada founder, yaitu Pak Erick (Thohir -red) dan kebetulan kan dia suka dan aktif di olahraga. Dia berpesan kalau untuk atlet ya harus ditolong. Pesan itu membuat kita mencoba untuk menolong atlet," ia menegaskan.