KUCURKAN ANGGARAN PELATNAS SEA GAMES 2019

Pemerintah Prioritaskan Cabor Unggulan

Eka
Pemerintah Prioritaskan Cabor Unggulan
Tim estafet putra dari cabang atletik sumbang perak di Asian Games 2018 (ilustrasi/ist)

Jakarta, HanTer - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan akan mengutamakan untuk mengucurkan anggaran pemusatan latihan nasional (Pelatnas) kepada cabang-cabang olahraga (cabor) prioritas jelang SEA Games ke-30 yang berlangsung di Filipina, November mendatang.

Dimana anggaran segera dicairkan kepada masing-masing cabor prioritas pada akhir Januari nanti. "Di akhir Januari anggaran sudah cair bagi cabang-cabang olahraga prioritas yang memang kita sudah ada kesepakatan melalui perjanjian kerjasama," kata Chandra Bakti selaku Plt Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, kemarin.

"Karena kita tidak bisa untuk mengakomodir semua cabor yang dipertandingkan di SEA Games (Filipina 2019 -red). Kan ada 56 cabang olahraga, 524 nomor pertandingan. Kalau memang tidak ada peluang medali, saya kira sayang. Lebih baik cabor-cabor tersebut mempersiapkan peningkatan tentang pembinaan atletnya," sambung dia.

Berbicara target, saat ini Kemenpora masih belum bisa memaparkan. Sebab butuh perhitungan atau kalkulasi dan komunikasi dengan seluruh cabang olahraga yang akan bertanding pada kejuaraan multi event dua tahunan tingkat Asia Tenggara itu. Namun, selepas pencairan anggaran, Kemenpora langsung 'buka warung' terhadap target dari cabor-cabor tersebut.

Chandra menambahkan kesuksesan Indonesia di Asian Games dengan menduduki peringkat pertama dibanding negara-negara di Asia Tenggara lain, bukan menjadi jaminan bahwa Merah Putih bisa memuncaki rangking perolehan medali. Sebab, nomor yang dipertandingkan dipastikan berbeda.

Terpenting baginya ialah bagaimana perolehan medali maupun rangking Indonesia di nomor sport olimpik(nomor-nomor yang dipertandingkan di Olimpiade) bisa lebih baik. Sebab nomor-nomor tersebut menjadi konsentrasi tinggi pemerintah guna menghadapi Olimpiade Tokyo 2020 serta mempertahankan kesuksesan Asian Games pada 2022. 

"Harapan kita ada perbaikan peringkat dan penambahan medali. Multi event SEA Games dan Asian Games kan beda, apalagi dengan Olimpik. Pada level SEA Games, nomor-nomor yang dipertandingkan banyak perbedaan. Kewenangan tuan rumah sangat besar menentukan nomor-nomor pertandingan yang menjadi unggulan mereka," tutur dia.

"Jadi tidak bisa jaminan (sukses di SEA Games -red) karena nomor pertandinganya beda. Oleh karena itu yang harus kita mulai bangun sekarang adalah sukses di Sport Olimpik. Karena ada syarat beberapa sport olimpik harus dipertandingkan di SEA Games. Nomor-nomor itu yang harus kita perkuat," ujar Chandra.

Sementara berbicara peta kekuatan, khususnya dengan mengedepankan atlet junior, Chandra seirama dengan apa yang disampaikan Menpora Imam Nahrawi. Dimana Indonesia akan menurunkan 60 persen junior. Sedangkan 40 persen diperkuat atlet elit atau senior.

Namun ia juga tak menutup kemungkinan bila cabor bersikeras untuk menurunkan mayoritas atlet elit. Terpenting, Kemenpora akan meminta garansi terkait keputusan cabor tersebut dengan prestasi berupa medali tertinggi. Tetapi bila jaminan itu tidak bisa disanggupi, maka Kemenpora tetap kepada kebijakannya dengan 60:40.

"Kita prioritas untuk melakukan pelatnas bagi cabor-cabor yang ikut Olimpiade. Dan kebijakannya 40 persen atlet elite, 60 persen junior. Katakanlah kalau satu cabor mengatakan 'tidak bisa', kita akan lihat dulu, atlet seniornya bakal dapat medali atau tidak. Kalau nggak ngapain. Kita kan bisa hitung siapa kompetitornya," tegasnya. 

Polemik Jakabaring Selesai
Kemudian, Chandra menuturkan, berbicara ihwal pelatnas maupun training camp (tc), seluruh cabang olahraga dipastikan bisa memakai sarana di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, yang sebelumnya sempat menutup area tersebut bagi siapapun setelah adanya tunggakan sebesar Rp1 miliar oleh KONI Sumatera Selatan.

"Kekurangan Rp1 miliar itu saya koordinasikan dengan Dispora Sumsel (Sumatera Selatan -red) untuk menanyakan kejadian itu (penyegelan JSC), karena Kadispora Sumsel itu juga sebagai Komisaris Utama di JSC (Akhmad Yusuf Wibowo -red)," kata Chandra.

Akan tetapi setelah menjalin komunikasi, Pemerintah Provinsi Sumsel sudah turun tangan sehingga ada suatu kesepakatan dibayar Rp1 Miliar. Hanya memang pembayaran itu sudah lewat batas penutupan anggaran, yaitu per 31 Desember 2018. Sehingga tentu dari pihak BPJSC ambil tindakan menutup itu. 

"Namun karena itu dibawah Pemprov, pihak Pemprov meminta BPJSC (Badan Pengelola Jakabaring Sport City -red) untuk tidak menutup dan akhirnya itu sudah dibuka lagi. Cuma satu hari kok. Pas muncul di media, Pemprov langsung mengambil langkah itu," jawabnya.

"Jadi persoalan penutupan Jakabaring tidak ada pengaruh untuk pelatnas kalau mereka (cabor-cabor -red) melakukan TC disana. Itu urusan BPJSC dengan KONI dan itu sudah selesai," ia mengakhiri.