• Rabu, 7 Desember 2022

Orang-orang Tawadhu

- Selasa, 23 Agustus 2022 | 20:49 WIB
Ilustrasi Sholat. Pixabay
Ilustrasi Sholat. Pixabay

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliaannya.” Yang demikian hanya dimiliki orang-orang yang tawadhu, rendah hati (bukan rendah diri).

Imam Syafi’i sosok yang tawadhu tak henti menuntut ilmu, selalu merasa kurang dalam mencari ilmu, belum cukup dengan ilmu yag dimiliki.

Orang tawadhu semakin tambah ilmunya semakin tambah pula amalan kebaikannya, kewaspadaannya, kehati-hatiannya dalam bertaqwa pada Allah.

Baca Juga: Ghirah Nyawanya Muslim

Semakin tambah usianya semakin berkurang ketamaan nafsunya, semakin bertambah hartanya semakin bertambah kedermawanananya dan keinginan membantu orang lain yang memerlukannya. Semakin tinggi kedudukaannya semakin bertambah kasih sayang terhadap orang yang dibawah kepemimpinannya, terhadap masyarakatnya.

Tawadhu atau rendah hati merupakan sifat nabi, rasul, sahabat nabi, dan orang-orang yang saleh. Rasulullah tidak suka dipuji dan disanjung secara berlebihan, bersabda:“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim).

Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara dua sifat yang tak terpuji yaitu sombong dan terlalu merendahkan diri sendiri. Sombong berarti menyanjung diri sendiri terlalu tinggi sedangkan merendahkan diri menempatkan dirinya terlalu rendah secara berlebihan.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumudin mengungkapkan Rasulullah adalah sosok yang tawadhu. Ketika mengendarai himar (keledai hewan pengangkut barang) hanya dengan melapakkan selembar kain.

Rasulullah suka menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memperbaiki sendiri sendalnya yang rusak, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Rasulullah ketika di rumah gemar mengerjakan sesuatu untuk keperluan keluarga.

Baca Juga: Tips Menuju Sukses dan Bahagia dari Rasulullah SAW

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Uwais Qarni Gendong Ibunya ke Mekah

Rabu, 7 Desember 2022 | 06:45 WIB

Hadiah Terindah bagi Orangtua

Selasa, 6 Desember 2022 | 06:11 WIB

Semua Diketahui Tiada yang Bisa Ditutupi

Senin, 5 Desember 2022 | 07:07 WIB

Menyikapi Bencana Alam

Minggu, 4 Desember 2022 | 06:23 WIB

Wara’ Sarana Mencapai Kenikmatan Beribadah

Sabtu, 3 Desember 2022 | 06:16 WIB

Percaya Diri

Jumat, 2 Desember 2022 | 06:15 WIB

Mengenal Diri Menurut Imam Al Ghazali

Sabtu, 26 November 2022 | 06:05 WIB

Berlumur Dosa

Selasa, 22 November 2022 | 06:39 WIB

Bersedih karena Dosa-dosa

Senin, 21 November 2022 | 06:51 WIB

Harta Kekayaan

Jumat, 18 November 2022 | 06:59 WIB

Mengobati Pujian dan Celaan

Rabu, 16 November 2022 | 07:31 WIB

Sesal Kemudian Tak Berguna

Rabu, 16 November 2022 | 06:23 WIB

Anak yang Berkualitas

Selasa, 15 November 2022 | 06:27 WIB

Ma’rifatullah

Senin, 7 November 2022 | 06:11 WIB

Niat dan Tata Cara Shalat Khusuf atau Shalat Gerhana

Sabtu, 5 November 2022 | 23:55 WIB

Kesedihan dan Kesenangan

Jumat, 28 Oktober 2022 | 23:10 WIB

Ibu adalah Madrasah

Rabu, 5 Oktober 2022 | 06:11 WIB
X