Ghirah Nyawanya Muslim

- Senin, 22 Agustus 2022 | 15:09 WIB
Doa Berserah Diri dan Pasrah pada Allah (Ilustrasi)
Doa Berserah Diri dan Pasrah pada Allah (Ilustrasi)

Seseorang yang tengah kasmaran biasanya perasaannya diliputi rasa cemburu. Ketika ada orang lain meski hanya ingin menyapanya muncullah rasa cemburu, apalagi kalau sampai orang tersebut melecehkannya pasti luapan marah yang muncul.

Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekadar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tak rela karena haknya direnggut dan ingin merebut kembali haknya.

Cemburu dalam beragama dinamakan Ghirah, kata Buya Hamka dalam bukunya “Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam (1983)”. Buya mengatakan ghirah adalah perasaan cemburunya orang beriman. Merupakan semangat dan sebagai nyawanya umat muslim.

Perasaan mencintai agamanya secara mendalam akan merasa terganggu ketika agamanya dilecehkan maka bangkitlah untuk melakukan pembelaan. Pelecehan terhadap agama bisa dipicu karena untuk kepetingan politik, bisnis, kedudukan, kekuasaan dan lainnya.

Baca Juga: Tips Menuju Sukses dan Bahagia dari Rasulullah SAW

Sayyidina Hamzah adalah paman Nabi, seorang pemberani dalam berbagai peperangan. Bagaimana ghirahnya sayyidina Hamzah ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah keponakannya itu dihina dan dilukai oleh Abu Jahal dedengkot kafirin Quraisy.

Paman Nabi ini langsung menemui Abu Jahal yang sedang berbincang dengan para pembesar Quraisy lainnya. Sayyidina Hamzah dengan beraninya menghampiri dan memukul dengan busur panah kemuka Abu Jahal hingga Abu Jahal terjatuh. "Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad. Aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya. "Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu jika kamu berani!" bentak Hamzah.

Pengikut Abu Jahal bermaksud membalas, namun dilarang oleh Abu Jahal,"Biarkanlah dia melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memakinya," kata Abu Jahal.

Sejak peristiwa itulah Abu Jahal dendam berusaha membalasnya untuk membunuh Rasulullah dan Sayyidina Hamzah. Dalam peperangan Uhud Sayyidina Hamzah gugur. Ketika peperangan usai dan pasukan Quraisy meninggalkan arena pertempuran maka Rasulullah bersama para sahabat memeriksa jasad para syuhada yang gugur dan luka-luka. Sejenak Rasulullah terdiam dan meneteskan air matanya menyaksikan pamannya gugur dalam keadaan jasadnya rusak karena tusukan pedang pasukan Quraisy.

Baca Juga: Menjaga Hati Agar Tenang

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Kunci Kesedihan

Senin, 30 Januari 2023 | 06:22 WIB

Syukuri Apa Yang Ada

Sabtu, 28 Januari 2023 | 06:26 WIB

Bicara dan Mendengar

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:07 WIB

Mempertontonkan Kemewahan

Senin, 23 Januari 2023 | 07:57 WIB

Benih Ketaatan Berbuah Ranum

Sabtu, 21 Januari 2023 | 08:01 WIB

Menghujat Perbuatan Tercela

Kamis, 19 Januari 2023 | 07:56 WIB

Kenaikan Perbuatan Mulia

Minggu, 15 Januari 2023 | 07:24 WIB

Takdir Menentukan

Sabtu, 14 Januari 2023 | 08:46 WIB

Azab Konsekuensi dari Pengingkaran

Sabtu, 14 Januari 2023 | 06:25 WIB

Pemuda yang Diharapkan

Jumat, 13 Januari 2023 | 08:13 WIB

Menuju Bahagia

Kamis, 12 Januari 2023 | 06:23 WIB

Bertaubat Bukan Hanya Menyesal

Selasa, 10 Januari 2023 | 11:40 WIB

Pergantian Tahun

Kamis, 5 Januari 2023 | 08:47 WIB

Menjadi Orang yang Disenangi

Rabu, 4 Januari 2023 | 08:36 WIB

Hidup Sia-sia

Selasa, 3 Januari 2023 | 07:28 WIB

Menzdalimi Diri Sendiri

Senin, 2 Januari 2023 | 06:23 WIB

Semua Bersandar PadaNya

Minggu, 1 Januari 2023 | 07:16 WIB

Alam Semesta Inspirasi Kehidupan Manusia

Rabu, 28 Desember 2022 | 13:38 WIB

Urung Berperang

Selasa, 27 Desember 2022 | 06:30 WIB

Memuliakan Ibu

Senin, 26 Desember 2022 | 06:25 WIB
X