• Rabu, 10 Agustus 2022

Bermaafan Jelang Ramadhan

- Kamis, 31 Maret 2022 | 06:15 WIB
Ilustrasi (pixabay)  (pixabay)
Ilustrasi (pixabay) (pixabay)

A


ADA semacam tradisi menyongsong bulan Ramadhan yakni bermaaf-maafan baik secara langsung maupun melalui media sosial dan lainnya. Meminta maaf dan memberi maaf adalah sifat orang betaqwa, sementara itu tujuan berpuasa agar kita juga menjadi orang bertaqwa.

Boleh jadi bermaaf-maafan menyongsong bulan Ramadhan untuk lebih menumbuhkan semangat melakukan ibadah puasa Ramadhan karena puasa Ramadhan adalah bulan pengampunan dosa.

Karenanya sebelum berpuasa kita mempersiapkan diri dengan pengetahuan tentang rukun dan syarat melakukan ibadah puasa Ramadhan, memiliki badan yang sehat, membersihkan hati, kalau barangkali lupa pernah bersalah dan belum meminta maaf atas kesalahan kita  kepada orang lain.

Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa pada orang-orang yang beriman dan taqwa, maka kita berusaha bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran: 133-134).

Rasulullah bersabda: “Siapa yang pernah mempunyai kezhaliman terhadap seseorang, baik terhadap kehormatannya atau apapun, maka minta halallah darinya hari ini! sebelum tidak ada emas dan perak, (yang ada adalah) jika dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai dengan kezhalimannya, jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambilkan dosa lawannya dan ditanggungkan kepadanya”. (HR Bukhari).

Memaafkan orang lain merupakan sifat orang yang bertaqwa. Siapapun yang pernah melakukan kesalahan atau menyakiti hati orang lain sangat mulia bila meminta maaf. 

Meminta maaf atau memafkan kesalahan orang lain ibadah yang mulia. Meskipun seorang yang didhalimi dibenarkan untuk membalas namun memaafkan jauh lebih baik.

Allah belum mengampuni dosa seeorang manakala orang tersebut masih memiliki dosa kesalaan dan belum minta maaf terhadap orang lain sementara orang lain  terebut belum memberikan maaf.

Halaman:

Editor: Yuli Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menjaga Hati Agar Tenang

Minggu, 7 Agustus 2022 | 06:33 WIB

Pemalas dan Suka Mengeluh

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 06:35 WIB

Menjaga Hati

Rabu, 3 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Untuk Mencapai Harapan

Senin, 1 Agustus 2022 | 06:33 WIB

Lisan Bisa Berguna Bisa Petaka

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:35 WIB

Semua Berzikir Pada-Nya

Jumat, 29 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bertanya pada Diri Sendiri

Selasa, 26 Juli 2022 | 06:32 WIB

Mendahulukan yang Kanan

Senin, 25 Juli 2022 | 07:11 WIB

Permata Hati yang Dirindukan

Minggu, 24 Juli 2022 | 06:33 WIB

Indahnya Memaafkan

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:33 WIB

Ketika Futur Menghinggapi

Jumat, 22 Juli 2022 | 06:59 WIB

Menyembelih Ego

Minggu, 17 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bermulut Besar

Sabtu, 16 Juli 2022 | 06:31 WIB

Pedulinya Muslim

Jumat, 15 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bacaan Paripurna Terjaga Keasliannya

Kamis, 14 Juli 2022 | 06:32 WIB

Menjaga Anak dalam Keluarga

Rabu, 13 Juli 2022 | 06:30 WIB

Belajar dari Semut

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:29 WIB
X