• Sabtu, 13 Agustus 2022

Menerima Kritik

- Rabu, 30 Maret 2022 | 06:04 WIB
Ilustrasi (pixabay)  (pixabay)
Ilustrasi (pixabay) (pixabay)

SESUAI kodratnya setiap manusia pasti memiliki kesalahan atau kekurangannya. Tapi tidak semua orang mau terbuka dengan ikhlas menerima kritikan meski kritik yang disampaikan itu benar adanya.

Seorang yang berakal sehat biasanya cenderung bersikap kritis. Melancarkan kritik tidak semaunya asal mengkritik melainkan telah memiliki dasar dan dalih yang akurat benar dengand demikian agar kritikannya tidak dzalim dan tidak ada yang merasa didzalimi.

Demikian pula seorang yang berakal sehat dan mukmin cenderung tawadhu’ rendah hati ketika dikritik atau dinasehati orang lain. Yakinlah saat orang lain mengritik berarti ia peduli bahkan sayang berharap agar orang yang dikritik senantiasa dalam kebaikan.

Bagi yang berpikiran jernih maka kritikan lebih menguntungkan daripada pujian karena dengan pujian orang bisa menjadi ujub sombong. Sedangkan orang yang sombong biasanya menganggap dirinya paling benar
Sejatinya kritik ibarat pedang, bisa berguna tapi juga bisa jadi malapetaka, tergantung menyikapinya.

Rasulullah bersabda: "Seorang Muslim adalah cermin bagi saudaranya." Karena itu, adanya kritik seharusnya diterima dan disyukuri, karena dengan demikian dapat melihat kelemahan dirinya, dan selanjutnya memperbaikinya.

Kritik dipandangnya sebagai bukti kasih sayang seorang Muslim kepada sesamanya bukan berarti membencinya. “Barangsiapa yang tidak menyayangi (saudaranya), maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah)” (HR Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Rasulullah mengajarkan untuk menolong orang yang berbuat dholim atau menolong orang yang didholimi hendaklah mencegahnya atau menghalangi kedhloliman itu.

Bagi orang yang  menerima kritikan  yang diyakni kebenaranya  seharusnya  mensyukurinya dan berermakasih karena merasa  ada orang lain yang mengingatkan untuk dapat memperbaikinya karena tidak selamanya kita mengetahui kelemahan dan kesalahan yang kita lakukan.

Kita tak akan bisa melihat wajah kita sendiri, adakah tahi lalatnya, apa warna bercak di wajah kita tanpa bercermin,  tanpa ada perotolongan sarana lain seperti cermin.

Halaman:

Editor: Yuli Terbit

Artikel Terkait

Terkini

Rasulullah Penyayang Anak Kecil

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 06:11 WIB

Menjaga Hati Agar Tenang

Minggu, 7 Agustus 2022 | 06:33 WIB

Pemalas dan Suka Mengeluh

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 06:35 WIB

Menjaga Hati

Rabu, 3 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Untuk Mencapai Harapan

Senin, 1 Agustus 2022 | 06:33 WIB

Lisan Bisa Berguna Bisa Petaka

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:35 WIB

Semua Berzikir Pada-Nya

Jumat, 29 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bertanya pada Diri Sendiri

Selasa, 26 Juli 2022 | 06:32 WIB

Mendahulukan yang Kanan

Senin, 25 Juli 2022 | 07:11 WIB

Permata Hati yang Dirindukan

Minggu, 24 Juli 2022 | 06:33 WIB

Indahnya Memaafkan

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:33 WIB

Ketika Futur Menghinggapi

Jumat, 22 Juli 2022 | 06:59 WIB

Menyembelih Ego

Minggu, 17 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bermulut Besar

Sabtu, 16 Juli 2022 | 06:31 WIB

Pedulinya Muslim

Jumat, 15 Juli 2022 | 06:34 WIB

Bacaan Paripurna Terjaga Keasliannya

Kamis, 14 Juli 2022 | 06:32 WIB

Menjaga Anak dalam Keluarga

Rabu, 13 Juli 2022 | 06:30 WIB

Belajar dari Semut

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:29 WIB
X