Menepati Janji

- Jumat, 3 Maret 2023 | 10:05 WIB
Siapapun yang membuat janji maka sudah semestinya harus menepati.  (pixabay)
Siapapun yang membuat janji maka sudah semestinya harus menepati. (pixabay)

RASULULLAH selalu berpegang teguh pada janjinya. Suatu ketika Rasulullah telah berjanji kepada Abul Haitsam seorang sahabatnya akan memberikan seorang pelayan.

Pada saat yang ditetapkan datanglah Fatimah puteri beliau yang juga meminta seorang pelayan untuk membantu pekerjaan di rumahnya seraya memperlihatkan tangannya:”Cobalah, ini tanganku berbekas karena menggiling sendiri.“

Namun Rasulullah mengatakan pada puterinya bahwa telah berjanji kepada Abul Haitsam:”Bagaimana janjiku dengan Abul Haitsam”.  

Kemudian Rasulullah memberikan pelayan itu kepada Abul Haitsam bukan kepada puterinya sendiri meski puterinya sangat membutuhkan.

Baca Juga: Fans Lord Of The Rings Inginkan Karakter Misterius Ini di Middle-Earth

Rasulullah lebih mengutamakan kepada orang yang lebih dahulu diberinya janji meski Rasulullah melihat tangan puterinya memerah.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menyatakan, ketika Umar bin Abdul Aziz sudah mendekati ajalnya.

Ia berkata:”Puteriku itu sudah dipinang oleh seorang lelaki dari suku Quraisy. Antara aku dengan dia sudah ada percakapan yang serupa perjanjian. Maka demi Allah, aku tidak akan bertemu dengan Allah dengan membawa sepertiga dari sifat kemunafikan. Maka dari itu aku mempersaksikan kepadamu semua bahwa aku telah mengawinkan puteriku dengan orang Quraisy itu."

Baca Juga: Real Madrid 0 - 1 Barcelona, Blaugrana Selangkah Menuju Final

Imam Al Ghazali mengatakan barangsiapa yang benar-benar mengerti apa artinya janji seharusnyalah ia menepati janji, kecuali jika nyata-nyata ada uzur yang tidak dapat dihindari.

Jikalau ketika berjanji sudah menetapkan tidak akan menepati janji maka inilah yang termasuk dalam golongan sifat kemunafikan. 

Sebagaimana Rasulullah bersabda:”Ada tiga perkara, barangsiapa memiliki semua itu dalam dirinya maka ia adalah seorang munafik, sekalipun ia bersembahyang, berpuasa dan mengira bahwa ia seorang muslim yaitu jika berkata dusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Posisi Yoo Ah In di Serial Netflix Hellbound 2 Digantikan Kim Sung Cheol, Syuting Perdana Juni

Janji itu memang ringan diucapkan namun harus dipenuhi tidak disepelekan. Menepati janji suatu kepercayaan.

Tidak menjaga perjanjian berarti tidak menjaga keimanannya. Ingkar janji  termasuk tanda kemunafikan dan perbuatan tidak terpuji serta tanda rusaknya hati.

Halaman:

Editor: Yuli Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mewujudkan Kasih Sayang

Jumat, 31 Maret 2023 | 02:27 WIB

Wajibnya Seorang Muslim Mengajak Pada Kebaikan

Kamis, 30 Maret 2023 | 22:53 WIB

Perbuatan Baik Membentengi dari Kehidupan Jahat

Kamis, 30 Maret 2023 | 04:20 WIB

Menjadi Wanita Paling Bahagia

Kamis, 30 Maret 2023 | 03:09 WIB

Hati-Hati Dengan Pujian dan Celaan

Rabu, 29 Maret 2023 | 23:47 WIB

Orang Kikir Takut Miskin

Rabu, 29 Maret 2023 | 23:20 WIB

Hiduplah Sederhana

Rabu, 29 Maret 2023 | 17:35 WIB

Mulianya Rasulullah Terhadap Pembantu

Rabu, 29 Maret 2023 | 16:25 WIB

Pentingnya Iman dalam Islam

Rabu, 29 Maret 2023 | 03:30 WIB

Inspirasi dari Burung Untuk Bertawakal

Rabu, 29 Maret 2023 | 01:04 WIB

Hati-Hati Dengan Amanah

Selasa, 28 Maret 2023 | 23:51 WIB

Ketika Kegalauan Menghadang

Selasa, 28 Maret 2023 | 22:23 WIB

Berprasangka Buruk Disukai Setan

Selasa, 28 Maret 2023 | 15:35 WIB

Wajib Tahu! Sahur Tak Sekedar Makan Tengah Malam

Selasa, 28 Maret 2023 | 10:49 WIB
X