Terlalu Pagi Wacanakan Ada Potensi Penurunan Harga BBM Subsidi

Safari
Terlalu Pagi Wacanakan Ada Potensi Penurunan Harga BBM Subsidi
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria

Jakarta, HanTer— Pengamat kebijakan energy Sofyano Zakaria menyatakan, masih terlalu  pagi mewacanakan harga BBM subsidi berpotensi diturunkan jika harga minyak dunia tidak naik lagi.

“Bukankah lebih baik ketika harga minyak dunia “murah” maka selisih harga jual eceran BBM subsidi dengan harga minyak dunia dijadikan cadangan  buat antisipasi ketika harga minyak dunia melonjak tinggi lagi,” ujar Sofyano di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) ini meminta pejabat Kementerian ESDM jangan ramah bicara soal penurunan harga BBM subsidi karena ini berpotensi menimbulkan masalah baru jika tidak diwujudkan. Bahkan bisa jadi masalah besar jika harga minyak dunia merangkak terus, naik lagi.

Menurutnya, tidak ada yang bisa menjamin dan atau memprediksi naik turunnya harga minyak karena itu ketika harga minyak mentah sedang turun. Itulah sebabnya, seharusnya pejabat pemerintah tidak kesusu membuat statement dengan alasan apapun. Juga utk mengkoreksi turun harga BBM.

“Pernyataan akan turunnya harga BBM juga tidak secara otomatis akan membuat harga-harga komoditas lain menjadi turun atau menurunkan inflasi. Beda dengan ketika bicara akan menaikan harga BBM,” papar Sofyano.

Dia meminta, seharusnya pemerintah bijak untuk sementara waktu hingga benar benar harga minyak stabil, untuk tidak menurunkan harga BBM subsidi. Biarkan harga BBM subsidi seperti apa adanya dan selisihnya bisa dijadikan cadangan buat mengcover harga ketika harga minyak naik.

Pemeritah dalam hal ini, lanjut Sofyano,  harus belajar dari pengalaman masa lalu ketika harga minyak dunia turun pemerintah menurunkam harga solar subsidi sebesar Rp500/liter. Itupun setelah para pengamat bersuara agar penurunan harga tidak dilakukan seperti keinginan pemerintah yakni sebesar rp1000/liter.

“Dan terbukti penurunan harga tidak membuat biaya transportasi turun dan yang lebih jadi masalah lagi ternyata kemudian harga minyak dunia naik tajam dan membuat subsidi solar menjadi sangat membengkak dan untungnya subsidi solar dibebankan ke pertamina hal yang seharusnya sangat aneh karena badan usaha dibebankan mensubsidi rakyat bukannya ditanggung dalam APBN,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengatakan pemerintah sudah meminta badan usaha di bisnis penjualan BBM untuk segera merespon penurunan harga minyak dunia dengan menurunkan harga jualnya. Dikatakannya sudah ada komitmen badan usaha penyalur BBM non subsidi untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi. “Komitmen menurunkan harga mulai pekan depan. Paling lambat Januari‎ (2019),” kata Djoko di Pertamina Energy Forum di Jakarta, Kamis (29/11).