Jembatan Talagahiang Kini jadi Ladang Ekonomi Baru Warga

Arbi
Jembatan Talagahiang Kini jadi Ladang Ekonomi Baru Warga
Jembatan yang menghubungkan Desa Talagahiang dengan Desa Sipayung, Lebak, Banten. (ist)

Jakarta, HanTer - Jembatan yang menghubungkan Desa Talagahiang dengan Desa Sipayung dahulu meningkatkan aktivitas usaha masyarakat sekitar, khususnya di bidang agrobisnis. Berbagai macam usaha, mulai dari tempat wisata pemancingan hingga rumah makan dan restoran bermunculan di kawasan pinggir sungai. Begitu juga, tambak ikannya.

Semenjak banjir bandang yang melanda Lebak, Banten di awal Januari kemarin, seluruh aktivitas usaha itu terhenti. Baik tanaman maupun bangunan terangkat dari akar dan fondasinya. Ikan-ikan yang ditambatkan di sebuah kurungan bambu mati tertimbun pasir. Kini, sisa-sisa rangka jembatan teronggok bersama batu-batu kali.

Jembatan Talagahiang yang dahulunya kokoh kini berdiri rapuh. Perangkat desa dan warga yang mendiami dua desa bergotong royong membangun kembali jembatan itu dari bahan bambu dan kayu. Dari kemampuan sebelumnya dilintasi kendaraan roda empat, jembatan itu kini hanya mampu mengantarkan kendaraan roda dua. Beberapa kali bangunan darurat itu rubuh akibat banjir susulan.

Pada peletakan batu pertama pembangunan ulang Jembatan Talagahiang, warga desa kembali menaruh bibit ikan mas di rangkaian tambak bambu miliknya. Sekelompok warga tampak asyik mengurusi tambak ikan mereka tanpa menghiraukan kesibukan yang digelar oleh Inisiatif Zakat Indonesia dan MTXL Axiata tersebut.

“Dulu, sebelum 'tsunami', kami biasa memanen ikan hingga 15 kilogram, pak. Sayang kalau tidak diteruskan,” ujar Elan kepada kontributor IZI, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (7/10/2020).

Elan sendiri bukan warga asli Desa Talagahiang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. Ia merupakan pekerja PNS dari luar daerah yang ditugaskan di sana. Tambak ikan yang berjejer dua baris menengahi sungai itu merupakan gagasan yang dibuat dirinya. “Waktu ‘tsunami’ datang kemarin bikin ikan-ikan pada mati. Syukurnya, tambak ini tidak ikut hanyut. Jadi kami bisa memulai lagi pelihara ikan mas,” lanjut Elan.

Tanpa kehadiran Jembatan Talagahiang, arus sungai bergerak cepat. Elan kembali mengakhiri penjelasannya dengan harapan bahwa arus tersebut melambat oleh konstruksi baru jembatan. Saat banjir bandang Lebak pada Januari lalu memang membawa duka bagi warga sekitar. Tetapi setidaknya, setelah kehadiran bencana telah muncul kemudahan, yaitu berupa profesi baru untuk meraup pundi ekonomi di tengah dampak pandemi Covid-19.