Disebut Mampu Atasi Jebloknya Ekonomi Bangsa, Tapi Ada PR Yang Sulit Yang Harus Dihadapi Rizal Ramli

Alee
Disebut Mampu Atasi Jebloknya Ekonomi Bangsa, Tapi Ada PR Yang Sulit Yang Harus Dihadapi Rizal Ramli

Surabaya, HanTer - Peneliti senior Institut For Strategic And Development Studies (ISDS), menilai sosok Rizal Ramli (RR) paling cocok untuk mengatasi segala macam masalah yang berujung resesi pada bangsa ini.

Dan saat ini, lanjut dia, ekonom senior yang sukses mendampingi Presiden Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid ) itu, belakangan ramai dibicarakan ketika bangsa didera keterpurukan ekonomi.

"Kita sedang menuju ke jurang resesi terburuk. Pasca reformasi, inilah kondisi paling jeblok bagi Indonesia, bahkan dibanding negara-negara se-ASEAN. Semua pandangan mata, kini, tertuju pada sosok ekonom senior Rizal Ramli, karena ialah yang dinilai paling berani melawan oligarki,” kata Aminudin seperti dilansir duta.co, Sabtu (22/8/2020).

Menurut pengurus pusat Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini, krisis kali ini sungguh mengerikan. Ini jauh lebih berat dibanding ketika bangsa ini menghadapi krisis moneter tahun 97/98 lalu. Di mana saat krisis finansial global melanda dunia itu, Indonesia masih sanggup tumbuh 2,4 persen. Lalu secara keseluruhan, sepanjang tahun, ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6,1 persen.

“Hari ini, terjun bebas. Bayangkan, konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi 57,85 persen dari PDB, tumbuh minus 5,51 persen. Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) atau indikator investasi yang menyumbang 30,61 persen dari PDB, juga minus 8,61 persen. Ekspor yang memegang porsi 15,69 persen PDB, tumbuh minus 11,66 persen. Impor dengan porsi 15,52 persen tumbuh minus 16,96 persen. Betul-betul nyungsep,” tegasnya.

Cukup? Belum. Konsumsi pemerintah, tegasnya, dengan porsi 8,67 persen dari PDB tumbuh minus 6,9 persen. Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) dengan porsi 1,36 persen tumbuh minus 7,76 persen. “Ini indikator resesi yang berdampak luas pada meluasnya pengangguran dan kemiskinan. Pada gilirannya meningkatkan kerawanan sosial seperti kriminalitas,” tambah Aminudin.

Dia Harus Presiden

Melihat ‘dalamnya kubangan’ krisis, mungkinkah mampu seorang Rizal Ramli mengembalikan Indonesia ke posisi semula? “Itu pertanyaannya. Bisakah saat ini RR mengobati semua itu? Bisakah RR bergabung dengan rezim Jokowi, lalu menorehkan prestasi lagi waktu seperti era Gus Dur? Ini juga menjadi pertanyaan kami,” tegasnya.

Menurut Aminudin, ada pekerjaan rumah (PR) yang sulit bagi RR. “Rasanya sulit dibayangkan RR yang sukses tangani ekonomi era Gus Dur bisa sukses berjalan sekarang. Mengapa? Karena era Gus Dur tak banyak conflict of interest, sehingga RR berani tolak arahan Gus Dur jika dinilai mengganggu ekonomi. Dan, hebatnya lagi, Gus Dur legowo menyerahkan kepada ahlinya,” urainya.

“Tapi saat ini, Presiden Jokowi bukan Gus Dur. Jokowi banyak diketahui memiliki conflict of interest mulai dari kepentingan titipan para taipan, asing hingga kepentingan RRC. Bahkan menteri-menteri di kabinet ini, rumornya juga terkait setoran ke pusat kekuasaan. Dan RR bukan tipe teknokrat yang berorientasi pada setoran upeti untuk atasan,” terangnya.

Jadi? “Sebaiknya RR memang memegang tampuk kekuasaan. Menjadi presiden bukan sekedar menteri. Apalagi dia harus menghadapi oligarki,” pungkasnya.