Indonesia Seperti Menjelang Tahun 1965, Rizal Ramli: Ekonomi Saat Ini Lebih Parah dari Krisis 1998

Alee
Indonesia Seperti Menjelang Tahun 1965, Rizal Ramli: Ekonomi Saat Ini Lebih Parah dari Krisis 1998

Jakarta, HanTer - Ekonom senior, Rizal Ramli, menyebut kondisi Indonesia saat ini memprihatinkan. Dalam politik terjadi perpecahan yang makin lama makin keras, karena dipicu para buzzer yang terus membelah bangsa ini. Bahkan ada yang menggambarkan kondisi saat ini seperti menjelang tahun 1965 dimana konflik politik makin lama makin tajam.

Dari sisi ekonomi, kata mantan Menko Perekonomian ini, kondisinya parah, plus, plus, plus. “Kondisinya bisa lebih parah dari krisis ekonomi 1998,” ujar Rizal Ramli di Jakarta.

Menurutnya, yang sangat mengecewakan sistem otoriter saat ini semakin kelihatan. Padahal rakyat hidupnya makin susah. “Dulu kita berjuang supaya sistem otoriter diganti dengan sistem demokratis tapi belakangan makin kelihatan gejala dan indikasi otoriternya,” ujar Rizal Ramli.

Lebih Parah

Rizal Ramli mengemukakan, saat ini lebih parah ketimbang krisis yang terjadi pada 1998. Menurut dia, krisis saat ini yang diperparah dengan kondisi pandemi COVID-19 telah memukul banyak sektor. Namun, sebelum corona ekonomi Indonesia juga sudah memprihantinkan dan merosot.

“Rakyat yang menganggur semakin banyak, mencari kerja sulitnya luar biasa. Barusan saya didatangi 17 tokoh NU dari seluruh Indonesia, mereka menjelaskan di daerah-daerah untuk mendapat uang Rp15 ribu sangat sulit karena tidak ada kegiatan yang bisa mereka kerjakan. Mereka bilang tolong Pak Rizal bantu kami,” ujarnya.

Menurut mantan Menko Kemaritiman ini, melihat kondisi Indonesia ketika menghadapi krisis tidak sekuat seperti dulu. Salah satu indikatornya adalah soal nilai ekspor yang belum memuaskan.

"Dengan cara penanganan yang amatiran, dengan kelemahan kepemimpinan dan visi, bisa-bisa krisis ini akan lama lagi. Bisa satu setengah tahun. Saya yakin rakyat tidak siap," tutur Rizal.

Satu-satunya cara menyelamatkan ekonomi Indonesia saat ini, kata Rizal, dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Ia memberi contoh, saat dirinya menjabat, diminta Gus Dur untuk menaikkan gaji aparatur sipil negara, TNI- Polri, dan juga pensiunan.

"Begitu mereka ada uang, dia belanja semua. Akibatnya sektor retail hidup, ekonomi hidup," paparnya.