Gede Sandra: Sebelum Covid Ekonomi Indonesia Sudah Buruk

Safari
Gede Sandra: Sebelum Covid Ekonomi Indonesia Sudah Buruk

Jakarta, HanTer - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi  Q2 2020 keseluruhan bisa minus 5,1 persen dan posisi terbaiknya di kisaran minus 3,5 persen. 

Dalam rapat Banggar DPR belum lama ini, Mulyani mengatakan, pihaknya telah membuat skenario anjloknya pertumbuhan ekonomi kuartal II atau Q2 2020.  Dalam skenario itu, seluruh komponen pengeluaran yang menjadi tolak ukur pertumbuhan ekonomi tercatat minus dan kontraksi dobel digit pada ekspor-impor. 

Pengamat ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra mengemukakan, menjelang wabah covid-19, perekonomian Indonesia sudah buruk. Apalagi saat Covid! Maka akan makin jeblok. Buktinya Menkeu RI  sudah proyeksi pertumbuhan ekonomi ke depan akan minus  3,5%- minus 5,1%. 

“Defisit transaksi berjalan Indonesia merupakan yang terburuk di Asia Tenggara saat itu. Bunga yield surat utang juga yang tertinggi di kawasan, artinya biaya uang di Indonesia yang paling mahal. Makin maju negara, makin rendah bunganya, bukan makin tinggi.  Jangan terbolak-balik dong logikanya,” ujar Gede kepada Harian Terbit, Rabu (15/7/2020). 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, ekonomi Indonesia memang mengalami pelemahan sebagai dampak dari pandemi corona. Namun jika dilihat kondisi Indonesia ini lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain yang mengalami resesi. 

"Saya pikir kalau dibandingkan negara-negara lain," kata Luhut dalam Rapat Kerja di Badan Anggaran di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/6/2020). 

Luhut mengaku sudah berkali-kali berbicara tentang kondisi Indonesia di forum internasional seperti di World Bank. Dalam forum tersebut sebagai negara pasar berkembang (emerging market) Indonesia masih dianggap yang terbaik.