DIGITAL FINANCE :  Tren Generasi Z dalam Bertransaksi di Tengah Pandemi Covid-19

Anugrah
DIGITAL FINANCE :  Tren Generasi Z dalam Bertransaksi di Tengah Pandemi Covid-19
Dr. Ir. Sihono Dwi Waluyo, M.Si - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sahid Jakarta. Memberi sambutan skaligus membuka acara Webinar Digital Finance.

Jakarta, HanTer - Di tengah situasi penyebaran Covid-19 saat ini, Pemerintah menerapkan beberapa aturan pembatasan  yang berdampak pada penurunan aktivitas bisnis dan ekonomi. Semua aktivitas dilakukan di rumah atau stay at home (bekerja, belajar, belanja, bertransaksi dan beribadah di rumah), physical distancing dan sejumlah larangan-larangan lainnya.

Kegiatan bekerja, berbisnis, belajar dan lainnya masih bisa dilakukan dengan menggunakan jasa  teknologi digital tanpa harus keluar rumah untuk meminimalisir penularan virus Covid 19.

Saat ini generasi Z (milenial) sangat akrab dengan teknologi yang tentunya semakin menunjang berkembangnya ekonomi digital. Untuk mengedukasi generasi Z agar memahami layanan keuangan berbasis digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sahid Jakarta menyelenggarakan webinar series #1 tentang digital finance pada Selasa, 16 Juni 2020 Pukul: 09.00-11.30 WIB melalui  Zoom / Live Youtube Fakultas Ekonomi dan Bisnis Usahid, yang diikuti lebih dari 500 peserta. Webinar series #2 tentang digital marketing akan dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2020 mendatang mengambil tema peran digital marketing pada generasi Z pada pukul 09.00 – 11.30 WIB melalui Zoom / Live Youtube Fakultas Ekonomi dan Bisnis Usahid.

Para narasumber webinar digital finance ini adalah Dr. Heri Ispriyahadi, SE, MBA – Dosen FEB & Pascasarjana Usahid skaligus Praktisi keuangan dengan topik Fintech, layanan keuangan berbasis digital untuk GenZ di Tengah Pandemi Covid-19. Narasumber kedua, Ani Siska MY, SH, MM, MSM – Dosen FEB Usahid dengan topik Smart Money Management for GenZ. Moderator oleh Dr. Levyda, SE, MM - Dosen FEB Usahid. Webinar dibuka oleh Dekan FEB Usahid - Dr. Ir. Sihono Dwi Waluyo, MSi. 

Dalam paparannya, Dr. Heri Ispriyahadi, SE, MBA menyatakan bahwa Fintech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja (versi Bank Indonesia). 

Fintech adalah istilah yang digunakan untuk menyebut inovasi dalam bidang jasa keuangan atau finansial. Inovasi ini juga disebut dengan inovasi finansial yang diberi sentuhan teknologi modern. Hal ini menggambarkan bahwa di masa depan industri perbankan akan bergerak kearah virtual banking tanpa kehadiran bank secara fisik.

Potensi Fintech di Indonesia sangat besar karena dari 170 juta orang Indonesia yang menggunakan telepon seluler, sebanyak 130 juta sudah mengakses internet. Namun dari 130 juta tersebut, sebanyak 80 juta belum memiliki akses terhadap Bank konvensional dan Jasa Keuangan lainnya. 

Lebih lanjut Dr. Heri Ispriyahadi menambahkan bahwa salah satu manfaat FinTech di Tengah Pandemi Covid 19 bagi  Gen Z  adalah membantu Gen Z untuk menyimpan dananya ke dalam E- Walet  untuk memenuhi berbagai kebutuhan pembayaran transaksi dan menyelesaikan transaksi pembayaran secara praktis, cepat, aman dan nyaman yang memenuhi gaya hidup Gen Z karena berbasis digital, serta membantu bagi Gen Z yang melakukan bisnis e-commerce karena  payment gateway menghubungkan bisnis e-commerce dengan berbagai bank sehingga penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi dengan cepat dan mudah.

Ani Siska MY, SH, MM, MSM juga menekankan generazi Z yang lahir pada tahun 1996 hingga 2010, memiliki gaya pengelolaan keuangan yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Dari hasil penelitian yang pernah dirilis oleh Tirto tahun 2019 mengemukakan bahwa generasi milenial cenderung lebih boros, sulit menabung, dan tidak terlalu mempedulikan kebutuhan investasi hari depan.

Sehingga, Gen Z ditenggarai menghadapi risiko finansial yang lebih besar di masa mendatang akibat gaya pengelolaan keuangan Gen Z yang kurang sehat yang sering terjebak pada jebakan finansial. Gen Z tidak takut untuk menutup kebutuhan tersier walau ity membahayakan keuangan. Riset yang dirilis oleh Credit Karma pada tahun 2018 mengemukakan bahwa 39% anak muda rela berutang agar bisa mengikuti tren yang tengah berlangsung di komunitasnya. 

Untuk itu pentingnya penerapan konsep SMART bagi GenZ. Konsep ini pertama kali digunakan oleh George T. Doran pada tahun 1981 yaitu S - Specific, M - Measurable, A – Achievable, R – Realistic dan T -Timely. Jack Ma mengungkapkan bahwa Tahun 2030, 80% perdagangan dunia melalui E-Commerce dan teknologi semakin mengalami perkembangan,  tetapi Prof. Rhenald Kasali mengemukakan bahwa hal ini bisa lebih cepat, karena akan membuat manusia lebih kreatif. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya belanja melalui online di masa pandemic Covid-19 ini. 

Webinar ditutup dengan Foto Bersama Narasumber dan Peserta dalam satu frame. Semua peserta mendapatkan e-sertifikat dan Doorprize Free Pendaftaran Kuliah di Universitas Sahid.