BPJAMSOSTEK Raih Bronze Medal di Ajang ASRA

Arbi
BPJAMSOSTEK Raih Bronze Medal di Ajang ASRA
Evi Afiatin, Direktur Keuangan BPJAMSOSTEK. (Ist)

Jakarta, HanTer - BPJAMSOSTEK berhasil menyabet Bronze Medal dalam kategori Laporan Terbaik Sektor Publik pada kegiatan Asia Sustainability Reporting Awards (ASRA). ASRA sendiri merupakan sebuah ajang penghargaan bergengsi untuk pembuatan laporan keberlanjutan bagi lembaga dan perusahaan.

“Meskipun belum diwajibkan oleh regulator, dalam dua tahun terakhir ini kami membentuk tim yang berdedikasi untuk mempersiapkan laporan terintegrasi berkelanjutan dan mengikuti ajang penghargaan ASRA sebagai bagian dari proses feed back bagi kami”, ungkap Evi Afiatin, Direktur Keuangan BPJAMSOSTEK, dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Evi menuturkan, pada tahun 2019 lalu BPJAMSOSTEK hanya masuk sebagai finalis pada ajang ASRA ini. “Alhamdulillah tahun ini meraih Bronze Medal untuk kategori “Best Sustainability Report for Public Sector”. Hal Ini merupakan capaian yang membanggakan bagi kami dan buah manis kerja keras tim lintas direktorat”, jelas Evi.

Para pemenang merupakan hasil seleksi ketat sebanyak 461 laporan dari 16 negara se-Asia. Dari seluruh laporan yang telah masuk, kemudian diseleksi lebih lanjut menjadi 80 besar dari 13 negara yang memperebutkan total 19 kategori penghargaan.

Turut hadir, H.E. Niclas Kvarnström, Duta Besar Swedia untuk Singapura sebagai tamu kehormatan pada kegiatan yang seluruh rangkaiannya dilaksanakan secara virtual sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Kegiatan ini dihadiri juga oleh lebih dari 200 pemimpin perusahaan atau lembaga, pakar dan praktisi dibidang Sustainability Report, akademisi, kedutaan besar serta asosiasi pengusaha.

“Saat ini kami menaruh perhatian penuh terhadap pentingnya transparansi laporan sebuah lembaga karena sangat berpengaruh terhadap penyelesaian masalah-masalah global. Sebuah lembaga yang mampu bertanggung jawab terhadap penyelesaian permasalahan tersebut tentu akan menjadi contoh yang dianut oleh sekitarnya,” ungkap Niclas Kvarnstrom.

Rajesh Chhabara, Direktur Pengelola CSRWorks International dan penggagas ASRA mengatakan wabah Pandemi Covid-19 yang tak terduga sebelumnya telah mengingatkan kita bahwa bisnis, pemerintah dan masyarakat perlu untuk bekerja sama dalam menciptakan kondisi yang positif dan saling menguatkan. Kesadaran lingkungan, sosial dan pemerintahan menjadi dasar dalam menciptakan sebuah keberlanjutan yang baik pada tiap lembaga.

“ASRA sebagai ajang penghargaan bergengsi untuk Sustainability Reporting juga terus mengembangkan kualitas dan ciri khasnya dalam menggalakkan persaingan yang sehat antar kompetitor dalam meraih penghargaan ini. Diantaranya menggunakan sistem penjurian yang independen untuk menentukan para peraih Gold, Silver dan Bronze medal untuk laporan-laporan yang telah masuk,” katanya.

Selain itu para juri juga menggunakan sistem evaluasi yang ketat selama proses penilaian. Proses penilaian terbagi menjadi tiga putaran untuk menentukan siapa yang terbaik dalam setiap kategori. Untuk menilai kualitas laporan, para juri secara komprehensif juga melihat bagaimana reputasi lembaga diantara para pemangku kepentingannya.

“Kami mengadopsi framework Integraterd Report yang dikeluarkan IIRC dan framework yang dikeluarkan GRI (Global Reporting Initiatives).  Bagi kami pembuatan laporan ini merupakan sebuah perjalanan dari ketidaksempurnaan yang berproses untuk terus mengalami perbaikan.  Diawali dengan connecting the dots dari yang sudah ada, kami harapkan untuk laporan tahun 2020, merupakan satu kesatuan antara strategi institusi, rencana kerja dan kinerja keberlanjutan”, lanjut Evi

Evi menuturkan, BPJAMSOSTEK berkomitmen untuk mendukung pemerintah mencapai target pembagunan berkelanjutan (SDGs) melalui program kerja yang teringrasi sebagai bagian dari program kerja operasional institusi; antara lain berkontribusi pada pengurangan kemiskinan (reduced poverty), yaitu melindungi kurang lebih 41 juta pekerja dari risiko finansial melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan dan program return to work (RTW).

Program RTW membantu pekerja yang mengalami kecacatan karena kecelakaan kerja untuk dapat kembali bekerja. Sejak diluncurkan pada 2016 program ini telah diikuti oleh 880 peserta dimana 743 peserta telah berhasil dibantu untuk kembali bekerja.

“Kami juga mendukung kesehatan masyarakat yang berkualitas (good health & wellbeing) lewat program promotive dan preventive dengan anggaran yang terus kami tingkatkan dimana tahun 2020 ini kami alokasikan sekitar Rp20 miliar, serta mendukung pendidikan yang berkualitas (quality education) lewat program training vokasi untuk para karyawan ter-PHK dengan anggaran tahun 2020 sekitar Rp260 miliar”, pungkas Evi.