Gede Sandra: Resesi Datang, Kekuasaan Akan Sulit Bertahan

Alee
Gede Sandra: Resesi Datang, Kekuasaan Akan Sulit Bertahan
Gede Sandra

Jakarta, HanTer - Nilai tukar (kurs) rupiah terus melemah, Pada transaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi masih melemah di atas level Rp15.000 per dolar AS. Pada pukul 09.42 WIB, rupiah bergerak melemah 42 poin atau 0,28 persen menjadi Rp15.215 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.173 per dolar AS.

Menanggapi rupiah terus terpuruk, ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra berpendapat nilai rupiah terpuruk akan membuat harga-harga barang impor akan melambung, akan menggerus daya beli rakyat.

Selain itu, perusahaan yang menggantungkan jalan bisnisnya dari bahan baku atau barang, terpaksa harus impor. Juga akan bermasalah sehinga PHK massal akan semakin banyak.

“Indonesia bisa masuk ke dalam resesi yang sesungguhnya, dan belum ada satupun pemimpin Indonesia yang kekuasaannya dapat bertahan saat resesi datang,” ujar Gede kepada Harian Terbit, Rabu (18/3/2020),

Untuk menstabilkan rupiah, Gede setuju dengan pendapat ekonom senior Rizal Ramli agar rezim nilai tukar dipatok (pegged), kita tinggalkan. Kemudian menjadi rezim nilai tukar free floating seperti sekarang. 

“Mungkin baiknya di sekitar  Rp 15.500/USD, dan tidak perlu selamanya- paling lama 6 bulan-1 tahun ke depan. Hal ini penting demi mencegah kemungkinan inflasi besar pada saat nilai tukar anjlok terus hingga melewati Rp 16.000/USD, dan penyesalan selalu datang terlambat,” paparnya.

Jumawa

Sementara itu aktivis 77/78 Indro Tjahyono mengemukakan, tanpa adanya epidemi Covid 19, pertumbuhan ekonomi nasional dan global sudah mengalami declining. Untuk mencegah defisit ekonomi semakin parah Indonesia harus mematok pertumbuhan ekonomi pada tingkat tertentu. “Namun di tengah-tengah "resesi global" saat ini mustahil investasi dan ekspor sebagai pendongkrak pertumbuhan bisa digenjot,” ujarnya. 

Menurutnya, kalau ditanya sejauh mana epidemi dan pandemi Covid 19 akan berdampak pada ekonomi Indonesia, pasti sangatlah berat. Modal ekonomi dan keuangan akan melemah sejalan dengan pelemahan ekonomi global. Sementara modal sosial dan modal manusia yang menopang kekuasaan juga rapuh.

Indro mengemukakan, wabah Covid 19 bisa saja menimbulkan turbolensi kalau timbul panik sosial dalam menghadapinya. Apalagi jika dukungan politik untuk pemimpin nasional sangat lemah. 

“Namun pemerintahan yang selama ini terkesan jumawa bisa lolos dari ujian jika Jokowi mampu mengkonsolidasi modal sosial dan modal manusia entitas pendukungnya,” papar Indro.

#Resesi   #rupiah   #ekonomi   #corona   #covid-19