Jokowi Rayu Pengusaha Australia Berinvestasi ke RI

Ant
Jokowi Rayu Pengusaha Australia Berinvestasi ke RI
Presiden Jokowi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo mengajak para pengusaha di Australia untuk berinvestasi di Indonesia, terlebih karena pemerintah sedang menyusun omnibus law untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

"Saya berjanji untuk terus menciptakan iklim investasi yang lebih baik. Kali ini saya akan mencoba dengan memperkenalkan omnibus law. Ominibus law akan menyederhanakan banyak regulasi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif," kata Presiden Joko Widodo dalam forum "Indonesia-Australia Business Roundtable" di Canberra, Australia, dilansir dari Antara, Senin (10/2/2020).

Pertemuan itu menindaklanjuti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia atau "Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement" (IA-CEPA) yang telah diratifikasi DPR RI pada 6 Februari 2020.

"Ada 5 prioritas dalam periode pemerintahan kali ini yaitu pembangunan sumber daya manusia, keberlanjutan pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi dari yang tadinya hanya memproduksi bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi," ungkap Presiden.

Presiden juga memamerkan masifnya pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, bandara, pelabuhan dan pembangkit listrik yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. "Pembangunan infrastruktur ini berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai lebih dari 5 persen dalam lima tahun terakhir," ungkap Presiden.

Pembangunan infrastruktur itu juga menjadi modal jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi dan modal lainnya adalah pembangunan SDM. "Saya yakin dapat membangun kemitraan yang baik dengan Australia. Saya juga menyambut Monash University yang menjadi kampus pertama yang mendirikan universitas di luar negeri," ungkap Presiden.

Saat ini, menurut Presiden Jokowi, dunia penuh dengan ketidakpastian termasuk meningkatnya penerapan proteksionisme. "Proteksionis bisa saja membawa keuntungan jangka pendek tapi dalam jangka panjang tidak akan membantu pertumbuhan ekonomi global yang berkeadilan dan saya bersyukur Indonesia dan Australia sama-sama punya pandangan untuk membentuk ekonomi yang terbuka," tambah Presiden.