Kasus Jiwasraya, Opsi Pembentukan Holding BUMN Dinilai Lebih Efektif

Arbi/Ant
Kasus Jiwasraya, Opsi Pembentukan Holding BUMN Dinilai Lebih Efektif
ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai pembentukan holdingisasi BUMN asuransi Jiwasraya harus dapat meningkatkan daya saing BUMN-BUMN asuransi itu.

"Tujuan jangka panjang dari pembentukan holding tersebut adalah meningkatkan daya saing," kata Toto Pranoto dari Universitas Indonesia (UI) saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu.

Dengan demikian, lanjut Toto, BUMN asuransi bisa bersaing dengan para pemain asuransi global yang sudah eksis dan beroperasi di Indonesia. Selain itu pembentukan holding ini juga perlu dilihat dalam konteks penciptaan nilai atau value creation, di mana kalau ada BUMN-BUMN yang digabung dalam satu holding harus mampu menghasilkan nilai yang lebih baik dibandingkan ketika mereka berjalan secara masing-masing.

Hal senada disampaikan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Bhima menilai holding solusi paling efektif ketimbang opsi penyertan modal atau opsi jaminnan aset anak usaha jiwasraya, yaitu Jiwasraya Putra.

Sebelumnya, Kementerian BUMN memaparkan langkah-langkah untuk menyelamatkan Jiwasraya dalam rangka untuk mengungkapkan duduk perkara sesungguhnya dalam kasus di perusahaan asuransi pelat merah tersebut sekaligus menuntaskan pembayaran kepada nasabahnya.

Salah satu langkah penyelesaian adalah melakukan holdingisasi asuransi, sehingga diharapkan dengan adanya holdingisasi tersebut bisa membantu mendapatkan dukungan anggaran yang besar yang bisa dipakai untuk melakukan pembayaran terhadap nasabah Jiwasraya.

Rencana holdingisasi asuransi tersebut diharapkan pada kuartal pertama atau kedua juga telah selesai. Rencana holdingisasi ini juga bisa lebih cepat dari rencana-rencana lainnya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan rencana pembentukan holdingisasi untuk PT Asuransi Jiwasraya berpotensi akan menghasilkan dana segar atau cash flow sekitar Rp1,5 triliun sampai dengan Rp2 triliun bagi nasabah.

Selain itu, kata Erick. langkah berikutnya akan ada skema yang dibangun Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN. Skemanya masih dicari agar nasabah-nasabah Jiwasraya dari pensiunan bisa dibayarkan terlebih dahulu. (Arbi/Ant)