Impor Gas Industri Berisiko Tingkatkan Defisit Transaksi

Arbi/Ant
Impor Gas Industri Berisiko Tingkatkan Defisit Transaksi
ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebutkan dirinya akan menghindari opsi impor untuk menekan harga gas industri.

"DMO (domestic market obligation atau kewajiban pasok ke dalam negeri) itu penting, sebab bisa menghambat impor. Kalau impor gas, maka akan ada masalah lain yaitu current account. Jika defisit current account meningkat, maka dapat memengaruhi nilai tukar rupiah," katanya di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Untuk menurunkan harga gas industri, Menteri ESDM juga akan memetakan lokasi sumber-sumber gas di Indonesia dan membuat tata niaganya. "Sasaran kita sebenarnya justru biar bisa ekspor gas, namun pada tahap satu akan dikejar hasilnya pada Maret 2020," katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan bahwa ada negara di Timur Tengah yang menawarkan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri dengan harga 4 dolar AS per million british thermal unit  dan 0,5 dolar AS untuk ongkos pengiriman.

“Kalau, ini kalau ya, kalau opsi impor gas dibuka, ada negara yang sudah menawarkan kepada kami ke pelabuhan di Indonesia itu 4 dolar AS, let say ongkos kirimnya 0,5 dolar. Jadi 4,5 dolar AS yang harus dibayar. Saya belum bisa bilang, yang pasti Timur Tengah,” katanya.

Menperin menegaskan, apabila keran impor gas dibuka, gas yang akan diimpor tersebut hanya akan digunakan untuk kebutuhan industri nasional. “Jadi, kalau impor gas dibuka, mohon dicatat, itu bukan untuk kepentingan yang lain kecuali industri. Dan industrinya pun yang membutuhkan gas,” ungkap Agus.

Menurut politisi Partai Golongan Karya ini, industri akan semakin efisien dengan harga gas yang lebih murah, terlebih mencapai 4 dolar AS per MMBTU.

Dalam kesempatan berbeda, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai upaya menekan harga gas industri dengan impor adalah kesalahan besar. "Pilihan impor bagi saya adalah tidak, ini keliru jika untuk menekan harga gas," katanya.

Fahmy menegaskan Indonesia memiliki sumber daya alam gas yang melimpah, sehingga keliru jika sampai diambil opsi impor. "Secara pragmatis memang bisa saja dapat harga gas yang lebih murah dari impor, sehingga harga turun, tapi yang terjadi jangka panjang adalah dampak buruk," katanya.

Menurut dia, dampak buruk pertama adalah Indonesia akan menjadi ketergantungan impor gas karena harga murah, padahal sumber gas banyak. Kedua, Indonesia tidak akan bisa memiliki infrastruktur jaringan gas dalam jangka panjang. "Jangan kambing hitamkan harga gas untuk mahalnya barang sektor industri, belum tentu harga-harga yang lain jadi turun," katanya.

Sebelumnya, dilansir Antara, Presiden Joko Widodo mempertimbangkan tiga opsi untuk menuntaskan masalah harga gas industri yang tinggi, yaitu penghapusan porsi penerimaan pemerintah, DMO, dan impor gas.

#gas   #industri   #jokowi