Menhub Harus Memahami: Harga Avtur Mahal Akibat Kebijakan Pemerintah

Safari
Menhub Harus Memahami: Harga Avtur Mahal Akibat Kebijakan Pemerintah

Jakarta, HanTer - Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, harga jual avtur Pertamina lebih mahal 25persen dari harga jual avtur Singapura. Terkait hal ini,  Menhub tengah mencari cara menurunkan harga avtur yang berpengaruh pada mahalnya harga tiket pesawat udara.

 

Menanggapi hal ini, pengamat energi Sofyano Zakaria mengemukakan, pada dasarnya harga jual eceran avtur di Indonesia harus mengacu kepada Keputusan Menteri ESDM RI nomor 17K/10/MEM/2019 Tanggal 1 Februari 2019 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakat Minyak Umum Jenis Avtur  Yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara;

 

Menurut Direktur Puskepi ini, Badan Usaha apapun tanpa terkecuali BUMN Pertamina pasti menetapkan harga jual avtur mengacu kepada ketentuan yang ditetapkan Pemerintah yaitu KepMen ESDM Nomor 17K Tahun 2019 tersebut.

 

“Jika Pertamina menetapkan harga jual avtur diatas ketentuan tersebut sudah pasti Pertamina akan mendapat peringatan dari Pemerintah. Kalau disebut harga jual avtur Pertamina mahal, berarti menyatakan Kepmen ESDM tersebut yang bermasalah,” kata Sofyano.

 

Harga Berbeda

 

Sofyani mengatakan, komponen pada harga avtur di negeri ini juga sangat berbeda dengan Singapura.  Pada avtur Pertamina ada komponen PPN sebesar 10%, tak hanya itu, avtur yang dijual Pertamina masih dibebani PPh dan Iuran BPH Migas.

 

Sementara di Singapura tidak ada pajak dan pungutan-pungutan lainnya. Hal ini lah yang bisa membuat harga BBM apapun jadi lebih mahal. Namun demikian, kenyataannya dari posting price harga avtur, misalnya pada bulan September 2019 terbukti harga avtur Pertamina tidaklah mahal sebagaimana dipermasalahkan oleh Menhub.

 

“Bisnis avtur dinegeri ini selama ini dilayani oleh BUMN Pertamina, karenanya tidak tertutup kemungkinan ada pihak swasta yang mengincar bisnis ini apalagi ketika soal harga jual dipermasalahkan.

 

Hal ini, lanjut Sofyano, terindikasi dari adanya suara-suara yang mempermasalahkan soal harga avtur Pertamina yang selama ini sudah mengikuti Keputusan Menteri ESDM Nomor 17K Tahun 2019.

 

Pungutan-pungutan

 

Terkait harga avtur , untuk posting price avtur atau pun untuk jenis BBM umum lainnya seperti solar non subsidi industri marine, sangat biasa pada transaksi yang terjadi masih bisa ada diskon dan ini bisa tergantung hasil nego, volume, dan cara pembayaran.

 

“Jadi harga transaksi bisa lebih rendah dari harga posting tersebut. Namun untuk di Indonesia harga itu masih harus ditambah PPn, PPh dan iuran BPH Migas, sementara di luar negeri tidak ada biaya-biaya tersebut. Jadi pajak dan pungutan itulah yang sesungguhnya bikin harga avtur di negeri ini jadi mahal dan ini justru timbul akibat kebijakan pemerintah, bukan semata disebabkan oleh pebisnis avtur itu sendiri,” ujarnya.

 

Soal harga avtur, menurut Sofyano, juga sangat berpengaruh dengan volume pembelian dan lokasi bandara. Sebagai  contoh, kata dia, di Singapore penjualan avtur sehari mencapai 14.500 kiloliter dengan lokasi kilang berjarak 10 km yang disalurkan lewat  pipa. Sementara di Indonesia, sehari penjualan 15.000 KL dengan jumlah penyebaran 68 titik penjualan/DPPU yang tersebar di berbagai daerah.

 

“Harus diingat juga bahwa penyaluran avtur di daerah daerah remote dengan volume kecil ini juga membuat biaya penyaluran menjadi mahal, dan ini tak terjadi di luar negeri apalagi seperti di Singapura. Jadi menurut saya wajar saja jika harga untuk itu agak sedikit mahal dari Singapore,” papar Sofyano.

 

Dia meminta Menhub bisa memahami hal hal ini dan tidak terburu-terburu bicara akan mencari pemain baru avtur baru, karena hal ini bisa terkesan sebagai mengancam BUMN Pertamina jika tak bisa turunkan harga jual  avtur.

 

“Menteri BUMN pun harus pula bersikap bijak terhadap hal ini sehingga tidak membuat peran BUMN Pertamina menjadi bermasalah,  apalagi penyediaan avtur di seluruh wilayah negeri ini sudah lama bisa terwujud karena peran BUMN, dan selama ini tak ada swasta yang mau melirik bisnis ini,” papar Sofyano.

 

Untuk diketahui bahwa Harga jual Avtur di beberapa Bandara baik dalam Negeri maupun diluar negeri adalah antara lain sebagai berikut :

 

*Perbandingan Harga Jual (Posting Price) Avtur/liter ( dalam Rupiah) *

Data Bulan Sept 2019*:

==================

Narita             Rp.14.647,20

Manila            Rp.12.206,00

Sentani        Rp.11.923,43

Singapore      Rp.10.853,95

Hongkong      Rp.10.102,81

Denpasar     Rp.9.772,58

KualaLumpur Rp.9.594,29

Surabaya      Rp.9.585,07

Bangkok          Rp.9.267.17

Jkt CGK         Rp.8.658,55