Srimulyaninomics Gagal, Rakyat Lapar Bertambah

Safari
Srimulyaninomics Gagal, Rakyat Lapar Bertambah

Jakarta, HanTer - Pengamat ekonomi Gede Sandra mengatakan, masih banyaknya warga miskin yang kelaparan menunjukkan Srimulyaninomics telah gagal di Indonesia.

“Dan bila Srimulyaninomics dilanjutkan, jumlah warga kelaparan akan semakin besar. Sayangnya Pak Jokowi masih mempertahankan beliau ini,” kata Gede kepada Harian Terbit, Minggu (10/10/2019).

Menurut Gede, Srimulyaninomicsadalah ilmu ekonomi yang lebih memprioritaskan pembayaran bunga dan pokok utang dibanding mensejahterakan rakyat. 

“Yang kaya semakin kaya. Sementara yang dirasakan rakyat adalah  kesejahteraan mereka dikorbankan, antara lain, melalui: Pencabutan subsidi listrik 900watt, menaikkan iuran BPJS, menaikkan cukai rokok, menaikkan tarif toll, memajaki UKM, dan melestarikan ketimpangan kredit,” jar Gede.

Terbukti Gagal 

Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menyatakan srimulyaninomic tidak akan pernah bisa mencapai angka pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen nantinya. Dan malah hutang makin menggunung nantinya di akhir pemerintahan Joko Widodo

Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi 2004 era Megawati yang jadi presiden, 5,13 dan pertumbuhan PDB terjadi di hampir semua sektor ekonomi kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Dan di akhir pemerintahan SBY, pertumbuhan ekonomi hanya 5,02 persen alias lebih rendah dibandingkan pemerintahan ibu megawati yang tidak pernah mengunakan srimulyaninomic.

“Sungguh beruntung Joko Widodo, dengan mudah bisa menaikan pajak dan biaya security social (BPJS). Kalau di negara maju atau negara yang masuk G20, menaikan pajak, premi security social merupakan presiden atau pemimpin negara yang dianggap gagal loh