Ancaman Resesi Global

Gede Sandra: Awan Gelap Masih Menyelimuti Ekonomi Indonesia

Alee
 Gede Sandra: Awan Gelap Masih Menyelimuti Ekonomi Indonesia
Gede Sandra, ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) siang ini mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi. Jokowi memimpin rapat terbatas (ratas) untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian dunia.

Saat membuka ratas di Kantor Presiden, Jakarta Pusat,  Jokowi mengatakan Indonesia harus sedia payung sebelum hujan, yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi.

Seperti diketahui, ancaman resesi ekonomi global saat ini menghantui seluruh dunia. Benarkah akan terjadi resesi? Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Gede Sandra, ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat berpendapat gejala resesi dunia semakin tampak saat mulai banyak negara, terutama di Eropa, yang memasang suku bunga negatif. Sehingga untuk yield surat utangnya banyak yang negatif juga.

Sederhananya, kata Gede, kalau kita beli surat utang mereka, termasuk Jepang (yang sudah lebih awal menerapkan negative interest rate), maka investasi kita malah rugi termakan bunga negatif.

Agresivitas Trump dalam meningkatkan eskalasi perang dagang dengan Tiongkok mengkhawatirkan banyak investor karena kekuatan ekonomi perdagangan AS dan Tiongkok adalah yang terbesar pertama dan kedua di dunia.

Menurut Gede, dunia industri Tiongkok pun terpukul, growth diramalkan akan jatuh ke kisaran 5 persen. Permintaan bahan baku dan energi untuk industri Tiongkok pun ikut berkurang- akibatkan harga komoditi semakin anjlok.

“Akibatnya, negara yang masih gantungkan devisanya pada ekspor komoditi mentah, seperti Indonesia, akan terpukul pada sisi ekspor. Percepatan deindustrialisasi juga terus terjadi. Pendapatan pajak pun semakin berkurang,” ujarnya.

Growth Indonesia, lanjutnya, mungkin akan jatuh ke kisaran 4,5-4,8 di akhir tahun 2019. Tentu dengan catatan: Bila tidak ada langkah terobosan untuk memacu perekonomian.

Defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini yang ukurannya melebihi tahun 1997, adalah yang terburuk di kawasan Asia Tenggara. Jadi mata uang Rupiah rentan terhadap spekulasi dari pemain pasar uang, relatif dari mata-mata uang sekawasan.

Separuh utang swasta nasional dalam valas, jadi kondisinya sangat rentan terhadap pelemahan Rupiah. Sehingga berkontribusi mengurangi growth juga.

“Hanya awan gelap yang terlihat di atas perekonomian Indonesia. Akibatnya para investor bukannya datang ke Indonesia, tapi memilih datang ke negara-negara yang growth nya lebih tinggi, seperti Vietnam,” papar Gede.

Akibatnya para investor bukannya datang ke Indonesia, tapi memilih datang ke negara-negara yang growth nya lebih tinggi, seperti Vietnam.

Masalah ekonomi yang adasaat  ini, Gede berpendapat, terlalu pelik dan berlarut-larut. Ini bukan tahun 2007-2008 yaitu saat harga komoditi masih sangat tinggi. Tidak berlaku di tahun 2019 ini.

Sementara itu, demi menjaga ketertiban pengembalian bunga dan pokok utang kepada kreditor,  Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Perekonomian Darmin Nasution mengorbankan subsidi untuk konsumen listrik 900kva dan subsidi BPJS.  “Akan banyak warga hampir miskin menjadi warga miskin,” paparnya.

“Sudah kita kira sejak jauh hari, pasti jalan austerity policy yang diambil SMI dan Darmin. Bukannya memompa ekonomi, dengan mengalirkan sumber daya ke masyarakat, rumus kebijakan SMI dan Darmin malah membuat masyarakat kelas bawah tercekik akibat naiknya harga listrik dan iuran BPJS.”

Aneh, lanjut Gede, di tengah resesi, pemerintah malah memilih mengorbankan rakyat. “Kita belum lagi melihat kemarahan rakyat korban austerity policy,” paparnya.