Ichsanuddin Noorsy: Benarkah SCB Pemilik Bank Permata Tbk?

Safari
Ichsanuddin Noorsy: Benarkah SCB Pemilik Bank Permata Tbk?

Jakarta, HanTer - Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli tidak yakin, bahwa pembeli saham Bank Permata Tbk pada tahun 2004 adalah Standard Chartered Bank (SCB). Ini dikarenakan adanya berbagai kejanggalan saat proses itu. Keyakinan Rudy semakin besar,  saat didapati pada Annual Report SCB tahun 2006, tertulis satu note, tentang kepemilikan SCB di Bank Permata:  There are no  capital commitments related to the Group’s investment in Permata. 

“Artinya, SCB beli tanpa modal? Kok tidak ada komitmen? Terus yang dipakai modal siapa?” tegas Rudy.  

SCB wajib menjelaskan dengan menyertakan dokumen pendukung, apa maksud dari kalimat “no capital commitment” yang tertuang pada annual reportnya tersebut.  “Maka transaksi pengambil alihan Bank Permata wajib dipertanyakan oleh otoritas yang berwenang, “ tegas.

Menurut Rudy, bahwa siapapun yang ingin memiliki asset di Indonesia, terutama institusi strategis seperti bank, hendaknya transparan dan jelas, siapa pemiliknya, dan asal dananya. “Apakah kedua hal itu sudah dipenuhi oleh SCB?” tanya Rudy.

Menanggapi keyakinan Rudy, pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy membenarkan. Menurut dia, jika benar Bank Permata dibeli SCB, maka Bank Permata sebagai members atau affiliated SCB.  “Tapi, adakah tertulis Bank Permata sebagai SCB members? Tanya Ichsan menyadarkan. 

Memang, seperti umumnya korporasi besar jika memiliki anak usaha atau afilliated, selalu disebutkan, dengan tulisan members atau affiliated perusahaan induknya. Dugaan Noorsy, SCB sepertinya diperalat untuk pengambilalihan Bank Permata. 

 “Apakah benar SCB pemilik Bank Permata? Nah pada perspektif inilah, KPK bisa masuk dan membuktikan bahwa pengambilalihan dan pelepasan Bank Permata oleh SCB merugikan negara,” tandasnya. 

Sebelumnya Rudy telah, mendatangai KPK dan meminta untuk menyelidiki adanya kerugian negara dari proses pembeliaan dan penjualan saham Bank Permata  Tbk oleh Standart Chartered Bank. “Jika KPK bisa buktikan adanya kejahatan dalam pengambilalihan itu dan benar merugikan negara, maka potensi Rudy untuk mengambil kembali Bank Bali besar,” aku Noorsy.

Saat ini, SCB sedang berupaya melepas kepemilikan sahamnya pada  Bank Permata. Namun, Rudy berharap agar pihak-pihak terkait, menghentikan sementara (suspend) upaya tersebut, sebelum adanya investigasi. Rudy Ramli adalah selaku pemilik Bank Bali yang sah, sebelum bank itu diambilalih oleh BPPN dan dimerger menjadi Bank Permata. Pada tahun 2003, BPPN memutuskan Bank Bali bersama empat bank yang lain (Bank Prima Expres, Bank Artha Media, Bank Patriot, Bank Universal) dimerger. Dan Bank Bali menjadi leader dalam proses merger tersebut. 

Usaha penjualan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank (SCB), sangat diharapkan dilakuan secara transparan. Rudy berharap otoritas yang berwenang, menggunakan kekuasaannya untuk  investigasi, karena 5 alasan utama : transparansi, keadilan dan kebenaran, mempertahankan asset bangsa, dan mencegah terulangnya  kasus yang  sama demi kehormatan bangsa.