Defisit Neraca Perdagangan Terburuk

Rupiah Terpuruk, Rakyat Terbebani Kenaikan Harga

Safari
Rupiah Terpuruk, Rakyat Terbebani Kenaikan Harga
Ilustrasi rupiah terpuruk, neraca perdagangan jeblok

Jakarta, HanTer-- Neraca Perdagangan Indonesia pada April 2019 kembali mengalami defisit, yakni mencapai sebesar US$2,5 miliar. Hal ini disebabkan oleh defisit sektor migas dan nonmigas masing-masing sebesar 1,49 miliar dolar AS dan 1,01 miliar dolar AS. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik ini merupakan deficit yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia. 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, besaran defisit terburuk sebelumnya yang pernah dicatat oleh BPS terjadi pada Juli 2013. Pada bulan tersebut, neraca ekspor impor Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,3 miliar.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan masa Pemilu serta masa Lebaran menjadi salah satu pemicu neraca perdagangan mengalami defisit besar di bulan April 2019. 

Pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminudin mengatakan, defisit neraca perdagangan akan membuat Indonesia memasuki fase krisis serius melebihi tahun 1998. Akar persoalannya hampir mirip yakni krisis kepercayaan yang besar terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Tapi dari segi teknis ekonomi kali ini lebih berat. Pada 98 neraca perdagangan berjalan sangat surplus. 

"Tapi era Jokowi ini defisitnya terus meningkat. Tahun 2018 lalu hanya sampai bulan November saja sudah sekitar 8.5 milyar dollar, terburuk dalam sejarah Indonesia. 2019 saat defisit terus memburuk," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Kamis (16/5/2019).

Aminudin menjelaskan, akibat tidak adanya pertumbuhan ekonomi maka banyak investor asing langsung bergerak cepat meninggalkan pasar saham Indonesia. Sepanjang bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor Indonesia ambruk hingga 13,1% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan konsensus yang dihimpun  yang memperkirakan kontraksi sebesar 6,2% saja. Sementara itu, impor melemah sebesar 6,58%, 

Alhasil, neraca dagang Indonesia membukukan defisit senilai US$ 2,5 miliar, jauh defisit pada bulan April menjadi yang pertama dalam 3 bulan terakhir. Sementara itu, IHSG yang sebelum rilis data perdagangan internasional hanya melemah tipis 0,06% kini sudah jatuh sebesar 0,71% ke level 6.028,21.

Dengan defisit neraca dagang yang begitu lebar, maka defisit transaksi berjalan/Current Account Deficit (CAD) akan menjadi sangat sulit untuk diredam. Sebagai informasi, CAD pada kuartal-I 2019 adalah senilai US$ 7 atau setara dengan 2,6% dari PDB, sudah jauh lebih lebar dari defisit periode yang sama tahun lalu (kuartal-I 2018) yang hanya senilai US$ 5,19 miliar atau 2,01% dari PDB. Rupiah melemah 0,07% di pasar spot ke level Rp 14.435/dolar AS. 

Rupiah makin anjlok akan mendorong harga-harga lain akan ikut naik sehingga akan memukul daya beli masyarakat. Biaya produksi pabrik-pabrik juga makin tinggi sementara pasar makin melemah. Akan makin banyak perusahaan megap-megap bahkan gulung tikar. PHK makin meluas. Kondisi ekonomi makro juga memburuk selama tiga bulan pertama tahun ini ekonomi tumbuh negatif 0,52%.

"Ketika rupiah melemah, investor asing berpotensi menanggung yang namanya kerugian kurs sehingga wajar jika aksi jual dilakukan di pasar saham tanah air," jelasnya.

Rupiah Merosot

Pemerhati sosial masyarakat, Frans Immanuel Saragih mengatakan, saat ini neraca perdagangan Indonesia memang sedang mengalami defisit yang cukup tajam. Dampak dari defisit neraca perdagangan juga membuat nilai tukar rupiah merosot. Walaupun untuk masa sekarang tidak terlalu besar karena ada variabel lain yang menentukan nilai tukar mata uang. 

"Defisit neraca perdagangan juga berdampak kepada kehidupan rakyat,dimana apabila kondisi ekonomi negatif mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat," ujar Frans kepada Harian Terbit, Kamis (16/5/2019).

Frans menjelaskan, defisit neraca perdagangan akan dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Karena banyaknya barang impor sehingga berakibat ekspor barang lemah maka otomatis harga barang barang hasil panen akan sangat rendah jika dijual. Sedangkan harga kebutuhan pokok bergerak naik. Ini juga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Jika dibiarkab terus menerus maka berbahaya bagi kelangsungan hidup rakyat.