Wiranto Jamin Tidak ada Kerusuhan

Isu 22-23 Mei Chaos Bikin Resah, Warga Mulai Timbun Sembako dan diam di Rumah

Safari
Isu 22-23 Mei Chaos Bikin Resah, Warga Mulai Timbun Sembako dan diam di Rumah
Menko Polhukam Wiranto dan Panglima TNI Hadi Tjahjanto

Jakarta, Hanter-- Isu bakal ada kerusuhan besar, people power  yang berpotensi chaos pasca Pemilu 2019, terutama usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pilpres, masih membuat warga khawatir dan resah. Padahal isu tersebut sudah dibantah Menko Polhukam Wiranto, Kepolisian, dan sejumlah politisi. Ada warga yang siap-siap tidak keluar rumah dan melakukan stok bahan pangan. Juga ada yang akan tinggalkan Indonesia.

Sejumlah warga mengaku khawatir terjadio kerusuhan pada 22 Mei, sehingga mereka siap-siap menghadapi kemungkinan terburuk. “Saya khawatir mas ada apa-apa, karena saat ini banyak sekali isu kerusuhan. Paling nanti tidak keluar rumah dan stok sembako,” kata Wati warga Jakarta Timur kepada Harian Terbit, Kamis (2/5/2019).

Hal sama disampaikan yani, warga Bogor. “Takut juga dengar isu macam-macam, mau rusuhlah. Paling kita tidak kemana-mana, diam aja di rumah. Stok sembako utk beberapa hari ke depan,” ujar ibu rumah tangga yang mengaku anggota keluarganya juga khawatir.

Keduanya meminta aparat keamanan (Kepolisian dan TNI) menjaga situasi agar aman dan terkendali. “Gak usah rusuh-rusuh lah, mari kita bersatu untuk membangun negeri ini,” ujar Yani dan Wati.

Salah satu warga, Ida Bastian (52) mengaku tidak terpengaruh dengan adanya isu chaos pada tanggal 11,12,13 dan 22 Mei 2019 mendatang. Oleh karena itu ia tidak akan memborong persediaan atau stok kebutuhan rumah tangga seperti sembako.

Ida mengaku, memang ada sejumlah pihak yang ketakutan akan ada peristiwa pada tanggal 11,12 dan 13 Mei seperti yang terjadi pada tahun 1997 lalu. Sehingga ada menimbun sembako.

"Kalau saya gak ikut borong. Karena enggak percaya akan chaos. Kalau tetangga ada sih yang stok buat persiapan. Kata dia cuma persiapan saja untuk antisipasi," jelasnya.

Ida menuturkan, tidak percaya akan adanya rusuh pada pertengahan bulan Mei, karena bukan Mei sudah masuk bulan puasa. Dimana masyarakat akan menahan amarah. Lagi pula, isu kerusuhan sengaja hanya dibuat untuk membuat kaum emak - emak gusar. Apalagi sekarang ini harga-harga kebutuhan rumah tangga terutama sembako naik.

"Makanya tambah kelimpungan deh emak-emak, makanya ada yang alesan mumpung harga masih belum tinggi mending beli sekarang untuk stok," tandasnya.

Aman Terkendali

Hal sama disampaikan Menko Polhukam Wiranto, yang menegaskan, tidak ada kerusuhan besar terjadi pasca Pemilu 2019. Menurutnya situasi aman dan terkendali.

"Sampai-sampai akan tinggalkan Indonesia menghindari kerusuhan. Karena tidak ada kerusuhan. Saya meminta masyarakat tidak resah adanya isu tersebut. Saat ini kondisi pemilu terkendali hingga pasca-pemilu," ujar Wiranto, belum lama ini.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meyakini stabilitas politik dan keamanan akan selalu terjaga sebelum maupun setelah pemungutan suara Pilpres 2019 sehingga tidak akan terjadi perang total, perang badar, atau perang apa pun, apalagi situasi kaos (chaos).

Tidak Ada Chaos

intelijen dari the Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, yang pasti ada kecemasan publik sebagai dampak dari gonjang ganjing di Pilpres 2019. Apalagi kecurangan Pilpres sudah ditunjukkan oleh sejumlah pihak dengan berbagai macam bukti - buktinya. Sehingga pada pertengahan Mei yakni tanggal 11,12 dan 13 tersiar isu akan ada kerusuhan atau chaos.

"Di ruang publik tersuguhkan polarisasi yang demikian lebar antara dua kubu yang saling klaim kemenangan dengan basis argumen masing-masing.Ditambah lagi beredarnya informasi-informasi hoaks melalui beragam media. Ini menjadikan sebagian masyarakat merasa cemas dan khawatir situasi keamanan tidak kondusif," ujar Harits Abu Ulya kepada Harian Terbit, Jumat (3/5/2019).

Harits menuturkan, untuk Pilpres 2019 saat ini kecemasan publik mempunyai alasan yang kuat. Sebab utamanya carut - marutnya proses perhitungan hasil Pilpres oleh KPU. Selain itu munculnya indikasi-indikasi ketidakpuasan atas semua proses yang ada. Apalagi pihak - pihak penyelenggara pemilu juga belum memberikan sanksi atas adanya dugaan kecurangan tersebut.

"Rasa aman akan hadir dan rasa cemas akan sirna manakala kejujuran, keadilan, rasa tanggungjawab demi rakyat, bangsa dan negara itu dimanifestasikan oleh semua komponen terutama adalah instrumen negara; seperti TNI, Polisi, BIN, KPU dan lain - lainnya," jelasnya.

Terpisah, Atropolog Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiady mengatakan, saat ini sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat tidak peduli dengan isu gerakan massa pada 22 Mei 2019. Hal tersebut dibuktikan ketika mengunjungi sejumlah daerah seperti Kalimantan Tengah para tokoh masyarakat dan tokoh adat justru meminta dijelaskan _

(excitedly) terkait wacana pemindahan Ibukota negara. Apalagi salah satu kandidatnya adalah Kalimantan Tengah.

"Hal ini harus dibuat zoning (zonasi) terhadap daerah mana saja yang "gelisah". Jangan-jangan istilah "gelisah" ini justru dilontarkan untuk menimbulkan kepanikan isu gerakan massa 22 Mei. Padahal masyarakat biasa saja," ujar Yophie Septiady kepada Harian Terbit. Kamis (2/5/2019).

Yophie menuturkan, jikapun ada gerakan terhadap aksi 22 Mei maka dipastikan tidak akan "sehebat" peristiwa reformasi 1998 dengan agenda melengserkan Soeharto. Karena saat itu mahasiswa, masyarakat dan beberapa Ormas saling membahu membangun kekuatan secara murni, karena merasa ada ketimpangan ekonomi yang tajam antara masyarakat dengan Keluarga Cendana beserta kroni-kroninya.

"Saya rasa, protes dan demo pasti ada, tetapi kebanyakan masyarakat terutama di Ibukota Jakarta, percaya dengan kinerja polisi dan TNI," tandasnya.

Yophie menegaskan, gerakan aksi 22 Mei apalagi anarkis sangat kecil kemungkinannya akan terjadi. Karena yang menggelar aksi hanya menyangkut kepentingan kelompok/masyarakat/daerah tertentu saja; yakni daerah atau masyarakat yang tidak puas dengan hasil Pemilu, bukan masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya masyarakat atau daerah yang tidak puas juga belum tentu melakukan gerakan atau aksi.