Pilih Harvard University, Moses Mayer Mantap Bikin Aplikasi Smartphone Pengelolaan Sampah 

romi
Pilih Harvard University, Moses Mayer  Mantap Bikin Aplikasi Smartphone Pengelolaan Sampah 
Moses Mayer/ ist

Jakarta, HanTer -  Di luar dugaan ternyata masih ada anak bangsa di negeri ini yang bisa berprestasi. Salah satunya Moses Mayer yang baru-baru ini menjadi pembicaraan hangat di berbagai pemberitaan dan sosial media. 

Ya, pelajar Jakarta Intercultural School (JIS) ini telah meraih berbagai penghargaan kelas dunia sekaligus mengharumkan Indonesia dalam sejumlah kompetisi bergengsi di bidang bahasa, matematika, sains, robotika, informatika dan komputasi.

Seperti memiliki energi yang tiada habis, Moses juga mengembangkan SampahLink, sebuah aplikasi smartphone untuk pengelolaan sampah. Melalui aplikasi ini, ia melakukan sejumlah kegiatan peningkatan kesejahteraan para pemulung, seperti memberikan bantuan microfinance untuk pengadaan alat dan pendidikan para pemulung serta komunitasnya.

“Moses adalah potret dari banyak siswa JIS yang memiliki semangat untuk meraih prestasi tinggi dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dunia di sekitarnya. Murid-murid ini mendapat kesempatan dan dukungan yang sangat besar dari JIS untuk bisa mengembangkan minat mereka sekaligus berkontribusi kepada masyarakat yang merupakan bagian dari kehidupan mereka,” ujar Dr. Tarek Razik, JIS Head of School, Kamis (12/4/2019).

Sejauh ini, Moses sudah berprestasi sejak masih di sekolah dasar hingga saat ini di kelas 12. Ia memenangkan banyak penghargaan olimpiade maupun kompetisi matematika serta informatika atau computer science di tingkat nasional maupun internasional. 

Diantaranya medali emas OSN, medali emas National Olympiad in Informatics di Singapura, medali perunggu Internasional Olympiad of Metropolises di Moscow, medali perunggu di Junior Balkan Mathematics Olympiad di Romania, hingga medali-medali dan penghargaan bidang matematika maupun bidang informatika di Cina, Kazakhstan, Hong Kong dan lainnya.

Bagi Moses, JIS sangat berperan dalam memperkuat minatnya terhadap matematika dan computer science. “Sejak saya baru masuk JIS, para guru mengizinkan agar saya mengambil kelas matematika di atas tingkat kelas saya, agar saya dapat belajar banyak hal. JIS juga mendukung saya ketika saya berangkat ke Olimpiade atau mengikuti pembinaan dan pelatihan nasional,” ujarnya.

Di sekolah, Moses memiliki nilai sempurna A dan A* untuk semua mata pelajarannya, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Ia pun berusaha menyebarkan kecintaan terhadap matematika kepada murid-murid lain dengan mendirikan Mu Alpha Tetha – Math Honor Society di JIS. Klub ini merupakan chapter pertama di Indonesia yang berpusat di Amerika Serikat. Ia juga merupakan bagian dari Student Council dan National Honor Society. 

Pilih Harvard University

Lewat pertimbangan panjang, Moses Mayer akhirnya memilih Harvard untuk meneruskan pendidikannya. Padahal, cowok berwajah oriental ini sempat diterima sembilan universitas ternama di Amerika Serikat, kemudian dia menyaring lagi menjadi tiga universitas seperti Harvard, Princeton dan M.E.T UC Berkeley hingga terpilihlah Harvard.

"Memamng dari sembilan universitas itu saya turunkan jadi tiga, yaitu Harvard, Princeton dan M.E.T UC Berkeley. Akhirnya saya memilih Harvard. Di Harvard itu saya enggak harus langsung memilih jurusan apa yang akan saya ambil nantinya," katanya.

Ditambahkannya, Harvard memberikan keleluasaan menjelajahi semua mata kuliah untuk mendapatkan jurusan yang menjadi minat mahasiswanya. Namun, pria yang hobi olahraga basket ini mengatakan jurusan yang akan diambilnya kemungkinan tak jauh dari minatnya sekarang.

"Jujur, saya mau coba dulu, explore dulu hal apa yang saya minati. Untuk sementara saya masih minat ke Matematika, Komputer dan Ekonomi. Jadi mungkin gabungan dari ketiga itu," jelasnya.

Bukan itu saja, guna menentukan jurusan yang akan diambil, pihak Harvard memberi deadline hingga akhir tahun kedua. So, selama rentang waktu tersebut, Moses akan memanfaatkan dengan mengambil kelas yang berbeda-beda.