Utang Garuda Indonesia Menumpuk, Kapan Lunas dan Untung?

Danial
Utang Garuda Indonesia Menumpuk, Kapan Lunas dan Untung?
Garuda Indonesia

Jakarta, HanTer - PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Tbk (GIAA) disebutkan mencetak laba bersih sebesar US$809.846 atau sekitar Rp11,33 miliar (kurs dolar Rp14.000) pada tahun 2018 lalu.

Namun yang menjadi pertanyaan mengapa Garuda Indonesia bisa mencetak laba tahun lalu? Sementara beban utang terus bertumpuk.

Untuk diketahui pada pendapatan usaha yang menjadi bisnis inti (core business) perseroan, sebenarnya kinerja operasional Garuda Indonesia pada tahun 2018 lalu tidak bisa dibilang baik. Tercatat, pendapatan usaha maskapai pelat merah ini sebesar US$4,37 miliar dan masih di bawah beban usaha yang sebesar US$4,57 miliar.

Menurut Deny Poerhadiyanto selaku Akuntan RNA 99, mengungkapkan kinerja operasional Garuda Indonesia masih kurang bagus GIAA dan belum efisien dalam menjalankan kegiatan usaha.

"Garuda Indonesia menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat pada tahun lalu karena daya beli masyarakat terhadap tiket pesawat cenderung tetap, namun tren komponen biaya terus menujukkan kenaikan," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR Inas Nasrullah Zubir juga menilai Garuda terancam bangkrut lantaran utang Garuda terus bertambah sekitar Rp 3 triliun per tahun.

Salah satu utang itu ialah tunggakan avtur kepada Pertamina yang sudah mencapai Rp 3,2 triliun, dimana utang sebesar itu disebabkan pembelian 139 satelit komunikasi, pesawat Airbus, dan Boeing 777-300 ER.

“Jual saja pesawat Airbus dan Boeing untuk mengurangi beban utang perusahaan,” beber Inas.

Mengenai masalah ini, Komisi VI pun berencana memanggil Direktur Utama Garuda I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra,

“Kami akan meminta klarifikasi soal utang mereka, termasuk dalam pembelian pesawat dan juga cicilan pembayaran avtur," ujar Inas.

Sementara itu anggota Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto membenarkan PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Tbk (GIAA) pada dasarnya memang rugi. "Betul, Garuda memang merugi," kata Suryo dan menambahkan dalam waktu dekat, Komisi VI DPR RI akan memanggil manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan menanyakan kinerja maskapai penerbangan pelat merah tersebut.

Pihaknya juga ingin mendengarkan penjelasan dari pihak Garuda terkait dengan kelanjutan pembelian pesawat produk Boeing seri 737 Max 8.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berencana membeli 50 pesawat seri 737 Max 8 dan baru terkirim satu unit sehingga masih tersisa 49 unit yang harus dikirim oleh Boeing hingga tahun 2030.