Perpustakaan Hilang, Tantangan di Era Disrupsi

***
Perpustakaan Hilang, Tantangan di Era Disrupsi
Destiya P. Prabowo/ ist

Oleh) Destiya P. Prabowo

Akankah perpustakaan akan hilang? Mungkin pernyataan tersebut mengejutkan, namun jika tidak diantisipasi maka bisa saja terjadi. Kehadiran internet di masa revolusi industri 4.0 membuat masyarakat dimudahkan, bahkan dimanjakan dalam kehidupan.

Masyarakat mencari berbagai kebutuhan informasi melalui mesin pencari raksasa Google. Saking berpengaruhnya, tidak ada yang mampu menyainginya, bahkan Microsoft dengan mesin pencari Bing tidak mampu mengambil alih posisi raksasa tersebut di hati masyarakat. Terlepas dari itu, perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi diharapkan mampu untuk tetap berjalan tegar di era yang serba disrupsi.

Pakar disrupsi Indonesia, Prof. Rhenald Kasali mengingatkan agar pelaku usaha, BUMN, dan lembaga pemerintah bisa membedakan ancaman resesi dengan disrupsi. Terlebih saat sejumlah unicorn atau sering disebut start-up (aplikasi) mulai diuji di pasar modal dan beralih dari investor ke publik. 

Secara bahasa, disruption artinya gangguan atau kekacauan; gangguan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas, atau proses. Secara praktis, disrupsi merupakan perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi dan “Internet of Thing” (IoT) atau internet untuk segala. 

Dalam teori bisnis, dikenal istilah “inovasi disruptif” yaitu inovasi yang menciptakan pasar baru dan jaringan nilai dan akhirnya mengganggu pasar dan jaringan nilai yang ada, menggantikan perusahaan, produk, dan aliansi terkemuka di pasar yang sudah mapan. 

Disrupsi teknologi mengakibatkan pasar tergerus oleh pendatang baru, mengalami great shifting, terimbas substitusi, dan mengakibatkan sumber-sumber pendapatan usaha yang utama kehilangan relevansi.

Hal ini dapat berimbas kepada perpustakaan yang mungkin saja bisa kemungkinan segera dijauhi oleh para user (pemustaka) jika tidak mengambil langkah-langkah inovatif dalam penyediaan layanan informasi. Dampak disrupsi cukup luas. Misalnya, industri surat kabar tidak bisa lagi mengandalkan pendapatan dari penjualan koran. Mi instan terancam aplikasi makanan online. Belum lagi model bisnis yang mengandalkan kendali atas seluruh sumber daya yang digantikan platform yang efisien.

Kata kuncinya adalah efisiensi. Perpustakaan wajib berbenah penuh dalam memberikan layanan yang efisien untuk para penggunanya. Perpustakaan harus mulai menggunakan cara-cara baru, ubah sudut pandang, dan tidak asal membeli teknologi, lalu sudah merasa telah melakukan transformasi digital. Padahal belum tentu semua itu dapat memberikan pelayanan yang efisien.

Jadi mau tidak mau, perpustakaan harus berubah. Terus bergerak dalam menghadapi perkembangan peradaban dunia. Hal ini sudah dimulai dengan adanya perkembangan teknologi dan adanya interaksi budaya baru yang timbul akibat perkembangan tersebut. Peningkatan layanan perpustakaan yang berbasis pada patron/pemustaka dan teknologi informasi menjadi tantangan bagi perpustakaan ke depan. 

Dengan demikian, ketersediaan koleksi yang lengkap dan mutakhir sangat diharapkan, di samping tuntutan pengorganisasian koleksi yang selalu mengikuti perkembangan standar yang berkembang sehingga mudah diakses dan lebih informatif bagi pemustaka.

Dalam rangka memperkuat sumber informasi, baik berupa data bibliografis maupun full-text kandungan isinya, diperlukan perluasan jaringan dan kerjasama antarperpustakaan atau lembaga lain sebagai mitra yang saling menguntungkan. Adapun, dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca, perlu terobosan baru dan penguatan fokus kegiatan agar menghasilkan dampak yang lebih signifikan. Lagi-lagi, kata kuncinya adalah mitra. 

Di era disrupsi, kehadiran mitra kerja yang saling menguntungkan wajib hukumnya untuk direalisasikan, seperti halnya perusahan Gojek Indonesia yang mendapatkan mitra kerja dari masyarakat untuk menjadi pengemudi transportasi berbasis aplikasi yang saling menguntungkan. Contoh ini dapat dilakukan oleh perpustakaan melalui kemitraan dengan Perguruan Tinggi agar dapat memberikan kontribusi ilmu kepada perpustakaan agar lebih dapat didayagunakan bagi pengguna.

Hal yang dapat dilihat pada era disrupsi teknologi yaitu kemudahan dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Masyarakat, saat ini dapat langsung menggunakan gawainya untuk melakukan pencarian informasi yang dibutuhkan, dapat langsung disimpan dalam gawainya dan dibaca berulangkali. 

Berbagai mesin pencari mampu menjawab segala pertanyaan yang dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan seharihari. Mulai dari cara memasak, resep masakan, bahkan pembelian bahan-bahan dapat dilakukan melalui aplikasi atau pun e-commerce.

Karakteristik masyarakat kini yaitu menginginkan segala sesuatu didapatkan dengan mudah, cepat, dan efisien. Bahkan, melihat fenomena dan karakteristik masyarakat di era kini, perkembangan teknologi juga terjadi pada bidang penerbitan buku.

Beberapa bisnis penerbitan menyediakan buku dan jurnal dalam bentuk elektronik, hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan antara kebutuhan dan karakteristik masyarakat saat ini dan juga menghadapi persaingan agar tidak tergerus dalam era disrupsi teknologi. Beberapa perusahaan koran dan majalah juga menyediakan aplikasi khusus yang menyediakan koran dan majalah elektronik untuk masyarakat agar dapat membaca secara nyaman di mana pun dan kapan pun.

Hal yang tersedia di era disrupsi teknologi juga memunculkan dua mata pisau bagi masyarakat, yaitu di balik kemudahan juga memunculkan suatu masalah tersendiri. Kemudahan dalam melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber informasi yang disediakan oleh search engine, masih perlu dipertanyakan relevansi dari suatu informasi. Ribuan bahkan jutaan informasi yang tersedia tidak dapat dipastikan apakah berasal dari sumber terpercaya atau hanya hoax semata. 

Akhir-akhir ini fenomena hoax tengah gencar terjadi di era kini. Perkembangan dalam bidang penerbitan yang menyediakan produk buku elektronik juga menimbulkan suatu tantangan tersendiri, yaitu dalam hal preservasi dokumen elektronik dan hak cipta. Buku elektronik memerlukan suatu perawatan agar dapat terus diakses oleh pengguna. 

Hal yang terjadi saat ini seringkali preservasi buku elektronik terabaikan karena telah terlena dengan kecanggihan dari teknologi itu sendiri. Padahal suatu benda dengan bentuk elektronik juga mengalami keusangan apabila tidak dilakukan perawatan yang sesuai. Perkembangan teknologi yang terus gencar akan memunculkan suatu format-format dokumen digital dengan versi terbaru dalam hal akses buku elektronik.

Apabila suatu format digital tidak terus diperbarui, maka akan menjadi suatu akhir bagi dokumen digital itu sendiri. Buku elektronik yang termasuk salah satu dari dokumen digital tidak akan dapat diakses kembali jika format digitalnya telah usang. Selain pembaharuan pada format digital, juga pada media penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan dokumen digital tersebut. Upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan preservasi digital dan meningkatkan kemampuan tenaga pengelola dokumen digital.

Fenomena yang terjadi pada era disrupsi menuntut setiap lini masyarakat untuk mengikuti perkembangan, karena jika tidak, maka hanya akan tergerus perubahan zaman. Begitu juga perpustakaan yang merupakan tempat sumber informasi dituntut untuk berinovasi dengan mengikuti karakteristik pemustaka yang telah mengalami perubahan gaya hidup. 

Pemustaka lebih menginginkan informasi yang mudah didapat dan fleksibel. Mereka terkadang menghabiskan waktu berjam-jam di kafe untuk menikmati jaringan internet (wifi) gratis dengan hanya membeli secangkir kopi atau milkshake. Bahkan, di perpustakaan sendiri ruangan yang banyak diminati oleh pemustaka yaitu spot dengan akses wifi yang lancar.

Beberapa perpustakaan telah berupaya untuk menyediakan layanan yang disesuaikan dengan karakteristik pemustaka saat ini. Layanan buku dan jurnal elektronik yang dilanggan dari penerbit global disediakan guna mempermudah pemustaka untuk melakukan pencarian referensi penelitian mereka. Bahkan, beberapa koleksi tugas akhir dan hasil penelitian civitas akademika dapat diakses di repositori institusi perguruan tinggi sehingga pemustaka dapat mengakses di mana pun tanpa terbatas oleh waktu.

Perpustakaan juga telah menyediakan beberapa tempat untuk melakukan akses pencarian informasi secara digital dengan disertai jaringan Wi-Fi gratis. Saat ini sedang populer layanan co-working space di area perpustakaan. Implementasi co-working space di perpustakaan yaitu dengan menyediakan ruangan/tempat yang nyaman bagi pemustaka dengan disertai jaringan internet yang lancar. Keberadaan coworking space dapat menjawab tantangan yang terjadi di era disrupsi.

Apabila perpustakaan belum mampu menyediakan peralatan teknologi yang canggih, namun setidaknya cara sederhana yang dapat dilakukan yaitu menyediakan ruangan yang nyaman dan jaringan internet bagi para pemustaka dalam melakukan pencarian informasi digital. Dengan begitu, perpustakaan akan tetap eksis tidak tergerus perkembangan era disrupsi teknologi.

Hal yang tak kalah penting lagi di era disrupsi ini adalah perkembangan media sosial dan situs web yang merupakan bagian dari internet dapat menjadi sarana komunikasi sosial secara online di dunia maya. Media sosial dan situs web memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat sebagai media komunikasi edukasi, di mana masyarakat dapat memberikan pendapat dan saling memberikan informasi satu sama lain. 

Di sisi lain, media ini dapat pula mengubah karakter masyarakat. Pemanfaatan media sosial dan situs web juga berguna sebagai media eksistensi diri. Masyarakat yang menggunakan media sosial dapat menampilkan kegiatan dan aktivitas yang dikerjakan, mengeluarkan pendapat, dan mengekspresikan perasaan mereka. 

Eksistensi masyarakat dalam sosial media ini yang harus bisa ditangkap, sebagai alat teropong dalam melihat koleksi seperti apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan sekaligus sebagai promosi koleksi yang dimiliki perpustakaan. Hal ini dimungkinkan dengan membentuk semacam tim media sosial yang bertugas memantau berbagai aktivitas masyarakat di media sosial. 

Tidak perlu secara lengkap melihat, namun dapat menggunakan fitur seperti trending topic pada sosial media Twitter dan melihat berapa banyak hastag (#) yang digunakan oleh pengguna Instagram. Dari situ sebetulnya akan terlihat koleksi seperti apa yang dibutuhkan oleh pemustaka.

Saat ini perpustakaan telah menjalankan media sosial dan situs web sebagai bagian dari pengembangan koleksi serta pelayanan perpustakaan yang benar-benar dibutuhkan oleh pemustaka. Melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter serta website baik yang dikelola oleh perpustakaan. 

Biodata Penulis:

Tempat & lahir : Wonogiri, 1 Desember 1987
Pendidikan      : Magister Humaniora di bidang Ilmu Perpustakaan Jabatan : Pustakawan Ahli Muda di Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI