Manuskrip Kuno yang “Berisi”

***
Manuskrip Kuno yang “Berisi”
Leni Sudiarti/ dok

Oleh) Leni Sudiarti (Pustakawan Perpustakaan Nasional RI) 

Pernahkah Anda melihat sebuah naskah atau manuskrip yang ditulis di atas helaian daun panjang serupa daun kelapa yang telah dikeringkan? Manuskrip seperti ini bisa saja ditemukan di daerah-daerah tertentu, misalnya di Bali, Lombok (NTB), Jawa, dan beberapa daerah lainnya.

Bisa juga ditemukan di beberapa museum, perpustakaan (termasuk Perpustakaan Nasional RI), dan para pemilik naskah (pribadi). Di dalamnya termaktub manuskrip kuno yang termasuk kekayaan budaya Indonesia. Manuskrip inilah yang disebut manuskrip daun lontar (Palm leaf manuscript). Daun lontar dipilih sebagai media penulisan, terutama oleh nenek moyang kita sebelum adanya kertas, karena salah satu sifatnya yaitu cukup kuat dan awet disimpan untuk jangka panjang. 

Namun, tidak sekonyong-konyong daun lontar tersebut dapat ditulisi langsung. Perlu proses panjang untuk menjadikannya siap menjadi media tulis, dengan kondisi yang maksimal. Dan tahukah Anda, berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan tersebut? Boleh percaya atau tidak, namun inilah kenyataannya: untuk mendapatkan helaian siap tulis, yang disebut blanko lontar, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Mulai dari pemetikan daun, hingga helaian siap tulis.

Biasanya, naskah terdiri atas beberapa helai daun yang disatukan dengan tali pada bagian tengahnya. Sebagai pelindung, biasanya diberi cover atau sampul dari kayu, bambu, dan sebagainya, yang disebut sebagai “kropak”. Kropak pun ada yang tampil cantik, misalnya dengan adanya hiasan ukiran.

Manuskrip lontar umumnya berisikan informasi tentang religius atau spiritual, pengobatan, sejarah, astronomi, arsitektur, ramalan, karya sastra, dan sebagainya. Bahasa dan aksara yang digunakan pun beberapa jenis, antara lain: Pegon, Jawa Kuno, Bali, Sunda Kuno. Jadi, seandainya saja dituangkan ke dalam berbagai bentuk tulisan, kandungan isi
manuskrip lontar tersebut bisa menghasilkan sangat banyak tulisan yang bermanfaat dan tak ternilai. Jadi, masih adakah yang meragukan kekayaan khazanah Nusantara?

Sayangnya, kekayaan tersebut kurang tergali. Tak banyak yang tertarik untuk memahaminya. Aksara dan bahasa yang “aneh”, belum lagi tampilan yang mungkin terkesan kurang “milenial”, barangkali menjadi salah penyebab “tersimpannya” naskah-naskah lontar tersebut, tanpa tersentuh. Dan bukan tidak mungkin, saat baru disadari keberadaannya, manuskrip lontar tersebut justru sudah hancur.

Barangkali terlalu “parno” jika berasumsi seperti itu. Namun, bisa jadi itulah kenyataannya. Naskah lontar terabaikan sekian lama, tanpa tersentuh. Bagaimana akan menyelamatkan kandungan isinya jika kondisi fisiknya tidak bisa terjaga? Sementara di luar sana, banyak pihak yang bisa mengincar keberadaan naskah-naskah lontar yang berharga
tersebut dan siap untuk mengambil alihnya. Tapi, relakah kita?

Mungkin, ada baiknya jika belum bisa memanfaatkannya atau menyumbangkan naskah yang ada kepada lembaga yang berkompeten (seperti Perpustakaan Nasional RI) kita bisa menjaga kondisi fisik naskah lontar tersebut dari kerusakan atau kehancuran.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada naskah atau manuskrip lontar tersebut. Misalnya saja:
Satu, Kondisi penyimpanan. Hendaknya dihindari kondisi yang lembab atau terlalu kering. Suhu ruang yang stabil bisa membantu menjaga kondisi naskah lontar tersebut. Sesekali, angin-anginkan dalam kondisi terbuka.

Dua, Kotoran maupun polutan. Usahakan untuk senantiasa membersihkan naskah lontar secara berkala. Bisa menggunakan kain lap yang lembut, maupun vacuum cleaner untuk mengisap debu sekitarnya.
Tiga, Adanya biota (serangga, jamur, hewan pengerat). Senantiasa lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi naskah. Diangin-anginkan sesekali untuk menghindari tumbuhnya jamur.

Empat, aktor manusia. Keteledoran dan ketidakdisiplinan dalam memperlakukan naskah lontar, dapat menjadi pemicu dalam kerusakan lontar tersebut. Biasakan menyentuh naskah dengan tangan yang bersih serta dengan penuh kehati-hatian.

Terakhir lima, Sinar ultraviolet. Hindari paparan sinar matahari langsung terhadap naskah lontar tersebut. Paparan langsung, apalagi yang terus menerus, dapat mmicu kerapuhan bagi naskah lontar. Dan berikut beberapa tips dalam perawatan manuskrip lontar bersihkan naskah lontar dan tempat penyimpanannya secara berkala. Usahakan menyimpan naskah lontar dalam media berbahan bebas asam atau bungkus naskah lontar dengan menggunakan kain katun putih. Lalu, ikat dengan menggunakan tali yang berbahan katun juga.

Ketiga, Letakkan beberapa butir kapur barus atau 1-2 bungkus saset silicagel (untuk ruang tertutup, seperti box dan sebagainya) pada lokasi penyimpanan naskah. Hindari menyimpan naskah di tempat yang lembab, atau terlalu kering. Akan lebih baik jika menyimpannya di tempat bersuhu ruang dengan sirkulasi udara yang lancar. Dan kelima biasakan menyentuh naskah lontar dengan tangan yang bersih dan dengan sikap yang hati-hati. Hindari makan makan dan minum di dekat naskah.

Helaian panjang itu memang kaya. Kaya akan kandungan yang bermanfaat. Akan tetapi, kekayaan itu baru akan berarti, jika bisa dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan kekayaan ini lenyap begitu saja. Sedikit hal yang kita lakukan, semoga saja bisa menjadi sumbangsih kita dalam menjaga kekayaan Nusantara.