Saya, Mall dan Tatanan Normal Baru

***
Saya, Mall dan Tatanan Normal Baru

Oleh: Dicky Edwin Hindarto, Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau

 

Ada yang sangat menarik mencermati berbagai berita  online selama seminggu terakhir, di antaranya yang paling menarik perhatian saya adalah wacana dan rencana pemerintah dalam membuka kembali mall setelah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilonggarkan. Tak kurang dari presiden sendiri telah mewacanakan hal ini beberapa hari lalu di Bekasi dengan mengunjungi salah satu mall.

 

Mall katanya akan menjadi contoh implementasi tatanan normal baru di masa pandemi. Pengunjung mall akan aman selama mengikuti aturan, yang saya belum tahu sudah dibuat atau belum.

 

Ini wacana yang sangat menarik bagi saya karena kalau dibandingkan dengan banyak negara lain yang juga menderita karena virus yang berasal dari China ini, mereka lebih mementingkan membuka sektor lain yang relatif bisa dikontrol dibandingkan dengan mall.

 

Di Korea Selatan misalnya, yang diutamakan adalah pembukaan lagi sekolah SD sampai SMA dengan protokol yang sangat ketat. Di Itali dan China restoran-restoran kembali dibuka dengan pembatasan yang sangat ketat. Sementara presiden US yang paling urakan, Donald Trump, mendorong pembukaan lagi perkantoran dan bisnis skala kecil dan menengah.

 

Tapi saya belum pernah baca dan mendengar mall yang didulukan untuk dibuka daripada sektor lain, kecuali di Indonesia!

 

Seberapa pentingnya dan seberapa masifnya mall di Indonesia?

 

Sebagai pencinta dan pengamat mall, saya bisa katakan kalau negara dengan jumlah mall paling banyak di dunia adalah Indonesia. Anda bisa bandingkan dengan banyak kota besar lain di dunia seperti Tokyo, New York, London, bahkan Singapore dan Hongkong, Jakarta masih menang dalam jumlah dan kapasitas mall. Jakarta bahkan punya mall.yang buka sampai pagi!

 

Kalau dihitung secara total dalam satu negara, maka jumlah mall di Indonesia saya yakin lebih dari 500. Di Jakarta sendiri tak kurang dari 80 lebih mall. Belum lagi di Surabaya, Bandung, Medan, Bekasi, bahkan sampai kota kecil pun punya mall!

 

Saya pernah ke mall yang katanya terbesar seluruh Afrika, terbesar seluruh Amerika Selatan, terbesar seluruh Jepang, dan terbesar seluruh US, yang kalau dibandingkan masih kalah besar dan mewahnya dengan mall di Bandung atau bahkan Bekasi. Negara kita adalah negara mall, dan kita adalah para ahli mall.

 

Makanya kalau kemudian presiden, para pemimpin daerah, juga ketua DPRD, mendorong pembukaan lagi mall, itu bukan semata kecintaan mereka pada mall, tapi salah satu penggerak ekonomi retail paling utama adalah mall. Mall lumpuh maka ekonomi seret, segampang itu.

 

Tapi bagaimana perilaku para pengunjung mall sendiri? Sepengamatan saya sebagai pencinta mall atau bahkan banyak yang menjuluki saya mallman karena seringnya ke mall, perilaku pengunjung mall sangat bervariatif. Ada yang sangat taat pada aturan, tapi banyak sekali juga yang sangat cuek dan intoleran, bahkan di mall yang mewah.

 

Pengunjung mall yang sangat segmented seperti Plaza Indonesia, Plaza Senayan, Pacific Place, dan beberapa yang lain, saya yakin akan lebih mudah diatur.  Di bawahnya adalah mall yang lebih heterogen seperti Kota Kasablanka, Pondok Indah Mall, Puri Mall, Tunjungan Plaza, dan Gandaria City, akan lebih sulit pengaturannya karena variasi pengunjungnya dari segi umur dan ekonomi lebih beragam.

 

Yang paling sulit saya pastikan adalah pengaturan pengunjung mall atau plaza dengan strata lebih rendah sekelas Cibubur Plaza, Slipi Plaza, berbagai ITC, Ambassador Mall, dan yang lain-lain. Begitu juga pengaturan mall-mall di daerah semacam Malang Town Square, Jember Plaza, City of Tomorrow Surabaya, dan yang lain-lain, akan jauh lebih sulit lagi.

 

Di mall besar di Cileungsi misalnya, pengunjung mall dengan seenaknya membuang puntung rokok ke lantai dan menginjaknya di food court mall. Kerumunan juga banyak sekali terjadi di setiap mall.

 

Pengaturan untuk pencegahan penularan pandemi di mall saya perkirakan akan sulit karena kesiapan dari pihak mall sendiri untuk menjaga social distancing dan kebersihan serta kesehatan mall.  Dibutuhkan aturan yang jelas dan tegas untuk pengunjung mall maupun petugas satuan pengamanan, pelayan toko, dan seluruh petugas servis di mall. Dan sekali lagi ini meskipun bukan suatu hal yang mustahil, tapi sangat sulit dilakukan di mall.

 

Ada tiga faktor terbesar di dalam penularan virus di mall. Yang pertama adalah dari orang ke orang secara langsung, baik melalui sentuhan fisik maupun percikan droplet. Yang kedua adalah melalui perantaraan benda lain seperti pegangan eskalator, tombol lift, uang, dan barang dagangan. Dan yang ketiga adalah melalui sistem AC di mall yang memungkinkan penularan secara airborne.

 

Dua hal pertama mungkin bisa diatasi pengunjung mall dengan mengenakan masker dan membatasi sentuhan dengan barang publik, tapi yang ketiga mutlak akan membutuhkan modifikasi sistem di AC sentral mall. Virus covid-19 ini bisa beredar melalui sistem AC kalau ada penderita atau pembawa virus di mall.

 

Pengalaman selama masa pandemik ini dalam belanja kebutuhan pokok di beberapa mall yang masih buka bisa menjadi contoh. Sangat sulit misalnya mengatur ibu-ibu untuk antri di kasir dan memilih barang. Dengan cueknya mereka masih saja menerobos antrian, mendesak orang dalam memilih barang, bahkan beberapa melepas maskernya dengan alasan panas. Dan ini bukan dominasi perempuan saja, melainkan juga pria dan bahkan anak-anak.

 

Belum lagi kalau saya lihat perilaku dari petugas parkir, satpam, dan bahkan pelayan toko, sebagian tidak memakai masker!

 

Apa kita bisa mentertibkan seluruh pengunjung dan karyawan mall dalam waktu singkat? Jawabnya mungkin bisa, kalau ada aturan yang ketat dan tegas pelaksanaannya, denda yang tinggi, dan ada contoh kasus yang jelas.  Orang Indonesia baru takut kalau ada denda yang besar dan aturan yang tegas. Buktinya mereka bisa tertib di negara orang kalau ke mall, contohnya perilaku orang Indonesia di mall-mall Singapore.

 

Dan apakah pengelola mall juga bisa melakukan antisipasi di sistem AC dan utilitas lainnya? Ini sebenarnya yang mutlak harus disiapkan.

 

Pendapat saya selaku pengamat mall, pemerintah harus buat dulu aturan main yang tegas disertai denda, dan kalau tetap ngotot ingin membuka mall, harus ada beberapa mall yang menjadi ujicoba pelaksanaan aturan selama minimal satu bulan. Beberapa mall dengan tingkatan dan jenis pengunjung yang berbeda akan bisa menjadi uji coba aturan.   Dan aturan ini berlaku untuk pengunjung dan pengelola mall, termasuk seluruh tenantnya.

 

Kalau tetap ngotot mall dibuka secara bersamaan seperti usulan Ketua DPRD DKI yang ingin membuka 64 mall secara serentak sebenarnya bisa saja. Sangat bisa malah, dan pasti banyak juga yang mendukung.

 

Tetapi pemerintah harus memastikan dulu ketersediaan lahan kuburan, peti mati, dan plastik pembungkus.

 

Akan ada banyak korban yang berjatuhan karena lantaran pembukaan lagi mall di masa pandemi yang masih belum berujung ini.

 

Hidup adalah pilihan, dan kalau memilih ingin mati di mall atau lantaran ngopi-ngopi di mall, itu juga suatu pilihan.  Begitu juga pilihan untuk mengorbankan pengunjung mall demi meningkatkan lagi ekonomi.

 

28 Mei 2020

#Corona   #covid-19   #newera   #mall