Puasa dalam Kerangka Fisika Kuantum dan Perwujudannya di Masa Pandemi

***
Puasa dalam Kerangka Fisika Kuantum dan Perwujudannya di Masa Pandemi

Oleh: Swary Utami Dewi

 

Pada 21 Mei 2020, ada sebuah zoom meeting yang kuikuti. Temanya: "Gateway to God's Love: Reflections on Deep Meaning of Fasting during the Pandemic". Narasumber yang hadir terbilang menarik. Pertama, seorang Rabbi dari UK, bernama Alexander Goldberg. Ia adalah Dekan di University of Surrey, sekaligus seorang aktivis HAM. Kedua, ada Prof. Komaruddin Hidayat, seorang akademisi terpandang di tanah air. Kemudian tak kalah pentingnya di sini adalah Kyai Rachmat Hidayat dan juga Yusuf Daud, seorang akademisi yang menekuni tasawuf. Dipandu Era Soekamto, diskusi ini memberikan pencerahan mendalam tentang makna puasa di masa pandemi. Menarik sekali kemudian saat saya melihat, ada titik temu pembahasan puasa dalam kerangka Fisika Kuantum, dan lebih lanjut bisa dikaitkan dengan apa dan bagaimana kita seharusnya di masa wabah global ini.

 

Romo Yusuf memulai dengan memberikan refleksi. Pada intinya puasa merupakan metode samawi untuk mendekatkan diri pada frekuensi Allah. Puasa juga merupakan momen rohani yang membawa manusia pada kebebasan (the gate to liberation).

 

Rabbi Alexander Goldberg menjelaskan bahwa puasa adalah jalan menuju Tuhan (a way to access God). Dengan puasa, manusia bisa mendekatkan diri pada Tuhan. Bagaimana penjelasannya? Puasa membuat manusia mampu berkosentrasi untuk mencapai kemurnian (purity) hingga kemudian manusia mampu mendekatkan diri dengan Tuhan dan menjangkau Cahaya Ilahi (the light of Holiness).

 

Rabbi Goldberg juga menjelaskan bahwa puasa nerupakan cara untuk pembebasan (liberation) dan pemisahan diri (separation) dari berbagai hal yang selama ini memenjarakan manusia seperti rasa cemas, ketakutan, dan sebagainya. Puasa juga merupakan ajang menebus dosa (redemption). Singkatnya puasa memberikan makna separation, purification, redemption dan liberation.

 

Selanjutnya, Prof. Komaruddin Hidayat (Mas Komar) mengajak kita menyelami makna puasa dengan terlebih dahulu menjelaskan rantai eksistensi (the chain of existence) pada diri manusia. Pertama, manusia memiliki jiwa nabati yang membuat manusia bisa tumbuh secara fisik, layaknya tumbuhan. Misalnya dari bayi, manusia tumbuh besar dan pada usia tertentu pertumbuhan berhenti, lalu semakin lama menjadi tua. Selanjutnya ada jiwa hewani yang menjadikan manusia ingin selalu mengejar kesenangan (searching pleasure) dan menghindari rasa sakit (avoiding pain). Jiwa ini menjadikan manusia begitu terpikat pada hal-hal duniawi semata. Manusia juga terikat pada nature, persis seperti hewan.

 

Kemudian ada jiwa insani, yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Di sini, manusia terikat pada culture karena keberadaan nalar. Jika burung misalnya membuat sarang dengan cara dan model yang itu-itu saja, maka manusia bisa membuat rumah dengan cara dan model bermacam-macam. Puncak dari jiwa insani manusia ini sendiri adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membuat manusia mampu menciptakan berbagai benda dan menemukan berbagai cara untuk mempermudah dan membuat nyaman hidup manusia. Manusia juga mampu menyaingi bahkan mengalahkan keunggulan hewan. Misalnya, manusia "iri" melihat kecepatan berlari jaguar dan kijang, maka manusia menciptakan mobil jaguar dan kijang. Manusia ingin terbang seperti burung, maka manusia menciptakan pesawat.

 

Saat berada pada jiwa insani ini, manusia bisa mengalami dua kemungkinan. Pertama naik kelas menuju jiwa rohani, atau mengalami degradasi kembali ke jiwa hewani. Jika manusia mampu mengontrol nafsu dan menggunakan nalar untuk hal-hal yang baik, masuklah ia ke jiwa rohani. Sebaliknya jika hanya mengandalkan nafsu dan mengejar kesenangan duniawi, maka derajat manusia turun ke jiwa hewani.

 

Dalam konteks jiwa insani inilah maka puasa memiliki peran yang sangat penting dan mendasar. Puasa mendidik manusia mengontrol naluri dan mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan jiwa hewaninya. Manusia yang berhasil mencapai jiwa rohani akan membangkitkan ruh (awakening) pada dirinya untuk bisa naik dan terkoneksi dengan Nur Muhammad. Dengan kata lain, manusia akan mampu terkoneksi dengan Allah sebagai Sumber Cahaya, Cahaya di atas cahaya.

 

Pada akhirnya, KH Rachmat Hidayat memperkaya penjelasan dengan penegasan bahwa puasa memiliki makna liberasi. Dengan puasa, manusia melatih diri untuk kemudian mampu bebas dari perbudakan hawa nafsu. Manusia juga bahkan mampu menghubungkan diri dengan "Cahaya di atas cahaya". Beliau juga menambahkan bahwa Islam adalah agama yang simpel. Ayat ke-6 surat Al-Fatihah berarti, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”  Jadi puasa adalah medium bagi seorang manusia untuk mendekatkan diri sehingga mencapai kesadaran tertinggi, yaitu Nur ala Nur. Perjalanan spiritual manusia ini sendiri dimulai dari kesadaran physical hingga ke tahap ether.

 

Menyimak semua penjelasan di atas, saya menemukan paling tidak ada dua benang merah dari semua paparan tersebut. Pertama, secara vertikal, puasa mendekatkan manusia kepada Yang Ilahi, membuat manusia terhubung dengan Tuhan. Dalam istilah Kyai Rachmat dan Mas Komar, puasa menjadikan manusia mampu menghubungkan diri dengan "Cahaya di atas cahaya", atau dalam istilah Rabbi Goldberg, the light of Holiness.

 

Karena terhubung ini, maka manusia lalu dimampukan untuk merefleksi sifat-sifat Ketuhanan. Ini tidak berhenti sampai di sini saja. Secara horizontal, puasa juga menjadikan manusia menonjolkan nilai-nilai Ketuhanan, misalnya cinta, welas asih, adil, bijaksana, peduli dan sebagainya, yang telah dibangkitkan karena terkoneksi dengan Yang Ilahi tadi.

 

Menilik kerangka berpikir Fisika Kuantum yang saya pelajari minggu sebelumnya, saya melihat ada benang merah antara Fisika Kuantum dengan puasa. Dalam Fisika Kuantum ditemukan bahwa ada pola energi (kekuatan) kasat mata yang menghubungkan semua benda yang ada di alam senesta ini.  Dengan kata lain, setiap dari kita terhubung dengan yang lain, baik itu dengan manusia maupun benda lainnya. Lebih lanjut, Fisika Kuantum menemukan bahwa karena terkoneksi, maka segala apapun yang kita fikirkan, rasakan serta yang kita alami berpengaruh pada apa yang ada di luar diri kita.

 

Dikaitkan dengan puasa, ada kata kunci "terhubung/terkoneksi" yang menjadikan puasa bisa dikaji dalam kerangka  Fisika Kuantum. Saat melatih diri dengan berpuasa, manusia memiliki frekuensi ke-Ilahian yang membuatnya terhubung dengan Tuhan sebagai kekuatan pencipta dan pengatur senesta. Ini juga dijelaskan oleh Romo Yusuf yang menyatakan bahwa puasa membangkitkan frekuensi kita untuk terhubung dengan Yang Kuasa. Atau dalam istilah Kyai Rachmat dan Mas Komar, puasa menjadikan manusia mampu menghubungkan diri dengan "Cahaya di atas cahaya", the light of Holiness.

 

Puasa, karenanya, merupakan spiritual gateway atau cara spiritual untuk terhubung dengan kekuatan yang menguasai seluruh semesta (Yang Ilahi). Dengan berpuasa yang menjadikan kita terhubung dengan "Cahaya di atas cahaya", manusia juga dimampukan untuk meraih dan merefleksikan nilai-nilai keilahian. Ini sejalan dengan penemuan Fisika Kuantum bahwa ada "kekuatan energi" yang terhubung dan mengatur semua, termasuk manusia, yang kemudian juga mengkoneksi manusia dengan apapun di luar dirinya.

 

Selanjutnya, Fisika Kuantum memberi makna bahwa apa yang difikirkan, dirasakan dan dialami oleh manusia akan terefleksi dan berpengaruh pada apapun yang ada di luar dirinya. Semua itu akan berdampak pada semua yang ada di semesta ini. Dikaitkan dengan puasa, puasa menjadikan manusia mampu mengendalikan diri, mengontrol hawa nafsu dan menggenggam nilai-nilai ke-Ilahi-an di dalam dirinya.

 

Dalam kerangka Fisika Kuantum, seperti yang sudah dijelaskan, bahwa apapun yang dialami manusia akan berpengaruh pada apapun di luar dirinya. Karena puasa menjadikan manusia mampu berfikir, merasakan dan bersikap yang insya Allah baik dan positif, maka sejalan dengan temuan Fisika Kuantum tadi, semua yang kita alami tersebut berpengaruh pada yang lain di luar diri manusia. Maka karena nilai dan sikap positif-lah yang dihasilkan dari puasa, sekitar kitapun akan "tertular" untuk berfikir dan bersikap positif. Dalam konteks pandemi ini misalnya, jika kita mampu berfikir positif dan tetap merasa bahagia, maka di sekitar kitapun juga demikian. Jika kita percaya bahwa kita bisa melalui semua ini dengan baik bahkan mampu mengubah ancaman menjadi peluang, maka orang lain di sekitar kitapun akan terpengaruh meyakini hal yang sama. Di sinilah kekuatan puasa menjadi sangat penting.

 

Selanjutnya, seperti telah disebutkan di atas, puasa juga menjadikan kita lebih memancarkan rasa cinta, welas asih dan peduli. Apa yang kita pegang ini, dalam kerangka Fisika Kuantum tadi, akan terefleksi ke luar diri kita. Bagaimana refleksi ini kemudian terwujud dikaitkan dengan masa Corona ini? Dalam hal ini, Rabbi Goldberg mengajak kita menjadi manusia yang "pro-active doing". Hasil dari puasa yang bernilai positif tadi, lebih lanjut sejatinya diwujudkan dalam bentuk tindakan yang pro-aktif. Nilai welas asih, cinta dan peduli di masa pandemi ini, hendaknya diwujudkan dengan tindakan berbagi kasih dan peduli sesama. Maka tidaklah heran, semakin banyak bentuk-bentuk kepedulian sosial muncul dalam Ramadhan untuk menolong sesama yang terkena dampak pandemi ini.

 

Akhir kata, semoga kita semua bisa menjadikan puasa ini sebagai jalan untuk terkoneksi dengan Allah, untuk kemudian mewujudkannya dalam berbagai bentuk fikiran, sikap dan tindakan yang bermanfaat bagi sesama di masa pandemi ini dan sesudahnya.