Cukup Sudah

***
Cukup Sudah
Swary Utami Dewi

Oleh: Swary Utami Dewi

Tangan Salma masih terus menakar minyak tanah yang sedang dibeli Tajang. “Sudah cukup 5 liter, Mak.” Teguran lelaki paruh baya itu menyadarkannya dari lamunan. Sesudah memberikan uang kembalian, Salma bergegas menutup warung. Sudah menjelang magrib. Dia tidak mau sedikitpun melewatkan waktu magrib, saat di mana dia merasa paling khusu' berdoa sesudah sholat, mengadu apa saja yang ada di hati kepada Yang Kuasa.

"Ke manakah ku akan mencari kekosongan jiwa? Ada rasa melayang dan hampa yang tidak terhingga. Sekecil apapun kekosongan itu, ia tetap dirasakan, karena kosong tetap kosong."

Salma mengakhiri kata-kata yang ditulisnya. Tahun ketiga sejak dia diharuskan menikah muda, jika lara hati tiba-tiba membuat batinnya nyeri, dia menulis dan menulis. Apa saja. Satu dua kalimat membuatnya sedikit bisa mengurangi pedih jiwa.

Ditariknya laci meja kemudian diambilnya cermin kecil. Salma menatap lekat-lekat wajahnya, wajah seorang perempuan di awal usia 30. Masih muda, cantik, segar. Dia memandang kembali ke kaca. Terngiang kata-kata sang suami, Matola, jika memuji, “Kita cantik, ji. Usia ta' sudah 30 lebih, tapi masih tetap cantik.”

“Yah, saya cantik.” Sambil menghela nafas dia memasukkan kembali cermin ke laci meja. Meski sudah belasan tahun menikah, dia masih tetap cantik bagi Matola. 

Tidak. Tidak hanya bagi Matola. Tapi juga bagi seorang laki-laki yang dua tahun terakhir ini mengisi hatinya. Salma tahu hatinya mencinta. Tapi dia tahu cintanya terlarang. Bisa-bisa seluruh keluarga melakukan siri' jika dia berani melangkahi adat dan norma masyarakat tempatnya lahir dan dibesarkan.

“Lagipula, saya punya suami yang baik dan sabar,” Salma meraba dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Karena itu, walaupun tahu hatinya hanya untuk Ali, tetangga yang baru bermukim di kampung dua tahun lalu, dia tetap menyimpannya rapat-rapat. Hanya matanya dan mata Ali yang tahu, kerap saling tatap, menyiratkan rindu yang mendalam.

"Pasangan hidup kita, suami atau istri, seringkali hampir memenuhi seluruh ruang jiwa kita dan menguasai hidup kita.

Tapi seringkali ada ruang-ruang kecil, kosong dalam batin. Saat seseorang yang tepat hadir, masuk ke relung kosong kecil itu, dia membuat batin terasa penuh.

Dia mungkin hanya sedikit memenuhi jiwa kita, karena telah diisi yang lain sebelumnya. Tapi karena dia yang membuat ruang itu penuh, dia menjadi kunci jiwamu.

Kehilangan dia akan membuatmu merasa ada relung-relung kosong lagi di batinmu. Karena itulah dia menjadi amat berharga."

Salma memejamkan mata rapat-rapat, menghela nafas panjang untuk mengurangi nyeri hatinya, mencoba mengingat suaminya yang baik untuk mengusir wajah Ali. Dengan cepat diletakkannya kembali pena dan perlahan dia menelungkup di meja. Merasa perih dan nyeri.

Suaminya memang baik. Matola, pria yang berusia 7 tahun di atasnya, dikawinkan dengan Salma saat perempuan ini masih berusia 16 tahun. Jarang sekali pria tinggi kurus itu berkata-kata. Diam, sediam malam yang selalu datang mendekap hidup Salma selama belasan tahun. Senyum bagi Matola adalah segalanya.

Usia 16 tahun!!! Salma baru saja menyelesaikan SMP dan siap mendaftar ke SMA. Seminggu sebelumnya dia berteriak girang melihat nilai-nilai yang luar biasa bagus tertera di ijazah. Dia melonjak setinggi mungkin, menarik Sukma, sahabat akrabnya untuk menari berputar-putar. Tarian dan teriakan mereka terhenti saat mereka sadar puluhan mata melihat dengan mulut ternganga.

Di luar pagar sekolah, Mamak, sang ibu, sudah menunggu. “Cepat pulang Nak,” lambainya kepada Salma. Salma mencuri cium di pipi Sukma. “Kita bertemu Senin mi. Saya langsung bawa semua keperluan pendaftaran. Kita jangan lupa jemput saya ji.” Sukma mengangguk kemudian melambai ceria.

Malam itu, Salma sedang bersiap-siap. Berkas-berkas yang diperlukan sudah disusun rapi dalam map coklat. Salma tersenyum memandang foto yang sengaja dipajangnya di sudut kiri map. “Asyiknya..., sedikit lagi saya sudah SMA.” Janji untuk tetap duduk sebangku dengan Sukma membuatnya semakin tersenyum.

Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi. “Tabe..Masuk, Mak.” Langkah Mamak yang didengarnya berat, lain dari biasa, membuat Salma mengangkat kepala, memandang wajah ibunya.

Tidak banyak yang bisa dimengerti Salma, setelah Mamak berbicara berputar-putar selama setengah jam, kecuali satu kalimat: “Kita bulan depan harus menikah dengan Matola”.

Salma membantah, berkali-kali menggeleng, mengatakan tidak. “Saya ingin terus sekolah Mak. Saya ingin sekolah. Besok saya dan Sukma akan mendaftar di SMA 1. Mamak sendiri yang membolehkan saya. Saya tidak mau kawin. Saya 16 Mak, masih 16...”

Salma ingin menekan nada suaranya yang tinggi, sadar bahwa di depannya adalah Mamak. Sesaat kemudian digigitnya bibir perlahan menahan tangis, memandang wajah Mamak yang tiba-tiba berlinang air mata. Nampak butiran mengalir deras di pipi perempuan paruh baya itu.

“Jawabanku tetap tidak Mak.“ Bisik Salma di telinga Mamak yang masih memohon, meratap sambil memeluknya erat-erat.

Tiba-tiba, pelukan Mamak mengendur. Dirasakannya tubuh Mamak melorot. Sigap Salma menangkap tubuh sang ibu, yang disangkanya jatuh pingsan. Tapi tidak. Mamak tidak pingsan. Tubuh Mamak terus molorot. Hingga akhirnya, membentuk posisi sembah. Masya Allah, Mamak yang melahirkannya, bersujud di hadapannya!

“Tolong Mamak, Nak. Lebik baik kita bunuh Mamak daripada menolak menikah dengan Matola.” Lemas rasa raga Salma. Sekuat mungkin dia menarik tubuh Mamak untuk berdiri. Mamak tidak beringsut sedikitpun: bersujud sambil terisak.

Salma tidak mampu membantah lagi. Melihat Mamak yang dicintainya bersujud terisak, kata itupun keluar dari mulutnya: “Ya Mak. Saya akan menikah dengan Matola.” Salma, entah bagaimana merasa, saat itulah belenggu mulai ditempatkan di raganya.

"Saya tidak akan bisa ke mana-mana, saya tidak akan ada di mana-mana."

Walau tidak pernah mengenal Matola sebelumnya, lelaki berkulit coklat itu sangatlah baik. Terlalu baik malah bagi Salma. Hampir tidak pernah keluar perkataan keberatan dari mulutnya. Tidak pernah dia menghardik atau memarahi Salma. Jika dia tidak setuju sesuatu, alis matanya hanya terangkat sedikit. Kemudian anggukan dan senyuman tersembul, menandai akhirnya dia setuju pada pendapat Salma.

Salma, sejak menyatakan anggukan karena sujud Mamak, kehilangan masa remaja. Salma kehilangan Sukma, sahabatnya yang kemudian pindah entah kemana. Salma kehilangan cita-citanya.

Laksana nahkoda kapal, Salma yang terbilang cerdas, lebih berani dan terbuka, mengendalikan semua sejak menikah. Rumah, mas kawin dari keluarga Matola, dirawat dan dikelolanya baik-baik. Rumah yang semula tanpa taman, ditata rapi. Dominasi mawar berwarna-warni yang mencuatkan duri menjadi kesayangan Salma.

"Perkawinanku bagaikan mawar, indah, namun durinya tetap ada.
Perkawinanku, tenang, tanpa riak gelombang, tapi jauh di dasar lautan, saya menghadapi badai ganas yang bisa menghempaskan kapal yang sedang berlayar.

Ketangkasan tukang kebunlah,yang membuat tangannya tetap tidak tertusuk duri.

Kelihaian nahkodalah, yang membuat kapal bisa tetap terkendali."

Dalam beberapa tahun, layaknya mawar yang merekah berkembang, semua yang dimiliki Salma tumbuh melesat. Kecerdasan Salma membuatnya mampu mengelola toko kelontong kecil, hadiah kawin dari Mamak, menjadi salah satu toko besar di kampung.

Dalam bilangan tahun kurang dari sebelah jari, tidak hanya toko Salma yang berkembang pesat. Tahun kedua pernikahannya, Salma sudah memomong bayi perempuan. Aisyah namanya. Bayi berkulit coklat, berbulu mata lentik itu, sejak lahir menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Salma.

Tahun ketiga sesudah Sukma pindah dari kampung, Salma mendapat buah tangan dari sahabatnya itu: sekardus buku. Di tumpukan paling atas, dia menemukan secarik kertas bertulis tangan. Tulisan Sukma tetap rapi, berderet miring ke kanan.

"Hampir tiga tahun saya meninggalkan kampung kita. Saya melanjutkan sekolah dan sekarang sudah hampir tamat SMA. Saya tidak bisa bersekolah di tempat di mana cita-cita kita direnggut. Saya tidak sampai hati melihat kita menikah muda. Tapi saya tahu, saya juga tidak bisa menahan itu terjadi pada ta'.

Sahabatku yang cerdas, ini adalah tanda cintaku kepada kita. Bacalah buku-buku ini. Jelajahi dunia. Buku akan membawa jiwa ta' berkelana. Jika kita merasa kesepian, senang, sedih, tumpahkah semua dalam tulisan. Buku yang kita baca dan kertas yang kita tulis, saya berharap jadi bagian dari diri ta' sejak saat ini.

Berkelanalah bersama mereka. Bebaskan jiwa ta'. Raga kita terikat,
tapi jangan kita lupa kalau jiwa tidak bisa dibelenggu. Sayangku buat kita selalu, 
SUKMA"

Salma tergagap. Dengan cepat diletakkannya buku bersampul coklat berisi curahan hatinya kembali ke laci. Dari gaya mengetuk, tahu dia Aisyah-lah yang ada di muka pintu.

“Masuk mi, masuk sayang.” Dipandangnya Aisyah yang menyeret kaki dengan muka tertekuk. Wajah Aisyah persis Matola. Tapi sifat dan kekerasan hatinya, tidak lain dari titisan Salma. Wajah gadis berusia 15 ini terlihat agak kusut.

“Saya bingung menentukan sekolahku, Mak. Minggu depan sudah pembagian ijazah. Wati mengajak saya masuk ke SMA 1. Tapi…” kata-kata gadis manis ini tercekat di tenggorokan.

“Tapi kenapa?” wanita matang ini memeluk anaknya yang mulai tampak berkaca-kaca.

“Saya tidak mau membuat hati Mamak sakit. Mamak dulu mau masuk sekolah itu bersama Tante Sukma. Tapi tidak jadi karena Mamak harus…” Aisyah tidak melanjutkan ucapan karena tetesan air mata sudah mulai mengalir di pipinya.

“Hei sayang, tidak ada kaitannya antara sekolah itu dengan nasib Mamak. Kita boleh memilih sekolah apapun yang kita suka. Kita mau duduk sebangku lagi dengan Wati?” Salma menjentik ujung hidung Aisyah dengan ujung jari, kemudian mengusap air mata putrinya itu.

Anggukan Aisyah terlihat mantap. Hati Salma berdegup, ingat kejadian belasan tahun lalu, saat ia dan sahabatnya Sukma berjanji akan duduk lagi bersama, sebangku di SMA 1. Dengan erat, dipeluknya tubuh Aisyah, yang sekarang ganti ternganga melihat ibunya menangis.

Hari berganti hari. Dua minggu sudah Aisyah dinyatakan lulus. Syukuran kecil dirayakan di rumah. Sang Nenek, ibu dari Salma, terlihat sibuk. Dia nampak gembira melihat cucunya bersukacita. Sesekali dipangkunya cucu tunggalnya itu sambil mengusap kepalanya penuh kasih.

Menjelang magrib, semua tamu sudah undur diri. Tinggal keluarga Matola yang sibuk membenahi sisa-sisa pesta syukuran. Salma yang sejak siang agak merasa pusing, meminta izin lebih dahulu masuk kamar. Matola membalasnya dengan anggukan tanda mengerti.

Baru saja melipat mukena sesudah menunaikan sholat isya, Salma mendengar ketukan. Sesaat kemudian nampak Mamak, sang ibu yang sudah terlihat makin tua, masuk. Salma yakin pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan Mamak. Perempuan ini hanya akan mengetuk pintu Salma jika ada hal yang cukup penting untuk disampaikan. Sang anak merasa yakin pasti soal umroh yang muncul. Bulan lalu Mamak memang berkata ingin umroh. Haji telah ditunaikan sepuluh tahun lalu. Tapi kerinduan kepada Ka’bah membuatnya ingin dibiayai pergi umroh oleh sang anak.

“Salma. Kita masih ingat keluarga Haji Darussalam?” Mamak mulai percakapannya perlahan. Salma mengangguk cepat. Dia menebak pasti Mamak ingin berkata bahwa dia akan berangkah umroh dengan istri Haji Darussalam, salah satu tokoh paling penting di kabupaten itu. Mamak memang berteman cukup dekat dengan istri sang tokoh.

Selama setengah jam, Mamak berbicara, memuji-muji keluarga itu. Kebaikan, kekeluargaan, ketenaran, semua dibicarakan Mamak. Lama-lama, Salma tidak mengerti apa yang dibicarakan Mamak. Sudah lama Mamak tidak berbicara memuji orang setinggi langit seperti ini. Terakhir sepuluh tahun lalu, itu terjadi sepulang Mamak dari haji. Di tanah suci, Mamak bertemu dengan Ustadzah Qonita yang terkenal cantik, pintar dan ramah.Perempuan inilah yang selama lebih dari seminggu terus menerus menjadi buah bibir Mamak.

Salma yang sudah merasa begitu mengantuk karena pengaruh pusing dan lelah seharian, mendadak berdiri. Nafasnya serasa hampir putus. “ Dua minggu lalu, Mamak dan Ibu Haji Darussalam sepakat untuk menikahkan Aisyah dan Sirajuddin, cucu tunggalnya. “ Akhirnya jelas juga ke mana semua pembicaraan Mamak bermuara.

Sang ibu yang melihat Salma berdiri pucat bagai mayat, segera mendudukkan anak satu-satunya itu. Tidak bereaksi sedikitpun, Salma tetap mematung. Tubuhnya sedingin es. Sesaat kemudian, dia merasa sesuatu menghantam hatinya, keras sekali, sudah tidak tertahankan. Salma sudah hampir muntah.

“Aisyah…!” ia berteriak sekuat mungkin.

Tergopoh Aisyah masuk mendengar jerit kencang ibunya. Tidak pernah seumur hidup ia mendengar sang mamak berteriak panik.

“Tenang Salma. Aisyah tetap akan bisa melanjutkan sekolah. Dia tetap boleh bersekolah, bahkan sampai unversitas sekalipun. Ibu Haji sudah berjanji memberikan mas kawin, tidak hanya rumah. Tapi juga ruko dan beberapa petak sawah. Aisyah akan hidup dengan sangat baik. Cucu Ibu Haji sangat baik, tampan, agamanya baik.” Bertubi-tubi penjelasan Mamak, tidak ditanggapi sedikitpun oleh sang anak. Dia tetap berdiri.

Sesaat kemudian, dia berkata kepada Aisyah, “Kemasi barang ta', Nak. Bawa yang perlu-perlu saja. Jangan lupa mi kita bawa semua ijazah ta'. "

Aisyah yang sejak tadi terlongo, segera keluar kamar, mendengar perintah sang Ibu yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Mendengar ribut-ribut, Matola menyusul masuk. Dia ternganga menyaksikan Aisyah sedang membongkar lemari, memasukkan beberapa potong baju ke koper kecil, memilah beberapa berkas untuk kemudian turut dimasukkan di atas susunan pakaian. Matanya mengikuti tangan sang istri yang lalu membuka laci meja, mengambil buku bersampul coklat untuk kemudian diselipkan di sisi depan koper.

“Salma,” katanya tergagap.

Mamak menoleh ke arah Matola. “Seminggu lalu Mamak sudah bicarakan ini ke Matola. Dia setuju.”

Salma berhenti mengemasi barang, menoleh ke Matola dan menatapnya dingin. Dingin sekali, tanpa ekspresi. Perut Salma terasa semakin mual.
“Aisyah!!!” Jerit sang ibu membuat gadis belia itu tergopoh-gopoh masuk, hampir terjatuh karena membawa dua ransel berukuran sedang.

“Iya Mak. Saya …” Sang gadis tidak jadi berkata. Dia ternganga. Di depannya, sang Nenek sedang menahan kaki ibunya, kemudian bersujud. Di sisi tempat tidur, sang ayah berdiri pucat pasi bagi mayat, diam tidak berkata-kata.

“Salma, anakku. Sekali lagi bantu Mamak, Nak. Ke mana Mamak taruh mukaku ini jika pernikahan ini gagal. Mereka akan datang melamar minggu depan. Tolong Nak, demi kebaikan kita semua.” Mamak berkata terbata-bata, sembari menangis dan tetap bersujud.

Salma dengan sekuat tenaga menarik kakinya yang ditahan Mamak. Dengan sekali sentakan, kaki itu lepas. “Nak, tolong Mamak. Aku Mamakmu, yang melahirkan kita.” Mamak masih bersujud, menggapai-gapai mencari kaki Salma. “Demi kebaikan ta', Nak. Demi kebaikan cucu saya.” Mamak mulai menangis, semakin histeris. Tubuhnya tetap tidak berdiri.

Salma terdiam cukup lama. Sesaat kemudian dia menoleh ke Matola, kemudian memandang sang ibu yang masih saja belum beranjak dari sujudnya, lalu ke arah sang putri.

“Ayo, Nak. Masih banyak yang harus kita lakukan. Biarkan ayah dan nenek ta' menyelesaikan urusan dan janji mereka.” Aisyah mengikuti langkah sang ibu yang keluar menggeret koper kecilnya.

Salma melangkah lambat tapi pasti, saat membuka pintu pagar. “Cukup sudah apa yang telah terjadi. Tidak akan saya biarkan Asyiah mengalaminya.”

Malam itu, di bawah sinar bulan yang redup, Salma dan Aisyah terus berjalan, beriringan, hanya berdua.

Banjarbaru, 22 Mei 2007