Menghadapi Virus Covid 19: Menggalang Modal Sosial Masyarakat

***
Menghadapi Virus Covid 19: Menggalang Modal Sosial Masyarakat
Oleh: S. Indro Tjahyono, pegiat sosial

Oleh: S. Indro Tjahyono, pegiat sosial

Penyebaran virus Covid 19 belum berhasil dibendung dan diatasi dengan meyakinkan. Pengetahuan tentang virus belum tuntas. Terakhir dinyatakan bahwa penyandang virus Covid 19 tidak selalu menunjukkan gejala seperti diperkirakan.

Negara Tidak Bisa Diandalkan

Setelah Wuhan diatasi, karena virus tidak lagi bisa dideteksi lewat metode konvensional, satu kota oleh pemerintah Cina terpaksa diblokade total. Pemerintah Italia secara diam-diam sudah angkat tangan untuk hadapi pandemi virus Covid 19. Jepang yang tidak pernah bersuara dalam berperang melawan virus tersebut tiba-tiba menyatakan akan umumkan keadaan Darurat.

Opini masyarakat sudah sampai pada kesimpulan bahwa situasi global sudah bisa disetarafkan dengan Perang Dunia Ketiga. Dalam perang seperti itu otoritas negara tidak mungkin diharapkan. Tidak perlu ada lagi pemisahan antara state (negara) dan masyarakat (society).

Dalam militer bisa dikatakan bahwa postur kekuatan militer sudah tidak mampu hadapi "musuh" yang bernama Covid 19. Perang ini adalah super proxy war yang hanya bisa dihadapi jika sukarelawan (para militer) dimobilisasi. Tentara reguler harus bersatu dengan laskar-laskar rakyat.

Harus Bergandengan

Dalam menghadapi virus Covid 19 komunikasi antara pejabat negara dengan rakyat terputus. Pejabat negara tidak terus terang dan rendah hati, sehingga masyarakat hanya menunggu tanpa mendapat kejelasan apa kebijakan yang akan diambil untuk mereka. Dalam menghadapi Belanda ,Tentara Rakyat Indonesia (TRI) bisa bergandengan dengan rakyat dalam melakukan gerilya.

Sikap seperti itu tidak terlihat dalam menghadang ekspansi virus Covid 19. Pemerintah bekerja sendiri dan terkesan lamban merespon pendapat dan fenomena di masyarakat. Inisiatif masyarakat tidak diapresiasi dalam mengatasi penyebaran virus, seperti membuat masker, disinfektan, penyemprotan disinfektan, pembuatan APD, bilik-bilik isolasi, bahkan ventilator.

Kebijakan untuk menginkorporasikan inisiatif masyarakat ke dalam program pemerintah dalam menghadapi inisiatif masyarakat tidak terlihat. Warung Tegal yang memberi makan gratis dan pendirian startup pasar online hanya dilirik dengan sebelah mata. Negara terkesan tidak hadir dan semakin arogan.

Situasi Anomie

Keadaan kita sudah sampai pada situasi anomie. Merton mengadopsi gagasan tentang anomie yang dilontarkan Durkheim dalam karyanya. Ia mendefinisikannya sebagai adanya  kesenjangan antara tujuan-tujuan sosial bersama dan cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. 

Dengan kata lain, individu yang mengalami anomie akan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama suatu masyarakat tertentu tetapi tidak dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan sah karena berbagai keterbatasan struktural masyarakat. Keterbatasan struktural yang dimaksud adalah kemampuan negara dalam mengorganisir masyarakat. Akibatnya, individu itu akan memperlihatkan perilaku menyimpang untuk memuaskan dirinya sendiri.

Inilah potret sosial kita saat ini. Pemerintah gagal bekerjasama dengan masyarakat walau kondisi darurat menuntut kedua belah pihak bergotong royong. Akibatnya muncul sikap individu menyimpang, yakni menunggangi kondisi darurat untuk tujuan politik kekuasaan domestik atau rakyat yang senang melihat pemerintahannya jatuh.

Fokus Hadapi Covid 19 Dulu

Negara lain berhasil memupuk solidaritas atau modal sosial dalam menghadapi virus Covid 19, minimal masyarakat mengikuti kebijakan berdiam diri di rumah. Di Indonesia, upaya pemerintah dalam mengatasi virus Covid 19, gugurnya para dokter, distribusi sembako, keringanan pembayaran listrik; sebaliknya juga tidak diapresiasi masyarakat. Malah para elit kelas menengah giat mencaci maki pejabat, memviralkan ketidakbecusan pejabat, dan minta presiden segera mundur.

Kalau mau melengserkan presiden sudah ada undang-undangnya. Dalam ancaman virus yang agresif ini juga tidak mungkin melakukan arak-arakan, justru tentara dan polisi yang dapat bebas bergerak. Lebih baik penanganan terhadap pandemi virus dijadikan fokus perhatian, dan tidak sibuk membuat gunjingan di media sosial yang bikin panik masyarakat.

Yang diharapkan adalah kearifan masyarakat untuk memisahkan mana masalah kemanusiaan dengan kepentingan kekuasaan, mana masalah sosial dengan politik, mana yang jangka pendek harus diatasi dengan solusi secara jangka panjang. Dalam menghadapi kecelakaan kita harus memnyelamatkan nyawa orang terlebih dahulu daripada mencari siapa yang salah dan yang benar. Perkara yang kita tolong seorang yang pernah mendzolimi hati kita atau seorang penjahat, biar nanti kebenaran dan hukum yang bicara.