Benarkah Poros Beijing melakukan tindakan represif terhadap etnis Uighur di Xinjiang, Tiongkok?

***
Benarkah Poros Beijing melakukan tindakan represif terhadap etnis Uighur di Xinjiang, Tiongkok?
Gugun Gumilar

Oleh: Gugun Gumilar

Benarkah Poros Beijing melakukan tindakan represif terhadap etnis Uighur di Xinjiang, Tiongkok? Apakah ada kelompok radikal, kelompok seperatis atau benar-benar murni diskriminasi terhadap etnis minoritas? Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)? Apa respon Poros Washington DC dan Poros Eropa ?

Sekarang ini sedang hangat di belahan dunia mana pun bicara etnis Uighyur. Hingga Ozil pemain Arsenal asal Jerman pun angkat bicara. Pro dan kontra, kritik dan beda pendapat adalah keniscayaan dalam demokrasi global. Sebagai manusia kita diberikan anugrah oleh Tuhan untuk bersyukur, berfikir dan bertindak. Karena di dunia ini banyak berbagai hal yang dapat kita lakukan sebenarnya untuk kebaikan masyarakat, terlebih untuk bangsa dan negara. Tetapi ada hal yang lebih penting dari politik, harta dan kekuasaan, yaitu itu Kemanusian (Presiden Republik Indonesia, KH. Abdurahman Wahid). 

Dua semester yang lalu, saya ngambil mata kuliah Hak Asasi Manusia (Human Rights) dan kelas Ecumenical Studies and Dialogue Vatican II. Kebetulan Doseen pembimbingg saya adalah seorang Nasrani dan satu lagi seorang Yahudi. Mereka berdua menyerankan agar mengambil mata kuliah tersebut. Seru kan? dan muridnya adalah seorang Muslim, dari negara Muslim terbesar sejagat raya katanya (sumber: Pew Research Center, Washington DC). Biasanya kami saling mengkritik dan diskusi di kelas satu sama lain: Yahudi, Nasrani, Islam. Tidak ada penodaan agama, karena dialog itu keterbukaan dan kejujuran dengan nuansa akademis. Tidak seperti di Kampung sebelah sedikit-sedikit penistaan, kafir, radikal, liberal dan lain sebagainya. 

Dalam diskusi kami bersama mahasiswa-mahasiwa PhD di dua kelas tersebut dan bersama pengajarr. YES, telah terjadi tindakan perampasan hak-hak minoritas terhadap Etnis Muslim Uighyur di Xinjiang. Tidak ada kelompok radikalis dan separatis. Ini adalah murni bahwa Pemerintah Tiongkok tidak memberikan hak-hak hidup yang layak, kebebasan beragama (religious freedom) diganggu, tidak adanya toleransi (religious tolerance) dan moderasi beragama serta melanggar Universal Declaration of Human Rights yaitu pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak manusia adalah dasar Kemerdekaan, Keadilan dan Perdamaian dan melangggar the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). 

Pemahaman dan pendekatan teori-teori ilmuan Barat dalam bidang Philosophy and Religion seperti John Hick, Catherine Cornille, Leonard Swidler, Hans Kung, Paul F. Knitter, Perry Schmidt-Leukel, Alan Race, D. Eck, David Tracy, Francis X. Clooney, Michael Barnes dan lain-lain selalu mengedepankan konsep dialog antar pemeluk beragama dan membangun kesepahaman (mutual understanding and building bridges) serta mengedepankan perdamaian dialog dikalangan umat manusia. Sehingga, negara dan masyarakat membangun peradaban dengan cara-cara manusiawi, rahmah (blessing & compassion), Kasih dan persaudaran. Tidak dengan cara-cara represif.

Berdasarkan Poros Washington DC dan Poros Eropa, melalui laporan PBB, Departmen Luar Negeri Amerika Serikat, Amnesti Internasional, Human Right Watch, dan Uni Eropa mengatakan “EU has called on China to respect religious freedom and change its policies in Xinjiang. And human rights organizations have urged China to immediately shut down the camps” (ForeignAffairs.com). Menlu Amerika Serikat beberapa hari ini mengeluarkan pendapat “China’s Communist Party propaganda outlets can censor Mesut Ozil and Arsenal Games all season long, but the truth will prevail. The CCP can’t hide its gross Human rights violations perpetrated against Uighurs and other religious faiths from the world” (Twitter, Pompeo). 

Pemerintah Tiongkok telah menahan jutaan orang dalam sebuah “Camp”. Mereka mendesak agar membebaskan dan mengeluarkan dalam “camp” tersebut supaya bisa berkumpul dengan keluarga, bapak, Ibu dan anak-anak mereka agar mendapatkan hidup yang layak dan manusiawi. 

Sekali lagi, walapun 3 Poros ini bersaing dalam dunia ekonomi dan tentu saja ada kepentingan geopolitik di balik sikap Poros Eropa, Poros Amerika, terhadap Poros Beijing. Namun, apapun itu “Kemanusian adalah Persaudaraan” lebih utama, ketimbang perang dagang, perang politik dan perang kekuasaan.    

Perjalanan ke Tiongkok 

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang oleh Poros Beijing dalam acara “Kemanusiaan, Keberagaman dan Perdamaian” dalam program PBB di kota Shanghai. Bertemu dengan sahabat-sahabat dari Tiongkok yang baik dan ramah. Saya tinggal selama 2 minggu di kota Shanghai dan kota Beijing. Saya sangat kagum terhadap peradaban Tiongkok dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang maju, teknologi, pariwisata, inovasi-inovasi baru dan tentu kekuatan perdagangan Tiongkok hampir mengalahkan kekuatan raksasa Amerika. Kini, perang dagang dua raksasa tersebut terus menerus bertarung di jagat raya. Tidak dapat dipungkiri bahwa etos kerja yang tinggi, pantang menyerah, inovasi-inovasi baru, dan mau belajar serta kerja keras itulah ciri khas negeri Tiongkok. Begitu juga diaspora yang tinggal di Amerika dan Eropa, mahasiswa terbanyak datang dari Tiongkok. Saya kagum kepada mereka belajar ilmu cepat dengan ulet, berdagang dengan laris dan ikatan emosional antara mereka sangat kuat. Itulah yang saya dapat selama bergaul dengan mereka di Poros Beijing, Poros Amerika dan Poros Eropa. Kini, mereka bisa bersaing, hingga mengalahkan bangsa-bangsa Barat dan menguasai dunia. Salut! 

Dalam setiap perjalanan biasanya saya harus mampir ke situs peradaban dunia dan sejarah negara mereka. Lalu, saya naik kereta cepat dari Shanghai ke Beijing dengan sahabat dari Tiongkok ke Beijing. Saya belajar dari sejarah kehidupan “Tembok Besar Raksasa Tiongkok”. Saya mesti belajar dari situ, hingga sekarang Tiongkok menjadi kekuatan besar dunia yang mampu bersaing dengan raksasa Amerika dan Eropa. Lalu, saya ingat seorang Raja Prancis, Napoleon Bonaparte (d. 1821), pernah berkata, “China is a sleeping giant “Let her sleep, for when she wakes she will shake the world.” Ini adalah prediksi Napoleon. Lalu, 200 tahun kemudian, Tiongkok bukan hanya bangun tapi mengaung dan merajai dunia. 

Singkat cerita, saya naik dan lari menuju puncak. Saat dipuncak Tembok Besar Raksasa Tiongkok. (Wikipedia: Great wall, Length: 21.19618 million, size: 21,196 km (13,171 mi), diameter: 21.19618 million). Saya merenenung bahwa dibalik peradaban sejarah ini, ada kekuatan orang-orang dinasti dan raja-raja berjuang untuk negara dan bangsanya. Sejarah Tembok Besar Raksasa Tiongkok dimulai ketika dibangun untuk melindungi dinasti Qin yang baru didirikan Qin Shi Huang (221–206 SM) terhadap serangan bangsa nomaden Asia. 

Alkisah, bangsa Tiongkok pun datang ke Nusantara. Budaya Islam masuk ke Nusantara melalui perantara Muslim Tiongkok. Teori ini berpendapat bahwa Muslim Tiongkok dari Kanton ke Nusantara masuk pada abad ke-9 dan menjadi awal mula masuknya budaya Islam ke Nusantara. Eventually, hal ini dikuatkan dengan bukti bahwa Sultan Raden Patah (Raja Demak) adalah keturunan Tiongkok. Nama asli Sultan Raden Patah adalah Jin Bun/Jìn wén (lihat: H.J.de Graaf dan Th.G. Pigeaud dalam paper “Chinese Muslim in Java in 15th and 16th Century”).

Dari argumen itu semua, memang mengusai geopolitik dunia itu “wibawa” dengan kekuatan “Power dan Ekonomi”, namun terkadang kebijakan politik terhadap “Persaudaran dan Kemanusian” selalu menjadi tantangan di semua Negara Adidaya bahkan setiap negara mempunyai persoalan yang sama. 

Bukankah Rosul Muhammad SAW selalu mengedepankan dialog untuk menemukan jalan tengah yang disepakati (kalimatun sawa) ?

Bukankah Piagam Madinah (Madina Charter) membuat perjanjian dengan seluruh elemen masyarakat Madinah yang majemuk saat itu untuk hidup berdampingan dengan damai, itu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad?

Bukankah Dialogue Vatican II mengajarkan semangat perdamaian dan persaudaraan, dialogue toward the other, whether Christian or another religion? 

Bukankah hak-hak minoritas etnis Uighur telah diambil hak-hak hidupnya oleh Penguasa Tiongkok dan ini bertentangan dengan Deklarasi HAM dunia dan the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)? 

Bukankah Pemimpin Spiritual, Dalai Lama, mengajarkan kita hidup damai “the World does not belong to leaders, the world belongs to humanity”?

Lalu konstitusi kita mengajarkan “Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusian dan prikeadilan” (UUD 1945), bukan?

Setiap kita dilahirkan untuk hidup damai dan rukun. Jika ada ketidakadilan di sekitar Anda, siapa pun itu, agama, ras, suku apan pun itu, tolong lah mereka, bantulah mereka dan suarakan hak-hak mereka agar didengar oleh para penguasa dimana pun itu. 

‘’Al mu’minu lil mu’mini kal bunyaani yasyuddu ba’dhuhuu ba’dhaa”. #Uighur.

Semoga bermanfaat dan selamat berkaya untuk bangsa dan negara.

Gugun Gumilar, Mahasiswa S3 di bidang Philosophy and Religion, DCU, Dublin.

Dublin, December 21, 2019