Pertamina 62 Tahun: Tantangan Menyelamatkan Aset Bangsa 

***
Pertamina 62 Tahun: Tantangan Menyelamatkan Aset Bangsa 
Salamuddin Daeng

Oleh: Salamuddin Daeng

Aset Pertamina adalah aset bangsa Indonesia, mengingat Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kepemilikannya 100 % milik negara. Dengan demikian menyelamatkan aset Pertamina berarti menyelamatkan aset bangsa Indonesia. 

Baru baru ini Pertamina menghadapi masalah terkait dengan keberadaan aset. Pertamina berkonflik dengan Pemerintah Kalimantan Tengah (Kalteng) terkait aset jalan raya sepanjang 60 km. Jalan Hauling di Kabupaten Barito Timur (Bartim) yang dibangun Pertamina digugat oleh pemerintah daerah Provinsi bersama perusahaan swasta yang dalam beberapa tahun terakhir mengklaim aset Pertamina tersebut. 

Aset Jalan Hauling merupakan aset yang bernilai bagi Pertamina.   Aset ini sekarang   telah diserahkan pengelolaannya kepada Patra Jasa anak perusahaan Pertamina. Pendapatan atas aset ini sedikitnya Rp. 30 miliar setiap tahunnya. Ini merupakan jumlah yang tidak sedikit dalam menopang pendapatan Pertamina. 

Mungkin karena nilai aset itu besar,  Pemerintah Provinsi Kalteng dan perusahaan swasta yang memanfaatkan aset Pertamina bagi kegiatan pertambangan batubara tersebut, berencana menghadap Menteri BUMN. Besar kemungkinan pemda akan meminta agar aset Jalan Hauling diserahkan pengelolaanya pada pemerintah daerah. 

Bagaimana Sejarah Aset Pertamina?

Mungkin publik bertanya, Bagaimana Pertamina bisa punya aset jalan raya sepanjang 60 km? Bukankah pertamina adalah perusahaan migas, bukan perusahaan jalan tol? 

Pada era Orde Baru Pertamina adalah agen pembangunan. Peran pertamina dalam pembangunan ekonomi sangat besar. Terutama pasca boom minyak pada 1970 an. Keuangan Pertamina merupakan penopang pembangunan ekonomi nasional saat itu.

Dr. Kurtubi dalam seminar di Universitas Mataram (UNRAM) beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Jalan Langko yang merupakan jalan kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dibangun dengan uang Pertamina pada era Kepemimpinan Ibnu Sutowo.  Kurtubi ingin menjelaskan bangaimana kiprah Pertamina membangun bangsa. 

Pertamina membangun jalan jalan nasional, pelabuhan, bandara, kawasan industri, dan lain sebagainya. Presiden secara leluasa menggunakan keuntungan hasil migas untuk merasakan instruksi presiden (inpres) saat itu. Sekolah, puskesmas, rumah sakit dibangun dari hasil minyak. Wajar karena saat itu Pertamina adalah pemegang mandat dari negara untuk menguasai dan sekaligus mengelola migas.

Jika seluruh yang dibangun Pertamina menjadi aset Pertamina sekarang, maka aset pertamina tentu sangatlah besar, tersebar di seluruh penjuru tanah air, berupa jalan, jembatan, pelabuhan, AirPort dan lain sebagainya. Namun aset-aset tersebut ada yang dilepas, disumbangkan atau dihibahkan bagi kepentingan umum. Sebagian dipertahankan karena masih menopang bisnis perusahaan. 

Bisakah Aset Pertamina Diselamatkan?

Mudahnya prosedur menghibahkan aset, membuka peluang moral hazard dari pihak pihak tertentu ingin menguasai  aset pertamina untuk kepentingan pribadi maupun kelompok atau oligarki kekuasaan tertentu.

Prosedur menghibahkan aset Pertamina tidak terlalu sulit yakni tinggal diputuskan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), karena RUPS nya tunggal yakni Pemerintah, maka sebetulnya tinggal keputusan pemerintah. Hanya memerlukan alasan yang banyak dan masuk akal untuk menghibahkan atau menjual aset tersebut ke pihak lain. 

Sehingga pemihakan menteri BUMN dan komisaris utama Pertamina faktor penting yang menentukan apakah aset Pertamina bisa diselamatkan atau tidak. Jika Menteri BUMN dan komisaris utama nanti memutuskan untuk melepaskan kepemilikan aset, dan mencoretnya dari neraca Pertamina, maka lenyap dan hilanglah aset Pertamina tersebut. 

Apakah ini akan terjadi dalam kasus Jalan Hauling di Barito Timur? Ini sangat bergantung pada pemihakan Menteri BUMN Erik Tohir, dan Komisasris Utama Pertamina Basuki Cahaya Purnama. Jika aset ini sampai lepas maka ini akan menjadi preseden buruk bagi aset pertamina yang lain nantinya. Kasus ini bisa menjadi pembuka jalan bagi pelepasan aset pertamina yang lain dengan alasan bukan “core” bisnis.

Selamat Ulang Tahun Pertamina, Semiga Menjadi yang Paling Unggul dalam Pengandian pada Bangsa dan Negara