Media Massa Berperan Meredam Konflik

Mencegah Perpecahan Untuk Indonesia Damai

***
Mencegah Perpecahan Untuk Indonesia Damai
Ali Akbar Soleman, Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Terbit

Gelaran Pemilu 2019 sudah selesai. Pasca putusan sidang sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2025.

Seruan dan ajakan untuk melakukan rekonsiliasi pasca pemilu terus disampaikan banyak kalangan.  Seruan agar rakyat tak perlu lagi dibawa-bawa dalam ketidakpuasan akan hasil Pemilu, terus digelorakan. Kini saatnya seluruh elemen bangsa merajut kembali kebersamaan untuk persatuan Indonesia. 

Perbedaan dan perseteruan selama masa kampanye Pemilu, yang membuat negeri ini seakan-akan terpecah-belah karena perbedaan preferensi politik di Pilpres 2019, harus di akhiri.  Kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Jakarta jangan terulang kembali karena merugikan kita semua. Untuk itu, semua pihak yang bertarung pada pemilu maupun pilpres harus bisa menerima hasil akhir yang menetapkan Jokowi-Ma’ruf sebagai presiden dan wapres terpilih.

Semua harus menerima hasil pemilu dengan lapang dada; baik yang menang tentunya menerima, yang kalah akan menerima juga. Semua pihak menahan diri dan mengembalikan semua proses pemilu sesuai dengan tahapan dan mekanisme hukum yang berlaku. Jangan ada lagi main hakim sendiri, jangan ada upaya membenturkan antarpendukung kedua pasangan calon.  Kepentingan bangsa dan negara harus menjadi prioritas utama. Apapun hasil pemilu, dan siapapun pemenangnya, harus diterima semua pihak.

Siapa pun pasangan calon yang menang untuk segera merangkul pasangan calon yang kalah, dan pasangan yang kalah segera mengucapkan selamat kepada yang menang. Tidak hanya pasangan calon, semua tokoh yang menyatakan dukungan dan para petinggi partai diimbau untuk siap melakukan rekonsiliasi.

Kita sepakat dengan mereka yang menyatakan bahwa Pemilu bukan persoalan kalah dan menang namun bagaimana rakyat dapat merasakan keadilan ketika rakyat tidak punya tempat mengadu. Rakyat menginginkan ada perubahan untuk negeri ini untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Di sisi lain, tokoh agama, masyarakat dan para pemuka adat agar menaburkan ceramah yang meneduhkan. Sampaikan pesan perdamaian bagi umat. Sampaikan imbauan agar rakyat tidak melakukan kerusuhan yang bisa merugikan dirinya sendiri dan bangsa ini.

Sekali lagi kita ajak semua anak bangsa untuk memiliki semangat persahabatan, bergandengan tangan untuk bersama mendahulukan kepentingan bangsa. Damai dan sejahteralah negeri ini.

Kini saatnya kita bersatupadu untuk membuat negeri ini makmur. Apalagi Indonesia punya semua persyaratan untuk menjadi negara besar dan maju. 

Harapan kita semua elit ataupun tokoh nasional dapat menenangkan massa mereka pasca pemilu 2019 agar tidak terjadi konflik pada tingkat bawah. 

Sekali lagi kita mengingatkan, jangan hanya gara-gara Pilpres saling bermusuhan. Menjaga persaudaraan dan persatuan lebih penting dari sekedar Pilpres.Tak ada untungnya berkonflik. Konflik berkepanjangan hanya akan membuat negeri ini terpuruk dan penderitaan rakyat.

Jurnalis Damai

Tak hanya para elit, politisi, para tokoh agama dan masyarakat, media massa juga harus mampu berperan dalam mencegah konflik atau kerusuhan di masyarakat. Banyak pengalaman yang memperlihatkan bagaimana kekuatan kata-kata dapat mengarahkan suatu bangsa ke dua arah yang berbeda, maju atau hancur. Pada peristiwa konflik provokasi kekerasan sering kali datang dari media, seperti penggunaan kata “kerusuhan” yang mungkin saja sebenarnya hanya keributan kecil, tetapi sudah diterima sebagai peristiwa besar dan berbahaya.
 
Itulah sebabnya, peran media massa dalam mencegah kerusuhan dan kekerasan di tengah masyarakat, kalangan praktisi media perlu menerapkan konsep jurnalisme damai atau peace journalism yang membangun pemberitaan dengan konten-konten yang memperlihatkan situasi damai dan hubungan antar individu yang baik. 

Kita harus menyadari bahwa konflik itu tidak ‘sedap’ karena bisa dan sangat merusak peradaban, membuat semua terkoyak. Itulah sebabnya penerapan peace journalism merupakan jalan yang tepat untuk menjaga keutuhan dan perdamaian.

Peace journalism sangat tepat diterapkan mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki suku, agama, dan ras yang beraneka ragam. Banyaknya suku, agama dan ras jika tanpa disadari toleransi dapat menimbulkan konflik dan perpecahan. 

Itulah sebabnya media massa yang berperan membentuk opini publik harus mampu memfilter dan menyeleksi pemberitaan apa saja dan seperti apa peristiwa konflik tersebut diberitakan sehingga tidak menyulut konflik di tengah masyarakat. Pemberitaan berimbang dengan prinsip jurnalisme damai dapat meredam konflik. 

Saat ini bukan saatnya lagi insan pers menerapkan prinsip jurnalisme ‘perang’ dengan memberitakan konflik secara tidak berimbang dan disajikan secara “membabi buta” tanpa memperhatikan norma-norma budaya yang ada. Jurnalisme perang  justru akan  memperparah sebuah konflik yang terjadi di masyarakat.  

Media massa harusnya mampu mencari, mengkonstruksi, dan menyajikan fakta-fakta di lapangan secara proporsional tanpa ikut “bermain” dalam pusaran konflik. Media massa haruslah menjadi penengah dan penenang antardua kepentingan sehingga mampu meredam konflik yang mungkin akan terjadi, bukan malah sebaliknya memberitakan hal-hal bombastis yang dapat memperkeruh suasana dan memperuncing masalah.  

Pemberitaan tentang konflik di media massa dapat membawa pengaruh pada dua hal. Pertama, pemberitaan media justru memperluas eskalasi konflik. Kedua, dapat membantu meredakan dan menyelesaikan konflik. Pendapat yang saling bertentangan diharapkan akan bermuara pada satu kesepakatan penyelesaian.

Jurnalisme damai harus berdiri di atas nama kebenaran yang menolak propaganda dan kebohongan di mana kebenaran dilihat dari beragam sisi tidak hanya dari sisi “kita”.

Menurut Lynch dan McGoldrick dalam Oktarianisa (2009: 545), hal yang paling penting dalam jurnalisme damai yaitu, menggunakan wawasan yang lebih luas dalam memandang dan menganalisa sebuah konflik dan mentransformasikannya sebagai konsep yang seimbang, adil dan akurat dalam melaporkan berita. 

Terpenting adalah, media hendaknya selalu menjadikan kode etik jurnalistik sebagai asas dalam melakukan aktivitas pemberitaan.

Kita mengingatkan, persatuan dan kesatuan bangsa adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dan merupakan kartu mati yang harus dijaga dan dipertahankan. 

Seluruh anak bangsa harus bersama-sama mencegah segala bentuk tindakan yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan. Juga  harus bersama-sama mencegah terjadinya gangguan Keamanan dan Ketertiban di Masyarakat (Kamtibmas).

Sekali lagi kita mengingatkan, jangan hanya gara-gara Pilpres saling bermusuhan. Menjaga persaudaraan dan persatuan lebih penting dari sekedar Pilpres. Tak ada untungnya berkonflik karena konflik hanya akan membuat negeri ini terpuruk dan penderitaan rakyat.

*) Oleh: Ali Akbar Soleman, Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Terbit