The Lawyers Pokrol Bambu Potret Kasus Kekerasan dalam Seks di Pengadilan  

***
The Lawyers Pokrol Bambu Potret Kasus Kekerasan dalam Seks di Pengadilan  
Erwin Kallo (pertama dr kanan)/ ist

Ulasan : Yan Widjaya

Jakarta, HanTer - Masa kini. Raden Mas Wicaksono menasihati rekanan pengacaranya, Erwin Kallo, “Kau masih ingat kode etik kita? Tak boleh menolak klien, bahkan kalau iblis datang pun kita bantu.”

Sedangkan kepada kliennya, sambil mengisap cerutu Wicaksono dengan entengnya bilang, “Di negeri kita ini, kepastian hukum adalah ketidak-pastian itu sendiri.”

Lantas pada klien Johan Nabawi yang tidak ingin menceraikan isteri, “Hanya orang bodoh yang mau menceraikan isteri secantik ini!”

RM Wicaksono memang pengacara kondang dan mahal bertarif selangit.  Sebaliknya ada pula ppkrol bambu murah yang dibayar recehan, yakni Suparman Simanjuntak, SH, dan kawan-kawan. Uniknya pengacara blasteran Batak-Sunda ini sering dipanggil Superman.

Rekanannya ada yang menangani kasus tabrak lari, namun setelah si penabrak yang anak pejabat bernegosiasi damai dengan keluarga, ia cuma dikasih Rp 200.000,- untuk ongkos taksi. Ada lagi yang menjadi pembela seorang penjudi, malangnya keluarga sang klien menolak bertanggung-jawab. Hanya Cessie Siregar yang biasa menangani kasus NTR (Nikah Talak Rujuk) yang berhasil menggaet klien meyakinkan, Nina Tanjung. Wanita muda cantik ini ingin menuntut cerai dari suaminya, Johan Nabawi. 

Apa pasal? Ternyata Johan mengidap sadomachosist, gemar menganiaya sebelum melakukan hubungan seks. Nina tidak kuat diperlakukan begitu terus-menerus, meskipun mereka sudah dikaruniai seorang puteri, Nayla.

Johan yang menjadi klien Wicaksono, dinasihati agar mencari sandsack lain untuk pelampiasan kelainannya, misalnya pada wanita panggilan. Alih-alih menjadi pengacara Johan yang ingin mempertahankan keutuhan rumah-tangganya, Wicaksono malah mengincar Nina yang dijanjikan boleh gratis menempati sebuah rumah mewahnya. Namun Nina telanjur saling bersimpati dengan Suparman, si pengacara melarat.

Adu taktik strategi hukum berkembang di Pengadilan. Saksi sang pembantu diajukan. Realita penegakan hukum terpapar. Siapa yang menang perkara dan berhak mengasuh Nayla, sang anak? Bagaimana dengan harta gono-gini? Komedi getir dunia pengacara sekaligus mengungkap moralitas pengadilan...

Pengacara                    

Tahukah  Anda apa peran favorit yang paling diincar oleh para artis Hollywood?

Seratus persen benar kalau Anda menjawab peran tokoh pengacara. Kenapa begitu? Ya, karena seorang pengacara selalu terlihat mantap betul memancarkan aura cerdas, tangkas, pintar, penuh percaya diri, berwibawa, serta memenangkan debat seru sengit dalam adu argumentasi di persidangan Pengadilan, pokoknya mewakili sosok idola golongan intelek.

Lewat novel-novel detektif tempo dulu mencuat nama Perry Mason, sedang masa kini yang berada di deretan teratas daftar novelis berlatar pengadilan adalah John Grisham. 

Lihat aktor-aktris kondang  yang pernah memerani pengacara kelas satu dalam film-film popular antara lain; Paul Newman dalam The Verdict (1982), Tom Cruise berduet dengan Demi Moore dalam persidangan mahmilub A Few Good Men (1992), Matthew MacConaughey di A Time to Kill (1994), Keanu Reeves vs Al Pacino di The Devil’s Advocate (1997), dan Robert Downey Jr lawan Robert Duvall di The Judge (2014). Tak terlupakan akting aktor nomor wahid Bollywood, Amitabh Bachchan, sebagai pensiunan pengacara dalam Pink (2016). Sedangkan untuk film Indonesia yang terlintas sekilas di benak saya tentu saja penampilan Darius Sinathrya saat debat dengan Adinia Wirasti dalam Susah Sinyal (2018).

Hakekatnya jalannya persidangan di pengadilan Indonesia berbeda dengan di Amerika. Adu debat sengit yang sering dipamerkan film Hollywood mustahil terjadi di persidangan pengadilan kita yang berjalan tertib dan boleh dibilang bernuansa ‘tawar’ bahkan ‘dingin’.

Toh kini Erwin Kallo (53 tahun), seorang sarjana hukum dan politisi nekad bikin sebuah film bersumber pengalamannya sebagai pengacara. Hal ini karena  saat kecil dulu pernah main tiga film drama yang berlokasi di kota kelahirannya, Makassar; Senja di Pantai Losari (1975), Embun Pagi (1977), dan Jumpa di Persimpangan (1978). Namun ayahnya, Hamzah Kallo, seorang prajurit TNI Kodam XIV Hasanuddin, mencegahnya terus berakting agar mengutamakan sekolah.

Maka Erwin pun kuliah di Fakultas Hukum Universitas Proklamasi 45 Jogjakarta (S1), dan melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Trisakti di Jakarta (S2).

Baru kini Erwin kembali ke habitat atau hobinya, dunia film. Caranya mendirikan perusahaan film. Produksi perdananya, The Lawyers Pokrol Bambu. Uniknya, bertolak belakang dengan Erwin, puterinya, Nayla Azzahra (yang ikut mendukung film ini) justru tak ingin jadi artis,  lebih memilih karier pengacara, “Lebih enak, cuma ngomong-ngomong dapat duit!” ujar gadis cilik ini.

Untuk menyutradarai, Erwin mempercayakan pada Azar Fanny yang pernah menulis cerita dan skenario film Lagu Untuk Seruni (1991). Penggarapan masih still klasik, tak ubahnya film televisi. Sayang juga ilustrasi musik yang ditata Thoersi Argeswara kelewat bising, terkesan tumpang tindih dengan dialog yang tengah diucapkan para tokoh.    

Pokrol bambu adalah sebutan yang sejatinya meledek, mengejek para advokat yang lihai bersilat lidah dan berusaha mengalahkan lawan debatnya dengan segala macam cara. Dalam film ini ditampilkan dua golongan pengacara. Yang kelas atas, kaya raya, harum, dan perlente, diperani Roy Marten, didukung Erwin Kallo sendiri. Kantor mewah mentereng.

Tarif ratusan juta rupiah. Sedangkan yang kelas recehan, berkantor dalam gang, Honor murah, bahkan pernah dibayar dengan sayur-mayur, diwakili Dicky Chandra dan kawan-kawannya. Mungkin saking kelewat sering berakting komedik di televisi maka mantan Wagub Garut (2009 – 2013) ini terbawa ingin terus melawak atau tampil kocak.

Klien mereka diperani Jerio Jeffry sebagai suami yang dituntut cerai, dan sang isteri sensual yang diperani Kartika Berliana. Aktris veteran Rina Hassim ditampilkan menjadi Hakim pemimpin persidangan, bersama produser Sumarni Kamaruddin SH menjabat Hakim Kedua.  

Secara keseluruhan alur cerita film ini berjalan linear, lempeng lurus-lurus saja. Tak urung terjadi clash kejutan pada anti-klimaks antara sang klien dengan pengacaranya. Minimal upaya Erwin Kallo untuk menyuguhkan sebuah  dramedi, bukan horor seperti trend film Indonesia belakangan, sepatutnya mendapat perhatian dari para penonton film nasional.

Genre             :  Drama-Komedi   
Produksi         :  Erwin Kallo Films    
Produser         :  Erwin Kallo, Sumarni Kamaruddin SH   
Sutradara         :  Azar Fanny               
Cerita               :  Erwin Kallo                
Skenario          :  Azar Fanny  
DOP                :  Hendro Tolatole                

Para Pemain     :  Dicky Chandra, Roy Marten, Kartika Berliana, Jerio Jeffry, Rina Hassim, Mugi C, Tengku Rina, Poeljangga, Dika Anggara, Michelle Michy, Sumarni Kamaruddin, Musdalifah, Tanti Saragih, Ika Pavita, Syarif Tiwung, Nayla Erwin
Kategori             : 17 Tahun ke Atas    
Durasi                :  90 Menit
 

#The   #Lawyers   #Film   #Kekerasan