Melihat Dengan Duka Mendalam, Korban Gagal Ginjal dan Korban Kanjuruhan

- Sabtu, 12 November 2022 | 00:52 WIB
Ilustrasi korban gagal ginjal dan korban kanjuruhan
Ilustrasi korban gagal ginjal dan korban kanjuruhan

Oleh:

M. Nigara
Wartawan Olahraga Senior


BUKAN ingin membanding-bandingkan jumlah korban. Satu kematian saja, sesungguhnya sudah terlalu banyak. Nyawa tak bisa dipertukarkan dengan apa pun.

Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung. Meredam emosi, menenggelamkan kepentingan pribadi atau kelompok. Saya ingin kita semua bisa melihat persoalan dengan jernih.

Dengan hati bersih, kita melihat dua persoalan ada dihadapan kita. Dua persoalan yang sudah pasti tidak diinginkan oleh siapa pun. Dua persoalan yang seharusnya tidak kita tunggangi baik terang-terangan apalagi sembunyi-sembunyi. Baik untuk kepentingan politik apalagi ekonomi.

Prasangka Buruk
Tentu, ajakan saya ini pasti tidak berlaku bagi mereka yang sejak awal telah memiliki rasa benci begitu rupa. Meski mereka membungkus kebencian itu serapi mungkin. Tapi, tanpa mereka sadari justru mencuat dengan sendiri. Semakin kuat mereka menutupinya, kebencian itu sendiri berontak untuk menampakkan dirinya.

Dalam ilmu psikologi, Dr. Sigmund Freud mendefinisikan benci sebagai pernyataan ego (ke-akuan) yang ingin menghancurkan sumber-sumber ketidak bahagiaannya. Definisi benci yang lebih baru menurut  Penguin Dictionary of Psychology  (Wikipedia) adalah “emosi yang dalam dan bertahan kuat, yang mengekspresikan permusuhan dan kemarahan terhadap seseorang, kelompok, atau objek tertentu”. (Kompasiana/ 21/2/2010)

Seseorang semakin mudah berprasangka buruk saat membenci orang lain. Tidak peduli apapun yang dilakukan orang yang dibenci, seolah-olah itu salah di mata orang yang membenci. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri.

Seringkali manusia terlalu yakin menilai orang lain dari apa yang dia lakukan, padahal baru sekali menyaksikannya. Belum tentu seseorang tahu bagaimana keseharian dan kebiasaannya sebelum itu. Mulailah sikapi pikiran-pikiran negatif itu dengan baik. Coba sadari situasi tertentu saat mulai muncul banyak pikiran negatif. Saat sudah sadar mulai banyak pikiran negatif yang muncul, kita bisa lebih mengontrol pemikiran kita. Mencegah diri untuk terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri. (pijarpsikologi.org, 24/4/2022).

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tiga Serangkai Angkatan Baru Penulis Muda Indonesia

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:49 WIB

PMN dan Kepemilikan Saham Publik di BUMN

Selasa, 3 Januari 2023 | 12:05 WIB

Satria Piningit, Di Mana Kau Berada

Rabu, 28 Desember 2022 | 10:33 WIB

Keniscayaan untuk Gus Yaqut

Rabu, 21 Desember 2022 | 06:31 WIB

Messi atau Deschamps, Now or Never

Minggu, 18 Desember 2022 | 17:34 WIB

Teroris Konstitusi dan Republik Rasa Kerajaan

Senin, 12 Desember 2022 | 11:41 WIB

Titipan dan Saran Visioner

Sabtu, 10 Desember 2022 | 20:27 WIB

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi 

Senin, 28 November 2022 | 16:00 WIB

Pelayanan Kesehatan dan Keadilan Sosial

Sabtu, 26 November 2022 | 20:11 WIB

Ini Benar-benar Potret Wajah Kita

Jumat, 25 November 2022 | 18:51 WIB
X