Tak Mau Berubah, Polri Mengkhianati Reformasi!!!

- Selasa, 27 September 2022 | 10:55 WIB
Gedung Mabes Polri (Istimewa/Net)
Gedung Mabes Polri (Istimewa/Net)

Polri adalah anak kandung Reformasi. Reformasi telah membebaskan Polri dari pengaruh kemiliteran TNI melalui UU No. 2 Tahun 2002. Reformasi mengamanatkan Polri sebagai insitusi penegak hukum sipil/supremasi sipil yang mengedepankan humanitarian dan hak asasi manusia, tapi saat ini justru telah mengkhianati amanah reformasi itu sendiri.

Dalam kurun waktu 24 tahun telah merubah peran dan wajah Polri menjadi arogan, sombong, sewenang-wenang, hedon, kebal hukum, dan bahkan lebih militer daripada TNI sendiri. Reformasi bukan menjadikan Polri menjadi profesional, justru telah memundurkan kultur, moralitas dan bahkan pondasi sistemnya.

Kasus terbunuhnya Brigadir Joshua harus menjadi pelajaran penting bagi institusi Polri untuk melakukan perubahan fundamental. Dorongan ini datang dari berbagai pihak, Menkopolhukam dan bahkan Presiden pun senafas untuk melakukan reformasi terhadap institusi Polri.

Baca Juga: Ribuan Pemuda Batak Bersatu Demo di Kejagung, Tuntut Hukum Mati Ferdy Sambo Tahan Putri Candrawathi

Kritik publik yang sangat masif hanya disikapi dengan ucapan lip service. Praktik kekerasan, kesewenang-wenangan dan main hakim sendiri, arogansi, tindakan berlebihan hingga tak manusiawi masih kerap dilakukan oleh Kepolisian.

Polri seakan terjerembab dalam comfort zone sistem kotor ini dengan mengangkangi nilai-nilai reformasi dan tak ada keinginan untuk berubah.

Hal ini jelas kontraproduktif dengan fungsi Kepolisian yakni untuk pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, serta pelayanan kepada masyarakat. Perubahan fundamental tentu harus dimaknai dengan melakukan kinerja penegakan hukum yang tegak lurus, pembenahan kultural dan struktural bukan justru fokus pada membangun citra.

Fakta dilapangan, sudah lebih dari tiga bulan kasus terbunuhnya Brigadir Joshua belum menemukan jalan terang, seakan tidak ada harapan apalagi keadilan. Lambannya penegakan hukum-pun mencerminkan ada kegamangan, bahkan upaya perlindungan terhadap aktor-aktor di Kepolisian yang powerfull agar tidak tersentuh hukum. Kondisi ini telah meneguhkan kembali pada publik bahwa Polri secara institusi sedang melakukan bunuh diri massal.

Baca Juga: Mengorbankan dan Membebani Rakyat Miskin, Tolak Wacana Konversi Elpiji 3 Kg ke Kompor Listrik

Disaat Polri sedang membangun public trust, disisi lain tak mampu terbendung arus gelombang besar kasus-kasus yang selama ini tertutup rapat dan melibatkan oknum Polri terbuka silih berganti tak ada habisnya. Dari tindak pidana korupsi, oknum Polri menjadi beking dengan membiarkan dan melindungi kegiatan judi onlie, pinjol, tambang ilegal, perdagangan solar/migas, perdagangan manusia, narkoba hingga ke persoalan runtuhnya etika moralitas anggota terus mewarnai pemberitaan media.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Tiga Serangkai Angkatan Baru Penulis Muda Indonesia

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:49 WIB

PMN dan Kepemilikan Saham Publik di BUMN

Selasa, 3 Januari 2023 | 12:05 WIB

Satria Piningit, Di Mana Kau Berada

Rabu, 28 Desember 2022 | 10:33 WIB

Keniscayaan untuk Gus Yaqut

Rabu, 21 Desember 2022 | 06:31 WIB

Messi atau Deschamps, Now or Never

Minggu, 18 Desember 2022 | 17:34 WIB

Teroris Konstitusi dan Republik Rasa Kerajaan

Senin, 12 Desember 2022 | 11:41 WIB

Titipan dan Saran Visioner

Sabtu, 10 Desember 2022 | 20:27 WIB

Transformasi Perpustakaan Berbasis InklusiĀ 

Senin, 28 November 2022 | 16:00 WIB

Pelayanan Kesehatan dan Keadilan Sosial

Sabtu, 26 November 2022 | 20:11 WIB

Ini Benar-benar Potret Wajah Kita

Jumat, 25 November 2022 | 18:51 WIB
X