• Senin, 8 Agustus 2022

Catatan dari Makkah; DUKUN VS PESULAP: Kapitalisasi Agama Berkedok Kearifan Lokal

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 18:35 WIB
HM. Zahrul Azhar Asumta, SIP., M.Kes
HM. Zahrul Azhar Asumta, SIP., M.Kes

Oleh: HM. Zahrul Azhar Asumta, SIP., M.Kes

Akhir- akhir ini dunia maya Indonesia diramaikan dengan “perseteruan” antara pesulap berambut merah dengan seorang yang oleh pengikut dan pengagumnya dipanggil “Gus”. Tokoh pertama memang seorang pesulap, sedang tokoh kedua pesulap yang menyelubungi dirinya dengan aura supranatural.

Berita ini seakan tidak merelakan ada jeda trending topic setelah para model Citayam Fashion Week kembali menjadi anak-anak Citayam seperti sedia kala. Hampir setiap hari akun Facebook saya muncul postingan tentang perseteruan dua pesulap ini.

Baca Juga: Buktikan Tetap Solid, KIB Daftar ke KPU Bersama, Airlangga: Ini Babak Baru Menuju Pemilu 2024

Jika si Pesulap Rambut Merah membela diri bahwa tindakannya sekedar ingin membongkar praktik perdukunan si “Gus Pesulap” yang ulahnya ia yakini penuh dengan tipu muslihat, para pendukung si “Gus Pesulap” tidak kalah garangnya dalam membela tokoh panutannya. Komen para netijen menambah riuh “ruang gladiator” dunia maya.

Membicarakan praktek perdukunan antara Indonesia dengan Arab Saudi, negara yang mengklaim dirinya paling nyunnah dan anti Bid’ah ini, seperti bumi dan langit. Jika di Indonesia perdukunan dianggap sebagai hal lumrah, di Arab Saudi perdukunan adalah bagian dari praktik sihir yang layak dihukum. Jangankan perdukunan, berdoa sambil memegang Maqmm Ibrahim saja diusir dan dicap syirik oleh laskar Masjidil Haram.

Baca Juga: Menko Airlangga Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Masih di Atas Inflasi

Di Arab Saudi, ada hukum yang mengatur tentang sihir dengan ketat. Sihir diklasifikasi sebagai pelanggaran berat. Pelakunya terancam hukuman maksimum, yaitu pancung.
Di Arab Saudi juga ada polisi agama yang disebut Mutawa. Selain itu, Arab Saudi juga memiliki Magical Unit yang fokus memberantas praktik-praktik perdukunan di negara gurun ini. Sekalipun demikian, praktik “kapitalisasi agama” mudah ditemukan, sekalipun ada plus minusnya. Misalnya, penerapan tasrih ( izin berbayar) bagi jamaah haji lokal adalah salah satunya.

Sementara itu, Indonesia terkenal dengan negara dengan budaya dan keyakinan yang sangat beragam. Keragaman ini menjadi sebuah energi yang mampu membawa Indonesia menjadi negara besar yang memilki semboyan “Bhinneka Tungal Ika”.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen untuk Siapa?

Minggu, 7 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Jokowi-SMI, Pembangkit Batubara dan G20

Senin, 1 Agustus 2022 | 12:18 WIB

Memaknai Haji Mabrur dalam Hidup

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:09 WIB

Halaman 74 Putusan MK

Jumat, 8 Juli 2022 | 21:55 WIB

Sekarang Saya Jawab…

Minggu, 26 Juni 2022 | 17:03 WIB

Megawati Gagal Paham Soal Papua

Jumat, 24 Juni 2022 | 20:30 WIB

Pertanyakan Soal Islah Bahrawi

Minggu, 19 Juni 2022 | 23:22 WIB

Negeri Akhirat

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:43 WIB

Pentingnya Ilmu Terkait Kita Bermadzhab

Kamis, 9 Juni 2022 | 08:50 WIB

Keuntungan BUMN Yang Membahayakan

Rabu, 8 Juni 2022 | 09:37 WIB

Politik Uang Ambang Batas Pilpres

Selasa, 7 Juni 2022 | 23:22 WIB

Great Anies = Great Indonesia

Selasa, 7 Juni 2022 | 08:32 WIB
X