• Senin, 8 Agustus 2022

Halaman 74 Putusan MK

- Jumat, 8 Juli 2022 | 21:55 WIB

Oleh: AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

Sambil menunggu persiapan wukuf di Arafah, saya membaca kiriman file PDF Putusan MK Nomor 52/PUU-XX/2022. Yaitu putusan terkait judicial review atas Pasal 222 UU Pemilu yang diajukan DPD RI dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Ada yang menarik jika kita cermat membaca kalimat demi kalimat dalam putusan tersebut.

Di halaman 74, dari putusan sebanyak 77 halaman itu, tertulis salah satu pertimbangan majelis hakim terkait materi gugatan. Dikatakan begini –saya copy paste sesuai aslinya--.

‘Mahkamah menilai, argumentasi Pemohon II didasarkan pada anggapan munculnya berbagai ekses negatif (seperti oligarki dan polarisasi masyarakat) akibat berlakunya ketentuan Pasal 222 UU 7/2017. Terhadap hal tersebut, menurut Mahkamah, argumentasi Pemohon II yang demikian adalah tidak beralasan menurut hukum, karena tidak terdapat jaminan bahwa dengan dihapuskannya syarat ambang batas pencalonan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden oleh partai politik atau gabungan partai politik maka berbagai ekses sebagaimana didalilkan oleh Pemohon II tidak akan terjadi lagi.’

Baca Juga: Pendemo Geruduk KPK, Tuntut Pengusutan Dugaan Korupsi Suharso Monoarfa

Nah… artinya oligarki itu ada dan nyata. Tetapi menurut MK, tidak ada jaminan mereka akan hilang dengan dihapusnya Pasal 222 itu. Jadi artinya dibiarkan saja seperti ini; oligarki tetap ada dan polarisasi yang merugikan masyarakat tetap ada.

Jadi upaya kita dan puluhan elemen masyarakat lain yang telah mengajukan judicial review atas Pasal 222 dengan semangat untuk meminimalisir kerugian rakyat yang timbul akibat Pasal tersebut, yang ditolak oleh MK, karena bagi MK tidak ada jaminan dengan dihapusnya Pasal 222 itu, lantas kerugian yang dialami rakyat ---akibat adanya Oligarki dan Polarisasi—akan hilang. Jadi dengan kata lain, apakah bisa dibuat dalam kalimat; biar saja kerugian itu terus dirasakan rakyat.

Inilah yang disebut oleh banyak tokoh, termasuk Yusril Ihza Mahendra dalam tulisan terbarunya, bahwa MK bukan lagi menjadi the guardian of the constitution dan penjaga tegaknya demokrasi, tetapi telah berubah menjadi the guardian of oligarchy.

Baca Juga: Ambang Batas Pilpres dan Pilkada sebagai Akar Korupsi Politisi

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen untuk Siapa?

Minggu, 7 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Jokowi-SMI, Pembangkit Batubara dan G20

Senin, 1 Agustus 2022 | 12:18 WIB

Memaknai Haji Mabrur dalam Hidup

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:09 WIB

Halaman 74 Putusan MK

Jumat, 8 Juli 2022 | 21:55 WIB

Sekarang Saya Jawab…

Minggu, 26 Juni 2022 | 17:03 WIB

Megawati Gagal Paham Soal Papua

Jumat, 24 Juni 2022 | 20:30 WIB

Pertanyakan Soal Islah Bahrawi

Minggu, 19 Juni 2022 | 23:22 WIB

Negeri Akhirat

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:43 WIB

Pentingnya Ilmu Terkait Kita Bermadzhab

Kamis, 9 Juni 2022 | 08:50 WIB

Keuntungan BUMN Yang Membahayakan

Rabu, 8 Juni 2022 | 09:37 WIB

Politik Uang Ambang Batas Pilpres

Selasa, 7 Juni 2022 | 23:22 WIB

Great Anies = Great Indonesia

Selasa, 7 Juni 2022 | 08:32 WIB
X