• Jumat, 1 Juli 2022

Singa Marhaen Tak Pernah Menggusur Kaum Papa dan Hanya Sibuk di Sosial Media

- Kamis, 2 Juni 2022 | 21:08 WIB
Ilustrasi penolakan penggusuran paksa. Foto: ekuatorial
Ilustrasi penolakan penggusuran paksa. Foto: ekuatorial

Oleh: Iswara Mahardika

Seorang kakek yang sudah sangat tua dari pedalaman kabupaten Malang pernah mendekatkan saya kepada gagasan-gagasan besar Marhaenisme. Kebijakannya di usia senja menuntun kata-kata keluar dari mulutnya secara indah dan terkendali. Sebagian besar kami bersepakat mendapuknya sebagai guru, Ideolog Marhaenisme. Kala itu anak-anak muda se-Malang Raya mungkin juga satu paham dengan kami.

Beruntungnya saya yang pernah hidup cukup lama di atas bumi Malang Kucecwara, tempat lahirnya ratusan guru ideologi. Mereka yang sanggup bercerita sehari semalam tanpa jeda. Dari pitutur raja-raja Jawa, kisah-kisah pemberontakan pangeran kerajaan hingga patriotisme klasik ala Prabu Kertanegara, keturunan 'Si Jagoan Jalanan' Ken Arok, yang nekat memotong telinga utusan dari Mongol, negeri yang kala itu menguasai 3/4 dunia. Ujaran yang melegenda, “bilang sama rajamu, Singosari tak sudi dijajah Cina!”

Beruntungnya saya dapat dipertemukan dengan singa-singa tua itu diakhir penghujung hidup mereka. Kedalamannya memahami semua aliran keagamaan secara kritis dari Islam, Katolik, Protestan, Yudaisme, Hindu, Budha, Konghucu, Kristen-Ortodoks, Kristen-Koptik Alexandria membawa saya pada alam nirwana yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuhan itu sumber yang Esa.

Merekalah guru yang tak tergantikan. Guru dengan lelaku Zuhud hingga nafas terakhirnya. Guru, saya memanggilnya Singa Marhaen. Tentu saja mereka tak pernah membuat puisi yang merendahkan Cadar dan lantunan Adzan!

Singa Marhaen yang saya kenal juga tak sekalipun memperlakukan kaum papa secara serampangan. Apalagi menggunakan kekuasaannya untuk menggusur kaum miskin dari tanah kelahirannya. Seperti yang dilakukan Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah atas kasus di desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah.

Akibat kasus kekerasan di desa Wadas itu, Ganjar beroleh sentimen negatif paling besar di antara nama-nama kandidat terpopuler, seperti Prabowo dan Anies Baswedan. Kata 'Ganjar' lebih banyak mendapat sentimen negatif dari warganet. Dikutip dari Litbang Kompas 24 Februari 2022.

Lebih lanjut Kompas mencatat bahwa selama kurun sepekan itu, ada 96.300 perbincangan warganet dari berbagai platform media daring terkait kata ”Ganjar”. Perbincangan tersebut menghasilkan 450.000 interaksi di antara para pengguna media sosial.

Ganjar mendapat sentimen negatif sebesar 37 persen. Jumlah itu terpaut cukup jauh dibandingkan Anies yang mendapat sentimen negatif 19,1 persen dan Prabowo sebesar 9,6 persen.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekarang Saya Jawab…

Minggu, 26 Juni 2022 | 17:03 WIB

Megawati Gagal Paham Soal Papua

Jumat, 24 Juni 2022 | 20:30 WIB

Pertanyakan Soal Islah Bahrawi

Minggu, 19 Juni 2022 | 23:22 WIB

Negeri Akhirat

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:43 WIB

Pentingnya Ilmu Terkait Kita Bermadzhab

Kamis, 9 Juni 2022 | 08:50 WIB

Keuntungan BUMN Yang Membahayakan

Rabu, 8 Juni 2022 | 09:37 WIB

Politik Uang Ambang Batas Pilpres

Selasa, 7 Juni 2022 | 23:22 WIB

Great Anies = Great Indonesia

Selasa, 7 Juni 2022 | 08:32 WIB

Menyongsong G20 Presidency dan Deman Balapan

Kamis, 2 Juni 2022 | 16:49 WIB

Ngeri, Kampanye LGBT di Kedubes Inggris

Selasa, 24 Mei 2022 | 21:44 WIB

Kader Pintar Cegah Stunting

Senin, 23 Mei 2022 | 13:21 WIB
X