• Sabtu, 13 Agustus 2022

Catatan Ketua MPR RI: Upaya Berkelanjutan Untuk Maksimalkan Nilai Tambah SDA

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 15:17 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

Apa yang sudah dilakukan pemerintah sejauh ini adalah upaya berkelanjutan untuk memaksimalkan nilai tambah SDA seperti nikel, bauksit dan tembaga. Belum lagi potensi energi hijau. Potensi pembangkit listrik tenaga hidro sangat besar karena Indonesia memiliki 4.400 sungai. Begitu juga dengan potensi pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal). Pembangkit geothermal sangat melimpah dengan potensi mencapai 29 ribu megawatt, namun baru bisa direalisasikan sekitar 2.000 Megawatt.

Selain itu, sudah menjadi pemahaman bersama bahwa barang tambang lain yang kini diincar modal asing adalah nikel dan bijih bauksit. Dua barang tambang ini tersedia dalam jumlah memadai. Cadangan nikel di perut bumi Indonesia mencapai 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini mencakup 52 persen dari total cadangan nikel dunia yang volumenya mencapai 139,42 juta ton Ni.

Tentang potensi bijih bauksit, Kementerian ESDM mencatat, jumlah sumber daya bijih terukur bauksit di Indonesia mencapai 1,7 miliar ton, dan logam bauksit 640 juta ton. Cadangan terbukti untuk bijih bauksit 821 juta ton, dan logam bauksit 299 juta ton. Setelah diolah, bijih bauksit menjadi alumina untuk membuat logam aluminium yang pemanfaatannya sangat beragam, seperti komponen atau bahan baku bangunan dan konstruksi, ragam komponen mesin, transportasi, kelistrikan, kemasan dan barang tahan lama lainnya.

Keragaman SDA Indonesia yang berlimpah ini belum digarap dengan maksimal akibat keterbatasan modal dan teknologi. Padahal, ketika nantinya komunitas global merealisasikan kesepakatan untuk tidak lagi menggunakan energi fosil yang polutif, keragaman SDA itu akan sangat dibutuhkan dunia. Itu sebabnya, kegiatan mempromosikan potensi SDA secara berkelanjutan menjadi sangat penting, termasuk mengundang atau mengajak calon-calon investor yang potensial.

Kendati butuh modal besar dan teknologi terkini untuk memaksimalkan nilai tambah semua SDA itu, tidak berarti Indonesia berada di posisi lemah atau mau ditekan oleh modal asing. Kekayaan dan keragaman SDA itu justru memperkuat daya tawar Indonesia. Dengan daya tawar yang kuat, pemerintah tetap mengedepankan kerja sama saling menguntungkan dengan semua calon investor.

Seperti sudah diungkap sebelumnya, pada forum KTT G-20 di Roma, Italia, November 2021, Presiden Joko Widodo menolak menandatangani rancangan dokumen perjanjian rantai pasok (supply chain agreement) atas kandungan SDA di Indonesia. Kandungan SDA yang begitu strategis di perut bumi nusantara itu mendorong sejumlah anggota G-20 ‘merayu’ dan ‘memaksa’ Indonesia menyepakati rancangan perjanjian rantai pasok itu.

Kalau dokumen perjanjian rantai pasok itu ditandatangani, sama artinya Indonesia menyatakan bersedia melepaskan sebagian hak mutlak-nya dalam mengelola dan memanfaatkan SDA di bumi nusantara, dan selanjutnya perjanjian itulah yang akan mendikte Indonesia.

Menanggapi kebutuhan dunia akan energi baru dan terbarukan yang bahan bakunya berlimpah di dalam negeri, Presiden Jokowi bersama para menteri telah memulai kerja mempromosikan potensi SDA nusantara, serta mencari dan mengajak para calon investor dari manca negara. Ini adalah proses kerja keras dengan durasi yang sangat panjang.

Demi kesejahteraan seluruh rakyat, kerja keras yang berkelanjutan ini sudah pasti akan dan harus diteruskan oleh generasi muda Indonesia terkini.

*) Ketua MPR RI/Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNPAD/Dosen Fakultas Hukum, Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen untuk Siapa?

Minggu, 7 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Jokowi-SMI, Pembangkit Batubara dan G20

Senin, 1 Agustus 2022 | 12:18 WIB

Memaknai Haji Mabrur dalam Hidup

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:09 WIB

Halaman 74 Putusan MK

Jumat, 8 Juli 2022 | 21:55 WIB

Sekarang Saya Jawab…

Minggu, 26 Juni 2022 | 17:03 WIB

Megawati Gagal Paham Soal Papua

Jumat, 24 Juni 2022 | 20:30 WIB

Pertanyakan Soal Islah Bahrawi

Minggu, 19 Juni 2022 | 23:22 WIB

Negeri Akhirat

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:43 WIB

Pentingnya Ilmu Terkait Kita Bermadzhab

Kamis, 9 Juni 2022 | 08:50 WIB

Keuntungan BUMN Yang Membahayakan

Rabu, 8 Juni 2022 | 09:37 WIB

Politik Uang Ambang Batas Pilpres

Selasa, 7 Juni 2022 | 23:22 WIB
X