• Selasa, 17 Mei 2022

Maporina, Kembali Ke Fitrah Dan Alam

- Rabu, 11 Mei 2022 | 11:32 WIB
Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi
Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi

Oleh: Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi Dan Dewan Pakar Maporina Sumbar

Selain isu energi bersih dan ramah lingkungan yang menjadi kecenderungan perhatian negara-bangsa di dunia untuk eksistensi kehidupan manusia. Semenjak Tahun 1990, isu pertanian organik telah mulai berhembus keras di berbagai negara belahan dunia, terutama kawasan benua Eropa.

Isu ini diawali oleh ketiadaan pengelolaan limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, dedaunan, sayur-sayuran, dan lain-lain) yang menimbulkan permasalahan lingkungan. Kemudian, memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai tersadarkan akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis di sektor industri pertanian. Maka itu, untuk menjaga keberlangsungan pola hidup sehat manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup yang hijau dan lestari menjadi pilihan arif dengan mengkonsumsi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

Adalah data dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO, 2002) yang mengkonfirmasi, bahwa selama 10 tahun terakhir ini banyak bermunculan penyakit akibat keracunan zat kimia yang digunakan untuk pertanian (pestisida dan pupuk kimia). Produk pertanian yang memiliki residu bahan kimia beracun dapat memicu proses degradasi kronik, penuaan dini, dan penyakit degeneratif. Pestisida kimia merupakan bahan beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Pestisida kimia bersifat polutan sehingga dapat menyebarkan radikal bebas yang mengakibatkan kerusakan organ tubuh, mutasi gen, dan gangguan susunan saraf pusat.

Baca Juga: Waspada dan Jaga Diri serta Keluarga dari LGBT

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bukti, bahwa terdapat hubungan pestisida sebagai penyebab timbulnya kanker, tingkat kesuburan menurun, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Salah satu kajian kasus dampaknya pernah dilakukan di beberapa Negara benua Asia terhadap pekerja wanita yang bekerja di perkebunan dan berhubungan langsung dengan penggunaan pestisida, seperti para pekerja yang ada di Malaysia. Para pekerja wanita yang hampir setiap hari menggunakan pestisida telah mengakibatkan gangguan kesehatan yang kronis dan akut, seperti gatal-gatal, sesak napas, sakit dada, nyeri otot, mata rabun, pusing, sakit kanker, serta perut mual dan nyeri.

Peluang Dan Potensi

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meminimalisir perluasan penyakit tersebut, yaitu memilih gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi bahan pangan alami. Slogan “Back to Nature” yang pada akhirnya menjadi arah baru (trend) masyarakat dunia harus ditindaklanjuti dengan mengakomodasi kebutuhan masyarakat konsumen akan produksi pangan organik.

Menanggapi perkembangan yang terjadi ditengah masyarakat dunia tersebut, mau tidak mau sistem budidaya seharusnya meninggalkan pola produksi lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Dengan demikian, pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Apakah itu Pertanian Organik? Pertanian organik adalah sebuah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan kepada bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi Keropos

Kamis, 12 Mei 2022 | 22:43 WIB

Maporina, Kembali Ke Fitrah Dan Alam

Rabu, 11 Mei 2022 | 11:32 WIB

5 Mei 2022: Kadis Covid-19 Tambah 250

Kamis, 5 Mei 2022 | 18:18 WIB

Makna Pulang

Selasa, 3 Mei 2022 | 20:36 WIB

Nasehat untuk Prof. Budi Santoso

Selasa, 3 Mei 2022 | 18:52 WIB

Memperkuat Ekonomi Kerakyatan

Sabtu, 30 April 2022 | 11:48 WIB

Kebebasan Dulu dan Kini

Kamis, 21 April 2022 | 11:18 WIB
X