• Minggu, 25 September 2022

Termasuk Diantaranya Atlet Tinju, Menpora Amali Dukung Pemulihan Korban Kerangkeng Manusia di Langkat

- Selasa, 5 April 2022 | 21:10 WIB
Menpora Zainudin Amali saat menerima Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu.
Menpora Zainudin Amali saat menerima Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu.

Jakarta, HanTer - Menteri Pemuda dan Olahrga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali menerima Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu di ruang kerjanya, lantai 10, Gedung Graha Pemuda, Senayan Jakarta Pusat, Selasa (5/4/2022) sore.

Turut hadir dalam pertemuan ini, Kepala Biro Penelaahan Permohonan LPSK, Muhammad Ramdan, Tenaga Ahli LPSK, Pascalis Risdiana dan Rianto Wicaksono. Sementara Menpora Amali didampingi Stafsus Hubungan Pusat dan Daerah Dr. Dwijayanto Sarosa Putera dan Karo Humas dan Hukum Sanusi.

Kedatangan rombongan LPSK ini untuk membahas terkait kerjasama penanganan korban kasus kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat, Sumatera Utara. "Kami sedang menangani dan memberi perlindungan pada korban kerangkeng manusia di Langkat, Sumatera Utara, di rumahnya bupati Langkat," ujar Edwin Partogi Pasaribu melapor kepada Menpora Amali.

Dijelaskannya, kejadian ini terungkap ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) kepada bupati Langkat 19 Januari 2022 lalu dan ditemukan ada kerangkeng manusia.

Kemudian LPSK pro aktif menemui beberapa korban termasuk kunjungan lapangan. Hasilnya ditemukan 65 korban yang rata-rata usia masih muda, bahkan ada atlet tinju yang berprestasi.

“Kami mendapatkan sekitar 65 orang yang terkahir mendekam dalam kerangkeng itu dan sebagian besar anak muda. Bahkan diantara mereka ada yang cukup bagus prestasinya yakni atlet tinju, punya banyak penghargaan dan prestasi. Usianya masih 15 tahun," jelasnya.

Menurutnya, mereka yang masuk dalam kerangkeng tersebut bukan hanya karena permasalahan narkoba. Namun juga ada masalah yang lain seperti KDRT, judi dan kasus lainnya.

Edwin mengatakan, karena rumah bupati tersebut dianggap tempat rehabilitasi dan makan gratis, maka sebagian besar keluarga korban menitipkan anaknya ke tempat tersebut. "Sementara mereka di tempat itu diekploitasi, dipekerjakan di kebun sawit bupati, nyaris 24 jam. Dan mengalami penyiksaan luar biasa, lebih 20 tahun saya mendampingi korban ini. Ini yang buat ngilu," ceritanya.

Dengan demikian, karena mereka mengalami trauma psikologis, medis disaat sakit, pemulihan, sandang papan serta pekerjaan bagi mereka sehingga LPSK melakukan kerjasama dengan kementerian dan instansi terkait termasuk Kemenpora.

Halaman:

Editor: Hermansyah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tekuk Curacao 3-2, Peringkat Timnas Indonesia Naik!

Sabtu, 24 September 2022 | 22:49 WIB

Indonesia vs Curacao, Cuco Martina: Kami Siap Buktikan

Sabtu, 24 September 2022 | 08:07 WIB
X