Tsunami Selat Sunda: 429 Tewas, 154 Orang Hilang

Sammy
Tsunami Selat Sunda: 429 Tewas, 154 Orang Hilang

Jakarta, HanTer - Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga Selasa (25/12), korban akibat tsunami 22 Desember di sekitar Selat Sunda, tercatat 429 tewas, dan 108 di antaranya adalah korban meninggal yang ditemukan jenazahnya di Lampung Selatan. BNPB juga mencatat 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.802 orang yang mengungsi di berbagai daerah. 

"Ada pula jenazah yang ditemukan di laut, karena mereka terbawa hanyut oleh gelombang," kata Sutopo dalam jumpa pers di Hari Natal di kantor BNPB, Jakarta.

Jenazah-jenazah di laut itu ditemukan oleh beberapa kapal angkatan laut yang dikerahkan di sekitar Selat Sunda.

Jumlah 429 korban tewas tersebar di 5 kabupaten, Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. 

"Kalau dilihat dari tingkat kerusakan, Pandeglang paling parah, dengan 290 orang meninggal dunia. Lampung selatan 108 orang, Kabupaten Serang 29 orang, Pesawaran dan Tanggamus masing-masing 1 orang," kata Sutopo.

Patah Tulang

Puluhan korban yang terluka akibat terjangan tsunami di Pantai Carita, Pandeglang, Banten hingga kini masih ditangani intensif di RSUD Tarakan, Cideng, Jakarta Pusat.

Direktur Utama RSUD Tarakan, Dian Ekowati mengatakan, saat ini seluruh korban luka-luka sudah tertangani. Umumnya mereka mengalami luka sobek hingga patah tulang.

"Untuk yang di IGD ada dua orang, dioperasi enam orang. Sedangkan di ruang rawat inap ada 41 orang," ujar Dian di RSUD Tarakan, Selasa (25/12/2018).

Berpotensi Longsor 

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Rahmat Triyono menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih cukup signifikan dan berpotensi bisa timbulkan longsor. 

Terkait hal itu, BMKG pun memanfaatkan sensor-sensor seismograf untuk mencatat aktivitas dari Gunung Anak Krakatau tersebut.

"Pada saat kejadian 22 Desember kemarin sensor-sensor ini juga merekam tetapi merekamnya bukan gempa bumi, dan sangat kecil memang, tidak ada manusia yang rasakan getaran itu," kata Rahmat saat konferensi pers di gedung BMKG, Selasa (25/12) malam.

Menurut dia, dengan memanfaatkan seismograf tersebut diharapkan dapat memberikan peringatkan kepada masyarakat di sekitar Selat Sunda. 

"Karena itu dengan seismograf yang dimiliki BMKG, dengan mengepung Gunung Anak Krakatau diharapkan bisa mencatat kalau satu sensor mencatat itu setelah diatur dia akan mengeluarkan alarm. Kalau dua minimal tiga kita bisa mengetahui di mana posisi, sumber getaran itu tadi. Apalagi kalau enam-enamnya mencatat," tuturnya.

Ia menyatakan bahwa cara tersebut kemungkinan yang paling efektif untuk saat ini karana potensi longsor Gunang Anak Krakatau masih mungkin terjadi.

"Sehingga dengan kami bisa memonitor gerakan itu tadi. Katakan lah pada 22 Desember kemarin setara dengan magnitudo 3,4, kalau ini mungkin 3,4 sampai 3,5 ke atas bisa jadi BMKG memberikan peringatan untuk sekitar Selat Sunda," ujar Rahmar.